Archive for July 4th, 2008
Survive Hadapi Masa Krisis
Oleh : Rahmadona Fitria*
SEMARAK peringatan hari Kebangkitan Nasional baru saja berlalu. Virus semangat untuk bangkit dan optimisme terhadap masa depan pun terasa menyentuh hati seluruh anak negeri. Akan tetapi rupanya spirit kebangkitan itu hanya bisa dinikmati sesaat, karena tiba-tiba kenaikan BBM menjadi mimpi buruk yang mampu menghapus secercah harapan yang ditiupkan dari semarak peringatan hari kebangkitan nasional.
Maka tidak mengherankan jika kemudian di mana-mana diwarnai dengan aksi menentang kebijakan mengenai kenaikan BBM. Mereka meneriakan rintihan rakyat kecil yang semakin menderita akibat kebijakan tersebut. Apa boleh buat, toh pemerintah sudah menyiapkan BLT sebagai kompensasinya. Menurut pakar psikologi Sartono Mukadis, sebenarnya masyarakat sudah bisa memahami kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Jadi menurutnya yang gelisah bukan rakyat tapi elit politik.
Mengingat fakta bahwa sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir yang disebabkan kemiskinan dan himpitan ekonomi, menuai kekhawatiran kalau kenaikan BBM akan memicu meningkatnya jumlah orang yang mengakhiri hidup dengan sengaja.
Menurut Ketua LBH Kesehatan Iskandar Sitorus, pada tahun 2005 setelah harga BBM dinaikkan, dua bulan kemudian RS Jiwa menjadi overload. Riset Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan di Jakarta menyebutkan, potensi kenaikan jumlah penderita gangguan jiwa bisa naik hingga 40 persen (angka ini diambil dari statistik November 2005). Selain itu, pada tahun 2007 LBH Kesehatan juga mengutip data kelompok Advokasi Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia yang menyebutkan 12 persen dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Menurut Iskandar, penyebab gangguan jiwa terbesar karena keterbatasan ekonomi dan jika tidak tertangani secara baik akan berpotensi mengakibatkan penderita terdorong untuk bunuh diri.
Beragam aksi menentang kenaikan BBM mungkin sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap penderitaan masyarakat. Tapi jika aksi-aksi tersebut diwarnai tindakan kekerasan dan merusak, bukan solusi yang didapat, justru akan menimbulkan konflik baru yang memperburuk keadaan. Tujuan untuk meringankan penderitaan masyarakat akhirnya tidak bisa dicapai, sebaliknya perhatian akan berbalik tertuju pada konflik baru.
Setiap orang mempunyai naluri kemanusiaan yang terwujud dalam bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama. Ada banyak cara yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap permasalahan yang terjadi. Kepedulian seperti apa yang kira-kira tepat sebagai solusi dan sesuai dengan kebutuhan ?
Empati dan kepedulian dapat disalurkan melalui kegiatan sosial, sumbangan pemikiran melalui tulisan, bagi yang mampu dengan ilmu dapat mengajarkannya kepada masyarakat dengan memberikan pelatihan, mengadakan seminar atau kegiatan lainnya yang bermanfaat. Lakukanlah hal-hal yang mampu kita kerjakan untuk meringankan permasalahan yang terjadi disekitar kita demi kebaikan sesama manusia tanpa ada maksud-maksud tertentu dibalik itu. Biarlah Allah Swt saja yang memberikan imbalan atas perbuatan baik yang kita lakukan.
Keterpurukan akibat krisis yang merambah ke segala aspek kehidupan, membuat kita harus selalu senantiasa siap menghadapinya (this is not the end of the world). Kesadaran bahwa apa yang sedang kita jalani saat ini adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah kehidupan. This is the starting point for the new hope, kita dilahirkan untuk berjuang (born to fight) dan setiap manusia dibekali kemampuan untuk survive (bertahan) dalam menjalani kehidupan. Sikap optimis dalam menghadapi apa pun yang terjadi menjadi modal penting untuk bangkit dan berprestasi. Kunci penting dalam menciptakan atmosfer yang kondusif bagi diri dan lingkungan untuk survive adalah motivasi positif yang ada pada masing-masing individu.
Daripada setiap orang sibuk meramaikan opini negatif tentang kenaikan BBM bukankah akan lebih bijaksana jika berbagai pihak berusaha menciptakan suatu solusi bagi permasalahan ini, bahkan dalam wujud yang sederhana ? Misalnya dengan berpenampilan bersahaja, berhemat (menghindari pemborosan), senang berbagi (dermawan) sebagai wujud nyata kepedulian dan empati terhadap permasalahan yang saat ini terjadi.***
*) Konsultan remaja
lembaga psikologi ‘Mitra solusi’ Banjarbaru, weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com
3 comments July 4, 2008
Semangat Kebangkitan Nasional
Oleh : Rahmadona Fitria*
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan salah satu peristiwa bersejarah di negeri kita tercinta, Indonesia. Ada sebuah pernyataan inspiratif dalam salah satu iklan ditelevisi yang bunyinya kurang lebih begini; “Ada banyak cara memaknai hari kebangkitan nasional. Ada banyak cara berbakti untuk negeri”. Siapa pun bisa memberikan kontribusi manfaat bagi negeri, sesuai dengan kompetensi masing-masing dalam rangka memperingati 100 tahun ‘Hari Kebangkitan Nasional’.
Setiap manusia tentunya dilahirkan ke dunia ini dengan dibekali potensi (kemampuan) masing-masing sebagai karunia dari Allah Swt. Ada yang memiliki potensi di bidang pendidikan, di bidang sosial, di bidang kesenian, di bidang menulis, dan berbagai bidang lainnya. Maka hendaknya setiap orang mengenali kelebihan dirinya dan mendalami suatu bidang yang dirasakan paling mampu ia kuasai. Karena setiap manusia akan dimudahkan oleh Allah Swt pada setiap kemampuan yang telah diciptakan untuknya. Kemudian memfungsikan kemampuan tersebut sesuai dengan tempatnya, baik berupa ilmu atau profesi.
Dalam sebuah organisasi yang bergerak di bidang apapun, alangkah bijaksana jika setiap anggotanya dapat berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Setiap orang berbuat atau mendapatkan tugas sesuai dengan kemampuan di bidangnya, melakukan hal-hal yang mampu dikerjakan untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Seseorang yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidangnya akan termotivasi melakukannya, tekun dan menganggap apa yang ia lakukan itu penting. Sebaliknya, menerima atau mengerjakan tugas yang tidak sesuai dengan kemampuan di bidangnya hanya akan menghasilkan kinerja yang tidak maksimal dan menghambat jalan organisasi, sekalipun ia tahu pekerjaan itu penting bagi dirinya, bagi orang yang menyuruhnya, dan bagi kepentingan orang banyak.
Mari kita renungkan sejenak apa yang terdapat dalam sebuah hadist, Abu Musa Ra berkata,”Rasulullah Saw bersabda,”Seorang mu’min bagi mu’min yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari Muslim). Dalam segala aspek, semestinya potensi setiap manusia atau setiap anggota (dalam sebuah organisasi) mengarah kepada upaya saling menguatkan satu dengan yang lain, bukan saling melemahkan dan menjatuhkan atau menguasai. Potensi pada masing-masing bidang (politik, ekonomi, sosial, kesenian, penulisan, dsb) jika difungsikan dengan benar, niscaya menjadi kekuatan yang luar biasa menggetarkan. Sehingga kinerja setiap orang atau anggota organisasi akan lebih optimal dan mencapai hasil yang dirasakan kontribusi manfaatnya bagi kepentingan orang banyak.
Seseorang yang mendapatkan tugas tidak sesuai dengan potensi di bidangnya, ibarat robot yang melakukan sesuatu karena diatur tanpa ‘sense of belonging’ (merasa memiliki) terhadap pekerjaan tersebut. Akhirnya kerugian ada di dua pihak. Wajar jika hasilnya kurang maksimal, tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan organisasi. Rasulullah Saw bersabda, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran” (Al-Hadits).
Realitanya, kita sering menjumpai orang yang melakukan pekerjaan berdasarkan kesempatan (lowongan) yang ada atau pekerjaan yang dianggap prestise (bergengsi) di mata masyarakat. Sebaiknya hindari melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan potensi, lebih baik mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang yang ditekuni dan memperoleh hasil optimal.
Orang yang sukses akan selalu menjaga potensi dirinya sehingga profesional di bidangnya. Seremeh apapun pekerjaan yang dilakukan seseorang jika sesuai dengan bidang yang ia tekuni, maka ia akan menikmati, bersemangat mengerjakannya, dan menganggap pekerjaan itu penting. Jika setiap orang bergerak dan berbuat untuk tujuan kebaikan sesuai dengan kemampuan di bidangnya, betapa besar kontribusi manfaatnya bagi negeri. Dengan semangat kebangkitan nasional, mari optimalkan potensi diri!***
*) Konsultan remaja
lembaga psikologi ‘Mitra solusi’Banjarbaru,
Add comment July 4, 2008