Fatimah Binti Muhammad
March 4, 2008
rahmadona
LAHIR bersamaan dengan terjadinya peristiwa agung yang menggoncangkan Makkah, yaitu peristiwa peletakkan Hajarul Aswad disaat renovasi Ka`bah. Julukannya adalah al-Batuul, yaitu wanita yang memutuskan hubungan dengan yang lain untuk beribadah atau tiada bandingnya dalam keutamaan ilmu, akhlaq, budi pekerti, kehormatan dan keturunannya.
Ketika Fathimah beranjak dewasa, Abu Bakar dan Umar bergiliran untuk meminangnya namun Rasulullah SAW dengan halus menolaknya. Dan kemudian ia dinikahkan Rasulullah SAW dengan Ali bin Abi Thalib ra dengan mahar berupa baju besi pemberian Rasul atas perintah Allah SWT . Ali bin Abi Thalib ra.bercerita bahwa disaat ia menikahi Fatimah, tiada yang dimilikinya kecuali kulit kambing yang dijadikan alas tidur pada malam hari dan diletakkan di atas onta pengangkut air pada siang hari.
Kemudian Rasulullah SAW membekali Fatimah dengan selembar beludru, bantal kulit yang berisi sabut, dua buah penggiling dan dua buah tempayan air. Saat itu mereka tak memiliki pembantu, maka Fatimahlah yang menarik penggiling itu hingga membekas ditangannya, mengambil air dengan tempat air dari kulit biri-biri hingga membekas dipundaknya dan menyapu rumah hingga pakaiannya terkotori oleh asap api.
Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra. Didapatinya Fatimah sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fatimah berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fatimah melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘ali (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.
Mendengar perkataan puterinya tersebut Rasulullah SAW menghiburnya seraya bersabda kepada anandanya, “jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.
Manakala Ali mengetahui bahwa Rasulullah SAW memperoleh banyak pelayan, ia berkata kepada Fatimah agar meminta kepadanya seorang pelayan. Namun Rasulullah SAW tidak mengabulkannya dan sebagai gantinya beliau mengajarinya beberapa kalimat do`a, yaitu membaca tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing 10x setelah sholat dan mengajarkan untuk membaca tasbih 30x, tahmid 30x dan takbir 34x ketika hendak tidur. Ketika pulang, Ali pun bertanya, “Apa yang kau dapatkan wahai fatimah?”. Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk urusan dunia dan aku pulang dengan mendapatkan bekal akhirat.”
Demikianlah hingga sepanjang hidupnya Fatimah jalani sesuai dengan yang dinasehatkan oleh Rasulullah SAW kepadanya, konsisten dalam kebaikan dan mengakhiri hidupnya setelah menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Salah satu doa yang senantiasa dipanjatkan olehnya, “Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas penciptaanku dan jangan Kau biarkan aku disibukkan oleh urusan selainnya”. Subhanallah, Fatimah meninggal ketika ia telah menyelesaikan tugas hidupnya berbakti pada orangtua (Rasulullah SAW), suami dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang tercatat kemuliaannya oleh sejarah.
Dari pernikahan Ali dan Fatimah, Rasulullah SAW memperoleh 5 orang cucu, Hasan, Husein, Zainab, Ummi Kultsum dan yang satu meninggal ketika masih kecil. Fathimah telah meriwayatkan hadits Nabi SAW sebanyak 18 buah. Beliau wafat pada usia 29 tahun dan dikebumikan di Baqi` pada selasa malam, 3 Ramadhan 11 H.
Hikmah yang bisa kita ambil dari cerminan kehidupan Fatimah :
- Kesuksesan itu adalah ketika seseorang berproses secara konsisten mencapai cita-cita yang mulia (dalam bingkai Islam) dan kesuksesan itu terlihat pada bagaimana seseorang itu mengakhiri hidupnya dengan baik.
- Sesungguhnya kesuksesan seorang perempuan terletak pada kecerdasan dalam mencari posisi sesuai dengan kondisi (kekurangan & kelebihannya) dan optimal di dalamnya.
Kuncinya : Kenali karakter dan potensi diri, jadikanlah fitrah dari Allah SWT sebagai aktualisasi diri, kemudian berbuatlah lebih banyak dengan dibingkai ajaran islam. Dekatkan diri kepada Allah SWT agar memperoleh kekuatan ruhani (hati), sumber kekuatan yang sebenarnya. Wallahu A’lam***
*) Sumber : Kisah Teladan & cerita Islami di internet,
Buku “Karena Engkau Perempuan” (FLP Yogyakarta),
Buku “Kisah Fatimah az-Zahra (Abbas Azizi)
*dipublish juga pada weblog: www.rahmadona.wordpress.com
Entry Filed under: Muslimah
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
Ahmad Nur Irsan Finazli | March 6, 2008 at 2:36 am
Cocok, nih. JIka disampaiakn dalam rangka hari perempuan se-dunia tanggal 8 Maret besok..he he he. Selamat, ya. Selamat presentasi untuk menebar manfaat via tulisan.