Posts filed under 'Mendidik'
Kecerdasan Super
Orangtua mana yang tidak bangga jika melihat berbagai kemajuan yang telah dicapai anak dalam masa pertumbuhannya. Suatu ketika saya dan suami berbincang, ia teringat pada kejadian dimana ia menceritakan tentang beberapa kemajuan yang dicapai oleh anak pertama kami kepada saudaranya. Maka saudaranya itu pun bertanya, “Sudah hafal berapa juz ?”.
Sekarang saya baru memahami makna dibalik pertanyaan tersebut dan sepakat dengan suami kalau pertanyaan itu kini justru menjadi bahan koreksi bagi kami tentang makna kemajuan dalam pendidikan anak yang seharusnya dicapai oleh seorang anak muslim.
Ya, seringkali kita keliru memaknai kemajuan-kemajuan yang dicapai anak lalu mengkaitkannya dengan kecerdasan. Banyak orang salah kaprah dalam memahami pengertian dari kecerdasan. Ada yang menganggap anak yang cerdas adalah anak yang pintar ilmu matematika atau sains. Ada pula yang menilai kecerdasan anak hanya pada sisi prestasi akademik yang diperoleh anak disekolah.
Sudah saatnya kita meluruskan pemahaman yang keliru mengenai pengertian dari kecerdasan. Kemajuan yang dicapai oleh seorang anak muslim akan dinilai sebagai suatu kecerdasan atau prestasi yang membanggakan apabila ia telah mampu menghafal Al Qur’an, minimal juz 30 atau populer dengan istilah juz’ amma. Kenapa ? Karena Al Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu.
Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk memperkenalkan Al Qur’an sejak dini. Begitu pula para sahabat Rasulullah mengikuti jejak beliau dalam mendidik anak-anak mereka untuk dekat dengan Al Qur’an. Menghafal Al Qur’an menjadi pijakan pertama bagi para pendidik dalam mengasah awal kecerdasan generasi islam.
Setelah anak diarahkan untuk mengenal Al Qur’an kemudian mampu menghafalnya barulah masuk ketahap pendidikan selanjutnya yakni mengajarkan anak pada ilmu-ilmu lainnya dan mendukung mereka dalam menekuni bakat atau kecenderungannya terhadap bidang tertentu.
Jadi sekali lagi, bahwa memperkenalkan dan menghafal Al Qur’an dalam mendidik generasi islam pada awal tumbuh kembang mereka adalah lebih utama dan merupakan prestasi yang mengagumkan dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Lebih baik lagi jika hal itu dilakukan sebelum mereka mencapai usia baligh atau usia 10 tahun. Sedangkan usia 7 tahun adalah masa yang efektif dalam melatih anak untuk menghafal Al Qur’an.
Alangkah baiknya jika pada usia pra baligh anak diarahkan untuk fokus dalam mengenal dan menghafal Al Qur’an. Kandungan ilmu dalam Al Qur’an akan membimbing akal dan jiwa anak.***
1 comment January 9, 2008
Buat Apa Belajar ?
Ada kenikmatan tersendiri saat mendampingi anak belajar, terutama ketika anak ada ulangan umum disekolah. Jauh sebelum diadakannya ulangan umum aku sudah menanamkan kecintaan akan belajar pada anak pertamaku yang sekarang kelas satu di SDIT Robbani Banjarbaru. Sehingga jangan heran jika setiap harinya ia akan dengan senang dan gembira membaca kembali buku pelajaran tanpa harus disuruh-suruh. Bahkan bisa jadi hiburan pengantar tidurnya.
Aku pernah berpesan kepadanya agar ia belajar karena senang belajar. Karena Allah Swt dan Rasulullah mencintai orang-orang yang senang belajar. Bahwa dengan belajar hidupnya akan sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita bagaimana menanamkan kecintaan belajar anak dengan menjelaskan banyaknya manfaat yang diperoleh dari belajar kepada anak. Sehingga belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan lebih terasa manfaatnya bagi anak.
Alhamdulillah, dari aktivitas menulis ada saja tambahan ilmu yang kuperoleh ketika mencari bahan tulisan melalui bacaan. Seperti konsep tentang belajar yang pengertiannya dulu masih terbatas pada tempat. Artinya belajar itu ya disekolah atau lembaga pendidikan lainnya, kalau belajar dirumah terbatas pada aktivitas mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah atau mengulangi membaca buku pelajaran yang sudah diajarkan disekolah.
Sementara aktivitas lain seperti membaca buku diluar buku pelajaran sekolah, nonton tv, bermain game atau aktivitas bermain anak lainnya tidak dianggap sebagai kegiatan belajar. Padahal konsep tentang belajar saat ini sudah sedemikian berkembang dengan adanya berbagai penelitian dan penemuan.
Sebutan ‘rumah cerdas’ menjelaskan kepada kita bahwa semua kegiatan dirumah bisa menjadi sarana belajar bagi anak. Belajar dirumah tidak harus identik dengan mengulangi pelajaran sekolah sambil duduk manis, serius tanpa adanya gangguan. Bagaimana anak mau senang belajar jika suasana belajar terkesan menegangkan dan membosankan.
Padahal fakta terbaru tentang konsep belajar mengatakan, belajar juga melibatkan fungsi emosional anak. Jika tercipta suasana menyenangkan dalam situasi belajar maka akan membangkitkan kegembiraan dan semangat anak terhadap aktivitas belajar. Sehingga berdampak positif pula bagi anak dalam menerima pelajaran dengan mudah. Satu lagi, anak pun akan menyukai aktivitas belajar tanpa harus dipaksa atau merasa terpaksa.
Rumah dapat menjadi sarana belajar bagi anak, apabila dirancang untuk mendukung aktivitas belajar. Anak tidak perlu disuruh apalagi dipaksa belajar mengikuti aturan waktu dan jadwal mata pelajaran tertentu. Asalkan situasi belajar tersebut sudah memenuhi syarat yang melibatkan fungsi emosional anak, yaitu adanya unsur permainan dan hiburan. Maka anak dengan sendirinya akan terkondisikan untuk belajar dan bisa menerima pelajaran dengan efektif.
Seperti halnya anak pertama saya, ia bebas saja menentukan apakah mau nonton tv atau main game dikomputer atau baca buku cerita atau membaca buku pelajaran sekolah. Karena semua media yang ada dirumah sedapat mungkin mengandung unsur mendidik dan belajar, sehingga turut menyulut keinginan dan kecintaan anak terhadap kegiatan belajar.
Televisi dirumah kami digunakan untuk menonton CD edukatif karena lebih bermanfaat dalam mendukung kegiatan belajar anak. Kami sengaja tidak memasang antena tv karena menyadari dampak negatifnya bagi perkembangan akal dan jiwa anak. Begitu pula dengan komputer, CD games edukatif jadi pilihan belajar sekaligus bermain yang menarik bagi anak. Tidak ketinggalan buku-buku cerita menarik yang menambah wawasan dan pengalaman anak tanpa mengabaikan unsur edukatif sekaligus menghibur.
Keadaan lingkungan baik di dalam maupun di luar rumah juga dapat mendukung kegiatan belajar dan menyulut keinginan belajar anak. Di halaman rumah yang luas anak bisa mengamati hijaunya dedaunan dan rerumputan, mengamati cacing dan semut ditanah, menghitung batu-batu yang berserakan, membentuk pasir dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.
Sedangkan di dalam rumah, kita bisa mendukung kegiatan belajar anak tanpa banyak larangan. Itulah pentingnya menciptakan situasi yang aman bagi anak bukan sebaliknya, menghambat kreatifitas dan minat mereka yang sebenarnya wajar pada masa tumbuh kembangnya. Di sini diperlukan pengertian dan kesabaran setiap orangtua serta orang dewasa lainnya.
Kenyataannya, masih banyak orangtua yang menganggap aksi corat-coret anak yang sedang gemar menggambar dan mewarnai sebagai suatu ancaman daripada memandangnya sebagai sebuah kreatifitas. Sehingga reaksi yang muncul adalah perilaku steril yaitu menjauhkan anak dari berbagai alat tulis, mulai dari pulpen, pensil, spidol dan media pewarna lainnya.
Padahal perilaku steril hanya akan membuat anak merasa penasaran dan semakin tertantang untuk melakukan suatu perbuatan. Melarang atau menjauhkan anak dari suatu perbuatan yang sebenarnya dapat menjadi sarana memperkaya pengalaman dan belajar anak hanya akan meninggalkan dampak negatif pada anak. Kalau tidak menjadi anak yang susah diatur karena kebutuhan pada masa perkembangannya tidak terpenuhi, atau sebaliknya menjadi anak yang lemah kemauan karena mengalami hambatan perkembangan akibat terlalu banyak dibatasi.
Yang terakhir, aku juga pernah berpesan kepada anak pertamaku agar tidak menjadikan nilai sebagai ukuran bodoh atau pintarnya seseorang. Yang mana ketika anak memperoleh nilai bagus ia akan merasa bangga dan istimewa, sedangkan apabila ia mendapat nilai kurang bagus atau jelek akan merasa bersalah, rendah diri bahkan menganggap kalau dirinya memang bodoh. Sehingga menimbulkan perilaku atau sikap diri negatif dan orientasi belajar yang salah. Belajar dan sekolah jadi identik sekedar untuk mengejar nilai dan ijazah. Karena itu lahirlah generasi yang SDM nya serba kekurangan, kurang berkualitas dan kurang kreatifitas.
Setiap anak perlu diajarkan untuk menyukai dirinya dan menjadi dirinya sendiri dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Dengan kelebihannya ia akan dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Sedangkan dengan kekurangannya ia belajar berusaha memperbaiki diri dan kesalahannya.
Berkaitan dengan nilai yang ia peroleh dari sekolah, sebaiknya anak diberikan pengertian bahwa apabila ia mendapat nilai bagus tandanya ia bisa menerima dan memahami pelajaran dengan baik. Adapun ketika ia mendapat nilai jelek atau kurang bagus tandanya ia harus lebih konsentrasi dan lebih giat belajar.
Sangat penting memberikan pengarahan kepada anak bahwa dengan belajar dan pelajaran yang ia dapat disekolah akan membantunya menjalani kehidupan serta menyelesaikan berbagai persoalan yang ia hadapi. Orang yang pintar adalah orang yang benci terhadap kebodohan karena itu ia cinta akan ilmu dan senang belajar serta senantiasa memperbaiki diri. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang benci menuntut ilmu dan malas belajar karena itu ia pun enggan memperbaiki diri dan mempertahankan kekurangan dirinya, sehingga kebodohan tetap melekat erat pada dirinya.
Dengan pengertian dan pengarahan tadi diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak untuk senang belajar serta menjadi jawaban atas pertanyaan tentang tujuan sebenarnya buat apa anak-anak perlu belajar, semoga !***
*Penulis OPINI pada HU.RADAR BANJARMASIN,
& Research Assosiate bidang pengembangan anak pada Lembaga Psikologi Solusi Global Banjarbaru
email: rahmadona07@yahoo.co.id
weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com
Add comment January 9, 2008
Belajarku Dari Menulis
ALHAMDULILLAH, aku merasa lebih mudah menikmati aktivitas mendampingi masa tumbuh kembang anak-anakku, sekarang. Penemuan nilai-nilai positif dalam sistem pendidikan homeschooling (HS) yang sejalan dengan prinsip mendidik dalam Islam, benar-benar dapat menyentuh kesadaran emosi dan pikiranku. Selain itu mungkin berkurangnya beban mengasuh, karena anak yang terkecil sudah berusia dua tahun dan sudah disapih. Sehingga perhatian tidak lagi terpusat hanya pada sikecil yang membutuhkan perhatian plus ketergantungan ekstra.
Aku sudah mulai memperhatikan kembali perkembangan dan kebutuhan semua anak-anakku. Aku juga mulai membuat rencana yang kemungkinan bisa direalisasikan bersama dalam aktivitas mendidik. Mata hatiku pun dengan ringan dapat menerima kenyataan, setiap anak memiliki kebutuhan pendampingan yang berbeda. Bagaimanapun adanya mereka, bagiku mereka semua istimewa dan punya tempat yang sama dihatiku. Aku berharap ini sunguh-sungguh akan menjadi awal perubahan besar yang berarti dalam perjalanan mendampingi masa tumbuh kembang anak-anakku tercinta.
Tidak pernah kusangka, aku belajar banyak dari aktivitas menulisku. Berawal dari ‘menceburkan diri’ dengan tulisan-tulisan bertema pendidikan anak. Ternyata justru membuatku ‘terlanjur basah’ dan benar-benar jadi jatuh cinta lagi pada dunia anak. Pandangan terhadap anak pun berubah, mereka bukan sekedar manusia mini yang perlu didampingi tapi menurut Rasulullah Saw seandainya kita mampu melihat rahasia dibalik balutan tubuh kecilnya, maka kita akan menyadari kalau mereka adalah calon pemimpin umat, pembela agama Allah Swt pada zaman yang diperuntukkan bagi mereka. Bahkan masa depan kita diakhirat juga ditentukan dari bagaimana kita mendidik mereka dan apakah mereka sudah menjadi generasi seperti yang diinginkan oleh Allah Swt.
Akhirnya aku menyadari bahwa ini adalah peran dan tugas seorang perempuan seumur hidup hingga ajal menjemput. Aku mulai belajar ber-empati terhadap kesulitan yang mereka hadapi dan peduli terhadap kebutuhan mereka dalam hal pendidikan. Siang malam aku mulai sibuk memikirkan segala rencana untuk memenuhi keperluan pendidikan bagi mereka. Aku ingin memberikan yang terbaik dan mendidik mereka seperti yang diinginkan sang penguasa diri setiap manusia, Allah Swt. Insya Allah !
Nilai-nilai yang kuperoleh dari bacaan dan tulisanku tentang sistem pendidikan homeschooling begitu kuat mempengaruhi perasaanku. Aku mulai belajar menata emosi supaya ketika marah tidak sekedar menumpahkan kekesalan pada anak tapi mengandung muatan yang menunjukkan apa sebaiknya mereka lakukan untuk meluruskan kesalahan perilakunya. Aku mulai belajar memahami, aktivitas mendidik memerlukan adanya sentuhan jiwa.
Itulah kiranya jawaban mengapa seorang ibu dikatakan sebagai ruh dalam keluarga, ketika ia memiliki jiwa pendidik. Jika seorang ibu memiliki jiwa pendidik, ia akan bertanggung jawab penuh dalam menjalankan perannya, lebih baik daripada para guru disekolah manapun. Aktivitas menulisku kini tidak sekedar sebagai identitas dan aktualisasi diri tapi juga mendukung tugas utama dalam mendampingi masa tumbuh kembang dan aktivitas mendidik anak-anakku tercinta. Insya Allah!***
Add comment January 9, 2008
Homeschooling Dan Al Ummu Madrasatun
Oleh : Rahmadona Fitria
ORANGTUA tidak dapat mengelak terhadap tanggung jawab mendidik anak-anaknya. Hal ini menjadi perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (yang) bahan bakarnya adalah manusia dan batu; dijaga oleh malaikat yang keras dan kasar, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan.”
Menurut Sayidina Ali maksud firman Allah tersebut adalah ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu. Pendapat lain menafsirkan, seorang muslim hendaklah mendidik diri dan keluarganya, memerintah mereka agar melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Firman Allah pada surat At-Tahrim ayat 6 tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab mendidik dibebankan sepenuhnya dipundak orangtua. Orangtua wajib menunaikan hak anak untuk di didik dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana anak pun memiliki kewajiban dalam menunaikan hak orangtua.
Rasulullah Saw bersabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya.” Artinya setiap manusia memiliki tanggung jawab yang wajib ditunaikan. Orangtua membawa pengaruh yang sedemikian besar terhadap kehidupan anak. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.”
Wajarlah jika anak semasa kecilnya disia-siakan, diabaikan dalam hal pembinaan, pengajaran dan pendidikannya akan menjadi orang yang tidak berguna baik untuk dirinya sendiri atau pun orangtuanya. Orangtua sebagai penanggung jawab pendidikan pertama akan menanggung dosa jika anak berkelakuan buruk. Sebagaimana halnya orangtua pun akan mendapat ganjaran kebaikan apabila anaknya menjadi anak sholeh.
Upaya perbaikan dan pemeliharaan dalam mendidik anak hendaknya senantiasa dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus, seperti yang dicontohkan para nabi dan Rasulullah Saw. Bertahap dan bersabar dalam pembiasaan agama dan kebaikan seperti ia melatih dua hal tersebut terhadap dirinya sendiri. Selalu optimis dalam proses mendidik, jika menemui hambatan dalam merealisasikan suatu pembiasaan pada hari ini, insya Allah masih ada harapan akan terlaksana keesokan harinya.
Jika pada zaman Rasulullah dan sahabat, para orangtua dengan penuh semangat mendorong anak-anak mereka untuk menuntut ilmu kepada orang-orang sholeh lagi kaya ilmu, maka realisasi dari tanggung jawab mendidik para orangtua zaman kini adalah dengan memasukkan anak kesekolah untuk memperoleh ilmu. Bahkan muncul sebuah pendidikan alternatif yang populer dengan nama homeschooling (HS).
Salah satu alasan kebanyakan orangtua memilih pendidikan dengan sistem HS adalah kesadaran untuk memberikan pendidikan terbaik sekaligus mengembangkan potensi anak. Tapi bagi saya sistem HS ini menjadi menarik dan berkesan karena konsep HS itu sendiri adalah mengembalikan lagi tanggung jawab orangtua sebagai pendidik pertama dengan ibu sebagai guru bagi anak. Ini sejalan dengan prinsip mendidik dalam Islam, yakni surat At-Tahrim ayat 6 dan pepatah Arab yang mengatakan Al Ummu Madrasatun (ibu adalah sekolah) bagi anak-anaknya.
Rumah dan keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus tempat yang paling aman dalam mendidik generasi. Para ibu adalah ruhnya, ia memegang peranan penting sebagai guru, sekolah dan tempat tinggal yang menyenangkan bagi keluarganya. Sistem HS mengembalikan kesadaran akan peran itu kembali kepada para ibu sesuai sabda Rasulullah Saw bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki (didikan) para ibu.
Saya pikir pendidikan dengan sistem HS akan banyak membantu para ibu terkondisikan untuk senantiasa terjaga memposisikan dirinya sebagai teladan yang baik, karena dirinya sendirilah guru dan sekolah bagi anak-anaknya. Sebagaimana para guru yang senantiasa terlihat manis disekolah karena memposisikan dirinya sebagai guru yang perilakunya tentu menjadi teladan dan akan ditiru oleh murid-muridnya.
Sistem pendidikan HS selain membangkitkan jiwa pendidik tentunya juga dapat meningkatkan kepercayaan diri para ibu yang kini cenderung rendah dalam menyandang predikat ibu rumah tangga. Kaum ibu dalam sistem pendidikan HS dibekali dengan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk membantunya melaksanakan tugas mendidik, layaknya guru disekolah. Dengan begitu para ibu dapat mengoptimalkan sifat-sifat istimewanya dan mengembangkan kreatifitas dalam mendidik dirinya menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya.
Pada akhirnya sistem pendidikan HS ini bisa menjadi sebuah solusi dalam mengoptimalkan partisipasi kaum ibu dalam bidang yang sesuai dengan kompetensi dan fitrah kewanitaannya sekaligus membantu meningkatkan kualitas pendidikan generasi penerus. Insya Allah!***
*) Buat abangku dan suami tercinta, thank’s ya sudah bantu berburu info tentang homeschooling. Jazakallah khairan katsira.
1 comment November 22, 2007
Mendidik Dengan Ilmu
Oleh : Rahmadona Fitria
Disadari atau tidak, seringkali kita menganggap remeh anak kecil. Kita terlanjur menyimpulkan bahwa anak-anak akan mengerti sendiri baik atau buruk kalau mereka sudah besar. Lalu kita pun terlena dan lalai terhadap tanggung jawab mendidik. Padahal pemahaman terhadap baik buruk hanya akan diperoleh melalui pembinaan bertahap dan terus menerus. Kebaikan akan menjadi kebiasaan apabila dilatih secara berkesinambungan.
Kendala berupa beban lahir batin dalam mengatur anak yang masih kecil membuat kita menganggap wajar saja membiarkan mereka tumbuh tanpa pembinaan. Kita mengira jika menunda pembinaan tersebut hingga anak berada pada tahapan usia tertentu akan lebih mudah mengarahkannya dan pada akhirnya anak mengerti lalu mengerjakan kebaikan tersebut. Semudah itukah ? Seolah-olah kita tutup mata, telinga dan hati kita terhadap kenyataan bahwa justru semakin besar anak akan semakin sulit dibentuk.
Dalam buku ‘Cara Nabi Mendidik anak’ terungkap sebuah rahasia fakta tentang konsep Islam mendidik anak sejak usia dini. Dikatakan bahwa anak kecil hatinya masih putih bersih. Dalam keadaan yang masih fitrah (suci), anak-anak lebih mudah menerima kebaikan dan kebenaran. Apabila sejak kecil, anak-anak sudah dibina dengan kebiasaan-kebiasaan baik maka kebaikan itu akan menetap pada dirinya hingga ia dewasa.
Ternyata masa kanak-kanak yang panjang itulah justru kunci keberhasilan mendidik umat Islam di zaman Rasulullah Saw, sahabat dan orang-orang sholeh sesudahnya. Sehingga lahirlah generasi-generasi penerus Islam yang tercatat sejarah kemuliaan dan kejayaan dirinya. Seperti antara lain Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, serta Hasan dan Husain cucu Rasulullah Saw.
Dalam suatu riwayat disebutkan anak pada fase prabaligh belum dicatat amal baik dan buruknya oleh malaikat pencatat amal hingga ia berusia baligh. Masa kanak-kanak yang panjang pada fase prabaligh ini merupakan kehendak dan peluang dari Allah Swt untuk manusia mempersiapkan keturunannya agar nantinya mampu menghadapi segala tipu daya setan yang mengajak pada kesesatan. Sekaligus kesempatan untuk mendampingi dan mempersiapkan anak menuju fase baligh.
Di harapkan anak pada fase baligh telah mencapai kesempurnaan dalam menerima konsekuensi tanggung jawab, komitmen yang kuat terhadap tanggung jawab, dan memiliki kemampuan mengontrol serta mendidik dirinya sendiri. Oleh sebab itu fase prabaligh memegang peranan sangat penting dan menentukan bagi pendidikan anak pada tahap perkembangan selanjutnya yaitu fase baligh.
Sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa Islam hanya mengenal dua fase tumbuh kembang anak, yaitu fase prabaligh dan fase baligh. Fase prabaligh adalah masa dimana tidak dimunculkannya konsekuensi beban tanggung jawab bagi anak. Sedangkan fase baligh adalah masa menuntut adanya kemampuan memikul beban tanggung jawab. Fase prabaligh inilah yang menjadi landasan utama bagi Rasulullah Saw, sahabat, dan orang-orang sholeh dalam mendidik dan mengembangkan naluri fitrah (kesucian) akal serta pikiran anak-anak mereka.
Dalam membentengi dan mendidik kesucian akal pikiran keturunannya, Rasulullah Saw dan para sahabat sejak dini mengajarkan Al-Qur’an. Sehingga keadaannya yang masih fitrah itu senantiasa mudah menerima kebaikan dan kebenaran karena memiliki ikatan langsung dengan Allah Swt. Ketika tiba saatnya tuntutan terhadap kesiapan dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran tersebut, anak telah mempunyai komitmen yang kuat untuk menjalankannya.
Demikianlah para orangtua pada zaman Rasulullah Saw, sahabat dan orang-orang sholeh sesudahnya berlomba-lomba dengan penuh semangat mendorong anak-anaknya sejak dini untuk menuntut ilmu Al-Qur’an dan Hadits, sumber dari segala ilmu. Hal itu mereka lakukan tidak lain karena menyadari keistimewaan dan keutamaan manfaatnya bagi kesuksesan serta keselamatan masa depan kehidupan dunia-akhirat anak-anaknya.
Ilmu dan kandungan dalam Al-Qur’an yang diajarkan sejak dini mampu mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak, karena akal, pikiran, dan jiwanya yang masih bersih. Hanya Al-Qur’an yang mampu mendidik serta menuntun akal dan jiwa anak pada kebaikan dan kebenaran. Upaya mendidik dan pembelajaran ini masih terus menerus dilakukan, dari fase prabaligh sampai mencapai fase baligh. Mulai dari tahap pengenalan, pembiasaan, latihan, hingga sampai pada tahap pengamalan. Salah satu contohnya adalah perintah untuk mengerjakan sholat.
Mendidik anak sejak dini yakni pada fase prabaligh akan sangat membantu dan memperingan beban mendidik pada fase baligh. Disebabkan anak masih dalam keadaan fitrah sehingga memudahkan orangtua membentuknya untuk cenderung pada kebaikan. Sedangkan anak yang ketika berada pada fase prabaligh diabaikan tanpa pembinaan akan semakin sulit untuk dibentuk ketika mencapai fase baligh. Anak akan mengalami hambatan dalam penerapan sebuah kebiasaan baik karena tidak terbiasa dengan sentuhan pembinaan.
Maka bersiap siagalah agar tidak kehilangan kesempatan mendidik pada fase prabaligh anak-anak kita. Jadikan Al-Qur’an sebagai pondasi tumbuh kembangnya. Luruskan kembali orientasi atau tujuan mendidik mereka pada kesuksesan dan keselamatan masa depan dunia akhirat. Hanya orientasi mendidik yang demikian akan mampu mengantarkan anak-anak kita pada kemuliaan, kebesaran dan kepopuleran nama mereka serta keistimewaan diri yang diakui dan tercatat kebaikannya oleh sejarah didunia, pun dicatat amal kebaikannya untuk kebahagiaan hidup akhiratnya. Insya Allah! Amin Ya Rabbal Alamin.***
Add comment November 22, 2007
Mendidik dengan Hati
Oleh: Rahmadona Fitria
Dalam aktivitas mendidik tentunya tidak lepas dengan berbagai persoalan. Bahkan mungkin sampai berujung pada kelelahan lahir batin. Akan tetapi kita semua menyadari bahwa tugas mendidik dan mendampingi anak-anak kita adalah tugas seumur hidup. Ketika menghadapi jalan buntu maka kepada Allah sajalah sebaik-baik tempat berkonsultasi. Persoalan apapun yang kita hadapi dalam aktivitas mendidik, mau tidak mau, suka atau tidak suka tetap harus kita jalani dan cobalah untuk menemukan jalan keluar dalam menyelesaikannya.
Seringkali kita terlalu menuntut anak secara berlebihan. Menganggap mereka sudah besar lalu menerapkan metode perintah dan larangan dengan membabi buta. Padahal walaupun anak-anak sudah besar metode perintah dan larangan bukanlah metode yang efektif dalam aktivitas mendidik. Orangtua menginginkan dan menentukan ketika anak pada usia tertentu mampu melakukan ini dan itu sesuai dengan harapan kita. Tetapi kalau kita pikirkan ulang, apakah memang anak-anak kita pada usianya sekarang sudah mampu menerima dan mengerjakan aturan yang kita buat ?
Sebesar apapun usia anak kita, mereka tetaplah anak-anak yang senantiasa memerlukan bimbingan dan arahan tanpa henti dari orangtuanya. Mungkin akan lebih bijaksana jika kita menyederhanakan harapan terhadap anak-anak kita. Coba saja kita renungkan kembali, bukankah tindakan yang sia-sia ketika anak-anak melakukan perbuatan yang tidak baik dan tidak kita sukai lalu kita nasehati mereka dengan bahasa emosi, marah-marah misalnya. Tentu saja anak-anak akan sulit untuk menerima apalagi mencernanya. Akibatnya tidak ada perubahan atau perbaikan perilaku. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa tindakan yang kita lakukan gagal alias tidak ada hasilnya. Mengapa ? karena pesan yang kita maksudkan tidak sampai kepada anak.
Adakalanya kita berada pada kondisi tidak tahu harus berbuat apa lagi dalam menghadapi perilaku anak. Tapi kita harus tahu, permasalahan yang kita hadapi dalam aktivitas mendidik juga terjadi dirumah-keluarga lainnya, kita tidak sendiri. Ini berarti setiap persoalan dalam aktivitas mendidik tentu ada jalan keluarnya. Apalagi jika orangtua memiliki kedekatan dan kekuatan hubungan dengan Allah SWT, maka dalam aktivitas mendidik Allah yang akan membimbingnya. Tidak usahlah kita repot-repot dan bingung menerapkan berbagai teori mendidik dalam membantu anak-anak kita berperilaku baik dan melakukan kebaikan sesuai dengan yang kita inginkan. Karena sebenarnya Islam hanya mengenal dua fase tumbuh kembang anak yaitu masa pra baligh dan masa baligh.
Masa pra baligh adalah masa belum adanya konsekuensi beban tanggung jawab bagi seseorang (anak). Pada masa ini anak belum memiliki kemampuan dalam memikul tanggung jawab. Disini orangtua berperan mengarahkan karena anak berada pada tahap pengenalan terhadap sebuah tanggung jawab. Tidak ada tuntutan tertentu apabila anak tidak mengerjakan sesuatu. Sedangkan masa baligh berlaku sebaliknya yaitu menuntut adanya kemampuan memikul beban tanggung jawab. Pada masa ini anak sebaiknya sudah mengetahui konsekuensi dari sebuah tanggung jawab. Tugas orangtua adalah membantu menyiapkan anak memahami konsekuensi tersebut. Seperti perintah melatih anak mengerjakan sholat pada usia tujuh tahun dan memberikan hukuman pada usia sepuluh tahun jika tidak mengerjakannya. Karena pada usia 10 tahun, anak sudah sampai pada masa baligh mengerjakan sholat pada usia tersebut sudah merupakan kewajiban dan apabila ia tidak mengerjakannya maka ia berdosa.
Sudah saatnya kita merubah metode mendidik anak yang sebelumnya menggunakan bahasa perintah, larangan dan ancaman dalam memberikan nasehat menjadi bahasa yang baik, santun dan menyejukkan yaitu bahasa hati. Merujuk Qur’an surat An Nahl (16) ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…,” Sampaikan nasehat pada saat yang benar-benar tepat, bukan pada saat anak melakukan kesalahan dan kita sedang dikuasai amarah. Ketika anak melakukan kesalahan cukuplah dengan membantunya memperbaiki kesalahannya. Adapun waktu yang tepat dalam menyampaikan nasehat adalah saat kondisi atau emosi anak sedang stabil.
Jika orangtua kesulitan menyampaikannya dengan ucapan, kita dapat menggunakan tulisan sebagai media komunikasi dengan anak yakni dengan menulis surat. Apabila anak belum bisa membaca kita bisa membacakannya, hal ini justru akan mendekatkan hubungan orangtua dan anak. Melalui surat kita bisa merangkai kata-kata indah dan menyentuh hati anak, sehingga pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak. Bahkan bukan tidak mungkin dapat memperbaiki perilaku anak dalam melakukan kebaikan seperti yang kita inginkan. Kita dapat mengetahui cara ini berhasil apabila terlihat perubahan perilaku pada anak menjadi lebih baik. Menyampaikan pesan dan nasehat melalui tulisan salah satu metode dalam aktivitas mendidik yang dapat dijadikan pilihan.
Mari kita mulai mendidik anak dengan hati. Satukan hati kita dan anak dengan menulis surat yang berisi pesan dan nasehat kebaikan. Insya Allah ini merupakan metode yang menyenangkan serta menarik dan berkesan bagi orangtua dan anak. Seperti komentar anak pertama saya, “Wah, seru deh mi, kalo bisa surat-suratan terus sama ummi”. Nikmat rasanya saat mendapat tanggapan positif dan menggembirakan dari anak-anak kita. Selamat mencoba! ***
6 comments November 5, 2007
Mendidik Dengan Cerita
Oleh : Rahmadona Fitria
KITA semua tentu masih ingat dan sangat akrab dengan kisah tentang Nabi Yusuf As. Bagaimana dengan anak-anak kita ? Ada baiknya jika kita para orangtua mulai mengakrabkan anak-anak kita dengan cerita para Nabi. Sehingga kisah-kisah tersebut tidak hanya akrab dengan anak-anak pada saat bulan Ramadan saja. Karena banyak sekali hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah para nabi tersebut dalam menjalani kehidupan. Firman Allah SWT,
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (QS. Yusuf: 3)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)
Dalam aktivitas mendidik tentunya banyak kita jumpai berbagai persoalan. Di antaranya bersikap adil terhadap anak-anak dan perselisihan antar anak. Sebagai umat Islam dan muslim yang baik, tentulah kita akan menjadikan Al-Qur’an sebagai kamus untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Begitu pula dalam aktivitas mendidik, kisah para nabi banyak memberikan pelajaran dan teladan, seperti halnya kisah Nabi Yusuf As. “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya”. (QS. Yusuf: 7) Dalam kisah Nabi Yusuf As terdapat pelajaran dan peringatan tentang bersikap adil dan perselisihan antara saudara.
Allah SWT berfirman, “(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata”. (QS. Yusuf: ![]()
Dalam kisah Nabi Yusuf As diceritakan tentang kecemburuan saudara-saudara Yusuf, disebabkan mereka merasakan adanya perbedaan perhatian dari ayahnya. Sehingga timbullah kedengkian dalam hati mereka dan sikap permusuhan terhadap Yusuf. Bahkan mereka bersepakat dan berencana untuk mencelakakan yusuf. Hal ini mereka lakukan dengan harapan perhatian ayahnya terhadapYusuf beralih kepada mereka. Seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”. (QS. Yusuf: 9)
Menurut sebuah buku tentang spiritual motivation dikatakan bahwa adil dalam masalah cinta adalah sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia. Sikap adil yang berada diluar batas kemampuan manusia tersebut adalah dalam hal cinta dan kecenderungan alamiah. Rasa cinta di hati merupakan sesuatu yang bersifat fitrah dari Allah SWT. Nabi Ya’qub As telah dikaruniai oleh Allah SWT cinta yang berlebih terhadap salah satu putranya, Yusuf. Cukuplah kiranya jika kita belajar dari kisah Nabi yusuf As. Pada hakikatnya manusia tidak mampu menguasai perasaannya, akan tetapi alangkah baiknya jika orangtua tidak memperlihatkan rasa cinta yang berlebih kepada salah seorang anaknya dengan memberikan perhatian yang berbeda kepada anak lainnya. Hal ini tidak lain untuk menjaga hati antar anak dan keharmonisan di antara mereka. Serta terjaganya tali silaturrahim, terhindarnya sikap durhaka anak kepada orangtua dan sikap permusuhan antar anak yang di timbulkan dari sikap tidak adil terhadap anak-anak.
Rasulullah Saw telah memberikan teladan dan pelajaran yang utama mengenai bersikap adil. Diriwayatkan dari Nu’man ibn Basyir ra, ia berkata, “Ayahku memberiku hadiah, kemudian Umarah binti Rahawah berkata, “Aku tidak ridha sampai Rasulullah Saw menyaksikan hal tersebut.” Nu’man pun mendatangi Rasulullah Saw seraya berkata, “Aku memberi anakku dari Umarah binti Rahawah hadiah, dia menyuruhku agar engkau menjadi saksi.” Rasulullah Saw bertanya, “Apakah kau memberi semua anakmu seperti ini?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bersikaplah adil terhadap semua anakmu.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Janganlah bersaksi kepadaku tentang kezhaliman.”, “Takutlah engkau kepada Allah, berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” Sehingga akhirnya ia pun menarik kembali hadiah yang diberikan itu.
Demikianlah Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita dan Allah SWT menghendaki agar kita belajar dari kisah Nabi Yusuf As. Dalam memperlakukan anak-anak, orangtua sebaiknya bersikap adil tidak hanya dalam hal pemberian tapi juga berinteraksi terhadap seluruh anak. Ketika menyapa dan mencium salah satu dari mereka maka sapa dan ciumlah juga yang lainnya. Terutama jika anak yang lainnya berada dihadapan kita dan melihat perlakuan kita terhadap salah seorang dari mereka. Pelajaran lainnya yang terdapat dalam kisah Nabi Yusuf As adalah sikap sabar Nabi Ya’qub As sebagai seorang ayah ketika mensikapi perilaku permusuhan anak-anaknya, yakni saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf.
“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
Mengatasi perselisihan anak-anak dengan bijaksana, diperlukan kesungguhan orangtua dalam berusaha mempelajari cara-cara mendidik yang baik dan mencoba menerapkannya. Ceritakan kisah-kisah teladan yang dapat menguatkan ikatan kasih sayang dan mempererat tali persaudaraan di antara anak-anak kita. Kisah-kisah terbaik itu hanya terdapat dalam Al-Qur’an yakni kisah-kisah para nabi. Seperi halnya kisah Nabi Yusuf As yang di ceritakan tidak pendendam walaupun telah diperlakukan tidak baik oleh saudara-saudaranya, tapi justru memaafkan kesalahan mereka. Sehingga kembali hidup rukun berdampingan bersama saudara-saudaranya dalam suasana kasih sayang.
“Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS. Yusuf: 92)
Mendidik dengan cerita yakni menceritakan kisah-kisah teladan seperti kisah para nabi sudah mulai diterapkan oleh SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Robbani Loktabat- Banjarbaru sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Semoga hal ini dapat di tiru oleh sekolah-sekolah lainnya untuk meningkatkan kualitas mental dan spiritual anak-anak kita tercinta, Amin Ya Rabbal Alamin. ***
Add comment November 5, 2007
Mendidik Anak Berbakti Kepada Orangtua
Oleh : Rahmadona Fitria
Orangtua bertanggung jawab untuk menjaga, melindungi dan mendidik anak-anaknya sebagai tugas dari Allah SWT. Salah satu tanggung jawab tersebut seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu mendidik anak berbakti kepada orangtua. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menghendaki agar setiap anak berakhlak baik kepada kedua orangtua. Maka penting bagi orangtua untuk mendidik anak mereka berbakti kepada orangtua. Karena orangtua telah berperan besar dalam mengasuh, mengurus, membimbing dan mendidik anak-anaknya.
Allah SWT berfirman berkenaan dengan perihal berbakti kepada orangtua, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu aku kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.” (QS> Luqman: 14)
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk meng-esakanNya dan hal ini disandingkan dengan berbuat baik terhadap kedua orangtua. Karena syirik (menyekutukan Allah) dan durhaka terhadap orangtua keduanya termasuk dosa besar. Sedangkan berbuat baik terhadap orangtua sama artinya dengan berterima kasih kepada orangtua dan bersyukur kepada Allah. Tidak satu orang pun yang bisa membalas jasa kedua orangtua meski telah menghimpun segala usaha dan tenaga. Bahkan Ibnu Umar mengibaratkannya meski hanya satu hembusan nafas pun tidak akan mampu membalas jasa kedua orangtua. Subhanallah ! Demikian besarnya jasa orangtua kepada anak-anaknya.
Sementara di zaman sekarang ini perhatian terhadap perintah Allah tersebut sudah seperti sesuatu yang asing dan langka. Setiap orang sibuk atau menyibukan diri dengan urusannya masing-masing sehingga lupa atau mungkin sudah jadi tradisi melupakan sesuatu yang lebih penting. Anak-anak asyik dengan dunianya sedangkan orangtua sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada penghargaan antara yang muda dengan yang tua, kehidupan modern digambarkan dengan ketidak harmonisan hubungan antara orangtua dan anak, menantu dan mertua, suami dan isteri dan lain sebagainya. Getaran rasa takut akan dosa apabila durhaka terhadap orangtua sepertinya telah mulai redup di hati manusia digantikan prinsip; yang terjadi nanti urusan belakangan. Berbeda dengan zaman dulu ketika kita kecil, ketakutan akan dosa durhaka terhadap orangtua masih sangat terasa. Perhatian orangtua dalam mendidik anak untuk berbakti kepada orangtua masih sangat populer. Terwakili dengan kisah legenda yang terkenal diBanua pada masanya yaitu kisah batu belah batu betangkup.
Kisah-kisah hikmah dan religius juga dapat membantu dalam mempopulerkan perintah Allah untuk berbakti kepada orangtua. Tapi tentunya akan lebih mengena jika mengambil rujukan langsung dari Al-Qur’an. Perintah berbuat baik dan berbakti kepada orangtua ini bahkan tetap harus ditunaikan walaupun orangtuanya memiliki perilaku atau tabiat buruk, kafir atau melanggar syariat, hal ini sebaiknya tidak menghalangi anak untuk menyambung tali silaturrahmi kepada orangtuanya. Melupakan tindakan apapun dari orangtua yang menyakitkan si anak demi mengharap pahala di sisi Allah SWT. Kita dapat belajar dari Rasulullah Saw dalam memperlakukan paman beliau, Abu Thalib, yang tidak mau beriman kepada Allah SWT, tetapi Rasulullah tetap berlaku hormat dan penuh kasih sayang kepadanya. Demikian pula Nabi Ibrahim yang senatiasa dengan penuh kesabaran bersikap lemah lembut dan menasehati ayah beliau yang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Allah SWT berfirman,
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan syitan.’” (QS. Maryam: 41-45)
Begitu amat lembut dan sayangnya Nabi Ibrahim terhadap ayahnya, hingga beliau memintakan ampunan untuk ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia sampai akhirnya hal itu dilarang. Allah SWT berfirman,
“Dan permintaan ampunan dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 14)
Mendoakan orangtua baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal merupakan salah satu bentuk balasan dan bakti anak atas jasa dan didikan mereka berdua ketika kita masih kecil.
Sebaliknya anak dilarang mengikuti perintah orangtua jika mengajak kepada perbuatan yang melanggar syariat. Allah SWT berfirman,
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)
Dan barangsiapa yang mendapati salah satu atau kedua orangtuanya di usia tua dan dalam keadaan lemah tapi tidak memberikan pelayanan yang baik kemudian meninggal dunia maka ia masuk neraka dan Allah akan menjauhinya. Suatu tindakan yang keliru jika hanya salah satu anggota keluarga saja yang memberikan pelayanan sementara anggota keluarga lainnya berlepas tangan dengan alasan sudah ada yang menunaikan kewajiban tersebut. Sebab, memberikan pelayanan kepada orangtua yang sudah tua dan lemah adalah salah satu ibadah yang seharusnya dipersaingkan.yang bisa mendekatkan diri seseorang pada Allah SWT.
Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan saya orang yang berpikir dan sadar untuk memperbaiki diri. Allah telah banyak memperlihatkan pelajaran langsung kepada saya bagaimana sebaiknya berbuat kepada orangtua melalui peristiwa yang saya menyaksikannya maupun saya alami sendiri. Cukuplah kiranya jika saya belajar dari kesalahan orang lain tanpa harus melakukannya. Semoga apa yang saya saksikan dari pengalaman hidup orang lain cukup menggugah kesadaran untuk lebih baik dalam bersikap kepada orangtua. Semoga kita semua dikaruniakan oleh Allah SWT anak-anak yang sholeh, anak-anak yang berbakti kepada orangtuanya. Amin Allahuma Amin. ***
6 comments October 20, 2007
Mendidik Anak Mengenal Allah SWT
Oleh : Rahmadona Fitria
Dari sekian banyak hal penting yang perlu orangtua ajarkan kepada anak, ada hal yang paling utama dan kita tidak boleh lalai dalam hal ini yaitu mendidik anak mengenal Allah SWT. Karena sesungguhnya anak-anak kita sebenarnya adalah titipan dari Allah SWT. Kita sebagai orangtua hanya perantara bagi anak yang bertugas dan berperan mendidik anak menjadi anak sholeh, yaitu anak yang senantiasa menjadikan Allah SWT sebagai tujuan dan Islam sebagai jalan hidupnya.
Mengapa orangtua perlu mengajarkan anak mengenal Allah SWT ? Karena dengan mengenal Allah SWT hati anak-anak kita akan senantiasa terhubung denganNya. Sehingga akan tumbuh kecintaannya kepada Allah, berserah diri kepada Allah, berharap hanya kepada Allah, bergantung hidupnya hanya kepada Allah, dan melakukan sejumlah amal perbuatan karena Allah. Mereka tidak akan mengerjakan sesuatu baik itu berkata, berbuat atau beramal kecuali yang benar, karena merasa selalu dibawah pengawasan Allah. Hal ini lebih besar pengaruhnya bagi anak dalam mengontrol tingkah lakunya, karena yang ditakutinya bukan lagi manusia, tapi Allah SWT Sang Maha penguasa yang berkuasa atas dirinya dan senantiasa melihat segala gerak geriknya yang tidak terlihat oleh manusia. Sehingga segala amal dan perbuatannya semata-mata hanya mengharap keridhoan Allah SWT. Demikianlah sebenarnya prinsip dari mendidik anak mengenal Allah SWT yaitu menanamkan kepada anak mengenai pemahaman tentang tujuan penciptaan manusia yang hakikatnya adalah untuk beribadah dan menyembah Allah SWT.
Bagaimana caranya mengajarkan anak mengenal Allah SWT ? Rasulullah Saw telah memberikan pelajaran kepada kita tentang mendidik anak agar mengenal Allah SWT dan mengingatNya baik dalam keadaan susah maupun senang melalui nasehatnya kepada Ibnu Abbas r.a, yaitu ketika ia dibonceng oleh Rasulullah. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, “Suatu hari, aku pernah berada di belakang Nabi Saw, beliau berkata, “Hai, bocah! Aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat; jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kau menemukan Dia di hadapanmu, jika engkau meminta maka memintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya jika seluruh umat bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikit pun kecuali yang telah ditetapkan Allah padamu. Seandainya mereka bersatu untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikit pun kecuali yang telah ditetapkan Allah atasmu, pena telah diangkat dan lembaran telah mengering.”
Orangtua dapat mendidik anak mengenal Allah SWT dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh anak. Orangtua dapat melakukannya melalui pertanyaan, misalnya, siapakah yang memberimu tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya ? Siapakah yang menyuruh kita sholat dan berdoa ? Atau ketika anak meminta sesuatu, kita bisa berkata kepadanya : “Bantulah ayah dan ibu memenuhi permintaanmu dengan berdoa kepada Allah SWT dan perbanyaklah berbuat kebaikan.” Ketika anak melakukan kesalahan atau perbuatan yang tidak baik, orangtua dapat mengatakan kepada anaknya : “Tidakkah kamu merasa bahwa Allah melihatmu dan mengetahui apa saja yang kamu lakukan, dan Allah akan memberikan balasan pada setiap kebaikan dan kejahatan yang kamu kerjakan ?”
Dalam mendidik anak-anak kita mengenal Allah SWT hendaknya setiap orangtua bersedia mendengar dan mau menjawab pertanyaan anak dengan sabar. Seperti anak-anak saya pernah bertanya, “Ummi, dimana rumah Allah ? saya ingin ketemu Allah.” Pada kesempatan yang berbeda ia kembali bertanya, “ummi, Allah itu tidak butuh makan dan tidur, ya ?” Kita dapat menjelaskan kepada anak terhadap apa yang belum ia mengerti saat ini dengan mengatakan bahwa kelak ketika ia besar insya Allah ia akan memahami apa yang kita ucapkan.
Saya pernah mengalami sebuah peristiwa berkesan bersama anak-anak berkaitan dengan mendidik anak mengenal Allah SWT. Ketika itu malam hari, suami tidak ada dirumah, anak-anak terlihat sedih dan gelisah, maka saya menghibur dan menenangkan mereka dengan mengatakan : “Jangan khawatir Allah bersama kita dan akan selalu menjaga kita, kalau kalian takut jangan lupa berdoa.” Sungguh diluar dugaan saya, mereka menirukan doa menghilangkan rasa takut yang mereka lihat dari CD belajar berdoa bersama Raihan, lengkap dengan artinya. “Allahu Robbi, la syarikalah.” Yang artinya Ya, Allah. Tiada sekutu bagiMu. Alhamdulillah, ini pertanda mereka memahami bahwa hanya Allah lah sebaik-baik pelindung.
Demikianlah, bapak-ibu sekalian, di zaman seperti sekarang ini anak-anak kita membutuhkan penanaman nilai-nilai yang hakiki. Sebuah prinsip pegangan hidup yang kuat dan benar, yaitu menghubungkan anak-anak kita dengan Rabbul’alamin. Sehingga akan tumbuh semangat kecintaan dan keberanian membela kebenaran dan keadilan, serta menegakkan kalimatNya. Apalagi dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai rupa permainan dan hiburan yang kosong dari nilai-nilai luhur. Jangan sampai anak-anak kita tertipu dan terlena oleh kehidupan yang berorientasi pada dunia. Mengukur segala sesuatu dari materi; kekayaan, kecantikan, jabatan dan lain sebagainya. Hanya dengan mengenal Allah SWT, anak-anak kita akan meraih kebahagiaan dan selamat dunia akhirat. Amin Ya Rabbal Alamin. ***
Add comment October 20, 2007
Belajar Dari Rasulullah Saw
Oleh : Rahmadona fitria
Menurut Anda apa yang sebaiknya dilakukan orangtua dalam meluruskan kesalahan anak dan membendung perilaku anak yang kurang baik ? Sebagian orangtua mungkin ada yang membiarkannya saja, ada juga yang menggunakan teguran, atau bahkan hukuman ? Ada kalanya kita jumpai orangtua yang merasa berputus asa dalam menghadapi kenakalan perilaku anaknya, tidak tahu harus berbuat apa, sehingga memilih hukuman pada anak sebagai penyelesaiannya. Berapa banyak orangtua yang terjebak untuk bersikap demikian ketika mengahadapi perilaku nakal dan kesalahan yang dilakukan anak-anaknya ? Padahal saya dan mungkin banyak orangtua lainnya yang juga berharap dan merindukan sebuah interaksi yang mesra dengan anak-anak. Apalagi di zaman seperti sekarang ini, anak-anak kita akan selamat jika memiliki hubungan yang harmonis dengan orangtuanya.
Bagaimana caranya agar orangtua dapat membangun hubungan interaksi yang mesra bersama anak ? Dan bagaimana pula sebaiknya penyelesaian yang tepat dalam mengatasi permasalahan meluruskan kesalahan anak dan memperbaiki perilaku anak yang kurang baik ? Mari kita jawab terlebih dahulu pertanyaan berikut ini ! Apa yang akan Anda katakan kepada anak, ketika ia mengatakan bahwa ia telah merapikan buku atau mainannya ? Biasanya orangtua cenderung menanggapi dengan teguran lain, sudah mengerjakan PR belum ? Padahal sebenarnya anak tidak bermaksud mengabarkan kepada Anda perihal apa yang telah dikerjakannya. Tetapi anak sebenarnya ingin mendengar ucapan yang menyejukan hatinya sebagai ekspresi bahwa Anda senang kepadanya. Demikianlah adanya tabiat anak-anak kita, mereka senang akan pujian dan motivasi, bahkan lebih membutuhkannya daripada orang dewasa.
Dunia anak memang dunia yang aneh. Mempengaruhinya menuntut kemampuan kita dalam memasuki jiwanya yang terbuka. Memasuki pintu jiwa anak perlu kunci kasih sayang, kelembutan, menjaga perasaannya dan memenuhi sebagian keinginannya melalui pemberian hadiah, pelayanan, senyum, rayuan, pelukan, ciuman, tatapan yang menentramkan jiwanya, dan pemberian kesejukan melalui kata-kata. Kita dapat meneladani perilaku Rasulullah Saw ketika bergaul dengan anak-anak. Beliau memperlakukan anak-anak dengan sangat istimewa. Bahkan dalam berinteraksi terhadap anak kecil pun Rasulullah menggunakan etika. Rasulullah senang menyapa anak kecil sehingga mereka merasa diperhatikan dan dihargai keberadaannya. Mengetahui bagaimana sikap Rasulullah terhadap anak-anak seharusnya sudah cukup membuat kita merasa malu dan mulai membenahi diri. Tidak diragukan lagi mencontoh perilaku Rasulullah dalam memperlakukan anak akan membawa dampak positif dan perubahan berarti dalam hubungan interaksi orangtua bersama anak sehingga terjalin hubungan yang harmonis.
Orangtua dapat menggunakan cara pemberian motivasi berupa imbalan atau pujian dalam mendidik meluruskan perilaku tidak baik dan kesalahan anak. Cara ini akan mendorong anak gemar untuk berbuat baik dan terus memperbaiki diri. Adapun untuk membendung perilaku tidak baik anak tidak ada cara yang terbaik selain memotivasi anak untuk berbuat kebaikan. Anak butuh akan dorongan dan pujian atas amal sholeh yang dilakukannya. Hal itu akan membuatnya terdorong untuk kembali melakukan amal sholeh tersebut. Misalnya, bila anak membantu mengambilkan atau membawakan sesuatu, kita ucapkan terima kasih kepadanya.
Rasulullah Saw telah mengajarkan ini kepada kita. Sebuah riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan dari Ibnu abbas r.a ; tuturnya : ketika Rasulullah Saw pergi ke tempat buang hajat, aku menyediakan air untuk wudhu beliau. Usai buang hajat, beliau melihat air tersebut tersedia. “Siapa yang membawakannya ?” Tanya beliau. Setelah aku memberitahukan, maka beliau membaca doa : “Ya Allah, berilah ia pemahaman tentang agama dan ilmu tentang tafsir Al-Qur’an !” Sehingga doa tersebut benar-benar telah memotivasi si anak untuk menjadikan dirinya seorang yang benar-benar paham akan agama dan ilmu tafsir Al-qur’an.
Memotivasi anak dengan imbalan atau pujian membawa pengaruh efektif dalam diri anak. Pujian itu akan menggerakan perasaannya dan membuatnya segera dengan bersunguh-sungguh dan rasa riang memperbaiki perilaku dan kesalahanya. Inilah yang ditegaskan dan diajarkan Rasulullah Saw kepada kita ketika beliau memperingtkan pentingnya memuji si kecil jika kita menghendaki anak bersikap sesuai dengan kebaikan yang kita inginkan. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar r.a berkata, “Pada masa kehidupan Rasulullah Saw ada seorang laki-laki yang apabila bermimpi , ia menceritakannya kepada Rasulullah Saw. Maka akupun berharap dapat bermimpi, lalu menceritakannya kepada Rasulullah. Pada waktu itu aku masih muda dan aku tidur di masjid pada masa Rasulullah Saw. Ketika Abdullah bin Umar r.a bermimpi, ia menceritakan mimpi tersebut kepada saudara perempuannya Hafshah r.a. Lalu ia menceritakannya kepada Rasulullah Saw, maka beliau berkata, “Sebaik-baik pemuda adalah Abdullah manakala ia sholat di sebagian malam.”
Semenjak itu Abdullah tidak tidur kecuali sedikit untuk mengerjakan sholat malam. Demikianlah pengaruh pujian Rasulullah Saw kepada Abdullah memotivasi dirinya untuk menambah ibadah dan kebaikan sekaligus merubah kebiasaan Abdullah yang sebelumnya senang tidur-tiduran dan bermalas-malasan. Mari kita bina keakraban dan hubungan harmonis bersama anak dengan memulainya memberi pujian. Bagaimana, tidak kah pelajaran dari Rasulullah Saw ini menyentuh mata hati dan pikiran kita ? Semoga ! ***
Add comment October 10, 2007
| Previous Posts |