Posts filed under 'Menulis'




Peran Isu, Trend, dan Usia

Oleh : Rahmadona Fitria

*)Tulisan dibuat untuk mengikuti lomba menulis yang diselenggarkan oleh www.menulismudah.com bekerjasama dengan Harian Umum Radar Banjarmasin

SALAH satu isu yang sedang hangat belakangan ini adalah isu pemanasan global atau peningkatan suhu bumi. Bahasa kerennya, global warming. Ini dijelaskan sebagai akibat dari terperangkapnya gas Co2 di permukaan bumi. Proses yang biasa disebut dengan efek rumah kaca (green house effect). Ini kemudian dihubung-hubungkan dengan perubahan iklim yang menjurus ke hal ekstrem, yakni bencana alam, meningkatnya tinggi muka air laut, udara yang semakin panas, kelangkaan sumber air dan makanan, sampai timbulnya berbagai ancaman penyakit. Bagaimana hal itu terjadi ?
Dewasa ini, interaksi antara manusia dengan lingkungannya kembali digulirkan. Disebutkan bahwa dalam membangun komunitas dan lingkungan, manusia sering melakukan pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungannya. Kebutuhan akan tempat tinggal berefek mengeruk lahan-lahan hijau yang semula untuk resapan air atau sumber udara sehat. Gaya hidup modern berdampak pada pengerukan sumber daya alam hingga batas yang sulit terkontrol. Ini semua berpotensi merusak lingkungan, sehingga menghasilkan efek-efek negatif seperti yang disebutkan di atas.
Kini sudah saatnya kita peduli pada lingkungan  yang sudah seharusnya kita lestarikan. Salah satu langkah pelestarian lingkungan itu adalah memaksimalkan peran tumbuhan melalui penanaman pohon dan tanaman hias. Tumbuhan hijau dijelaskan berperan sebagai alat produksi oksigen. Oksigen membuat udara menjadi lebih sejuk. Tumbuhan memberi manfaat keteduhan alami, mengurangi kebisingan, dan mengurangi debu, sehingga lingkungan menjadi lebih sejuk, nyaman, dan segar.
Hangatnya isu pemanasan global diiringi pula dengan maraknya trend pemeliharaan tanaman hias oleh para penghuni bumi. Trend ini tentu saja berdampak positif bagi interaksi antara manusia dan lingkungannya, yakni terciptanya siklus kehidupan yang saling berdampingan dan berkesinambungan.
Isu global warming menjadi perhatian diberbagai lapisan usia. Dalam tulisan ini, saya tertarik mengangkat peran pada tingkat usia pensiunan yang secara tidak langsung dan tanpa ia sadari sebenarnya sudah terlibat untuk peduli pada isu pemanasan global. Beliau seorang pensiunan pegawai negeri sipil Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Selatan dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Sub Bagian Umum yang tidak lain adalah ayah saya sendiri.
Sehari-harinya, beliau menikmati kegiatannya mengurus tanaman di halaman rumah jauh sebelum maraknya trend memelihara tanaman hias dan isu pemanasan global. Kecintaan dalam berinteraksi dengan lingkungan yakni merawat dan mengurusi tanaman adalah aktivitas yang sekarang ditekuni sebagai pengisi waktu pensiun. Aktivitas produktif di usia pensiunan yang mampu membangkitkan suatu motivasi kesadaran, ternyata memiliki peran penting dalam memperpanjang kelangsungan hidup bumi dan seisinya. Mari bangkit bersama menjaga keselamatan bumi !***

6 comments April 20, 2008

Dance With My Dream

(Pemenang Juara Harapan 3 Lomba Menulis “Pengalaman Menulis” yang diselenggarakan oleh www.menulismudah.com)
Oleh : Rahmadona Fitria

BANYAK alasan yang mendorong saya untuk menulis. Alasan pertama adalah karena I was born to write. Sejak kecil saya sudah di didik untuk menyukai dunia membaca dan menulis. Ibu saya biasa membacakan buku cerita para nabi atau majalah anak-anak Ananda ketika menjelang tidur. Kebiasaan ini dengan sendirinya menyertai ketertarikan saya pada dunia tulis menulis. Dengan membaca saya menyukai permainan kata dan indahnya merangkai kata. Sehingga akhirnya tertuang dalam tulisan. Ketertarikan itu bertambah kuat dengan penemuan pertama berupa sebuah buku catatan harian milik ibu saya. Ibu memperbolehkan saya untuk membaca dan memilikinya. Buku tersebut berisi catatan kata-kata mutiara, syair lagu, puisi dan catatan harian ibu saya tentang nilai-nilai kehidupan. Penemuan ini sungguh berkesan mendalam pada diri saya. Sekaligus semacam sinyal pesan dari ibu saya bahwa ia juga menginginkan anak-anaknya menyukai dunia baca dan tulis. Alhamdulillah, sekarang saya tergabung dalam sebuah komunitas penulis dan abang saya adalah seorang pemusik dan pengarang lagu.
Kesenangan dalam bermain kata dan merangkai kata semasa kecil tersalurkan melalui media surat menyurat. Pada masa-masa sekolah masih saling tukar menukar biodata yang di tuliskan pada buku kecil bergambar dan berwarna-warni juga merupakan sarana tersalurkannya kesenangan saya terhadap tulis menulis pada masa kecil. Ketika beranjak remaja kegemaran akan menulis tertuang dalam catatan harian. Saya pun mulai tertarik menulis puisi. Bahasa puisi membuat saya merasa bebas mengungkapkan segala yang saya rasakan baik itu sedih, senang dan cinta. Sayangnya bukti-bukti sejarah masa lalu itu telah terkubur tanpa sisa ketika saya memasuki gerbang kehidupan berumah tangga. Maksud hati mengubur masa lalu dan membuka lembaran baru, tapi kenyataannya justru sempat ‘memati-surikan’ potensi menulis diri. Biarlah, yang sudah terjadi biarlah berlalu.
Hingga suatu ketika suami memberi motivasi untuk kembali memanfaatkan potensi menulis saya dengan membuat tulisan dalam bentuk buletin dalam program Kuliah Kerja Nyatanya (KKN). Demikianlah aktivitas menulis saya saat itu yang timbul tenggelam. Sampai akhirnya ketentuan Allah SWT berlaku atas diri saya. Terdamparlah saya dalam sebuah komunitas penulis yang membawa banyak perubahan berarti dalam aktivitas menulis saya. Berkat bimbingan seorang bapak motivator sekaligus penulis senior yang produktif dalam aktivitas menulisnya, mengantarkan saya setahap demi setahap meraih mimpi menjadi kenyataan. Suami tercinta banyak memberikan dukungan dalam aktivitas menulis saya. Inilah alasan kedua mengapa saya menulis, karena cinta dan  dukungan dari orang-orang yang saya kasihi.
Alasan lainnya adalah alasan yang paling utama, yaitu ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para ulama besar. Menulis sebagai sarana dakwah dan beramal sholeh. Allah SWT sangat menghargai dunia tulis menulis, penghargaan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 1 yang artinya: Nuun. Demi qalam (pena) dan apa yang mereka tulis. Saya juga terkesan dengan apa yang di katakan salah seorang ulama besar sekaligus penulis Imam Hasan Al Banna bahwa seorang muslim haruslah sama baiknya dalam hal membaca dan menulis.
Saya sangat menikmati aktivitas menulis saya saat ini. Rasanya hidup menjadi lebih hidup dengan menulis. Saya menulis karena saya senang menulis. Aktivitas menulis merupakan karunia yang sangat saya syukuri. Saya suka mengibaratkan aktivitas menulis seperti berkencan dan menari dengan impian, tahap demi tahap impianku menjadi kenyataan. Menulis adalah identitas diri dan aktualisasi diri bagi saya. Dengan menulis semua mimpi dapat terwujud, Insya Allah.***

7 comments March 4, 2008

Kupersembahkan Untukmu Abah

Oleh : Rahmadona Fitria

Abahku, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Sekarang hari-harinya disibukkan dengan merawat tanaman di halaman rumah beliau. Sepertinya memang beliau senang berkebun. Dulunya beliau bekerja di dinas perkebunan. Aku mengira merawat tanaman adalah aktivitas serius dalam kesehariannya mengisi waktu luang. Kalau dulu beliau bekerja sekarang pun beliau tetap bekerja, hanya lokasinya yang berpindah tempat dari kantor ke rumah. Objek pekerjaannya juga tidak jauh berbeda, sama-sama mengurusi tanaman. Perbedaannya sekarang mungkin beliau lebih menikmati pekerjaannya, karena selain lebih santai tentunya ada kepuasan tersendiri.
Bagiku tidak ada perbedaan pandangan terhadap beliau berkenaan dengan status pensiunan atau tidak. Permasalahannya justru terletak pada pandangan umum masyarakat yang terlanjur mendarah daging mengenai bekerja atau tidak bekerja dan status pensiunan. Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan saudari Kun Sri Budiasih (penulis FLP Yogyakarta) yang judulnya Bekerja atau Tidak Bekerja dalam buku ‘Karena Engkau perempuan’. Juga sebagai wujud kepedulian terhadap pelurusan pandangan mengenai status pensiunan. Sekaligus sebagai persembahan untuk abahku tercinta, kami (anak-anakmu) akan tetap menghargaimu selalu dan selamanya.
Bekerja terlanjur identik dengan status, tempat dan uang. Maksudnya seseorang akan dikatakan bekerja jika ia berstatus pegawai, karyawan, buruh, pengusaha bahkan pesuruh dan berkantor (ada tempat yang dituju sebagai tempat bekerja). Seseorang akan dianggap tidak bekerja jika pekerjaan yang ia tekuni tidak menghasilkan uang alias sama saja dengan tidak punya pekerjaan. Maka timbul pula pandangan susulan bahwa pekerjaan yang tidak menghasilkan uang itu tidak ‘prestise’. Artinya tidak bergengsi, tidak bermartabat dan berwibawa. Begitulah kenyataan berpikir masyarakat materialis, mengukur segala sesuatu dengan uang. Seseorang dihargai, bermartabat dan berwibawa karena pekerjaan, jabatan atau materi yang dimilikinya. Jadi ketika semua predikat tersebut tidak melekat lagi pada diri
seseorang maka ia akan dilupakan.
Sederhananya, kita memahami pengertian bekerja adalah melakukan atau berbuat sesuatu. Berarti seorang pensiunan yang melakukan suatu kegiatan dirumah sama bekerjanya dengan seorang pegawai yang berkegiatan dikantor. Jelas berbeda pengertiannya antara bekerja dan tidak bekerja. Tidak bekerja berarti tidak melakukan apa-apa atau tidak berbuat sesuatu. Sedangkan pekerjaan, aku lebih cenderung dengan pengertian pekerjaan sebagai usaha yang menjadi penghidupan seperti yang terdapat dalam tulisan ‘bekerja atau tidak bekerja’.
Kesimpulannya, seorang pensiunan jelas bukan pengangguran karena menganggur terkesan menjadi orang yang tidak berguna. Selama pelaku pensiunan tersebut masih melakukan suatu aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya pribadi dan lingkungan serta tidak merugikan orang lain maka anggapan bahwa orang pensiunan itu menganggur, tidak berguna, kehilangan martabat dan wibawa adalah salah besar. Begitu juga dengan anggapan subjektif dan emosional bahwa seorang pensiunan tugas hidupnya sudah selesai. Ia hanya hidup untuk menikmati waktu bagi dirinya sendiri dan hanya bertindak sebagai penonton dari kehidupan generasi baru dengan kata lain menarik diri    dari lingkungan sosial, seolah hidup sendiri dengan dunianya.
Seorang pensiunan mungkin memang tidak punya pekerjaan lagi, tapi ia masih bisa tetap bekerja. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang abahku lakukan, merawat dan mengurusi tanaman. Kegiatan yang dilakukan abahku bukanlah perbuatan yang sepele atau remeh. Selain menyalurkan hobi, sebenarnya ia juga telah mengembangkan potensi yang ia miliki sewaktu masih aktif bekerja dikantor, bahkan kegiatan tanam menanam dan merawat tanaman saat ini sangat besar artinya bagi kemanusiaan. Apalagi dengan maraknya pemberitaan tentang pemanasan global atau efek dari rumah kaca. Kegiatan yang dilakukan abahku bisa jadi termasuk sebagai salah satu wujud partisipasi kepedulian terhadap permasalahan dunia. Apalagi jika apa yang dikerjakannya bernilai ibadah, tentu akan mendapat balasan pahala dari Allah.
Pandangan yang keliru terhadap status pensiunan justru akan membunuh potensi dan semangat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Lebih berbahaya lagi jika pandangan yang keliru tersebut mem pengaruhi citra diri seorang pensiunan. Akibatnya akan menimbulkan sikap hidup pesimis dan rendah diri, merasa hidupnya tidak berharga.
Memang semestinya setiap orang yang berbuat baik berhak disebut bekerja. Tidak menjadi penting apakah statusnya pegawai, pembantu, atau pensiunan. Selama seseorang itu melakukan suatu kebaikan dan bermanfaat, maka ia juga pantas disebut bekerja. Yakinlah bahwa seseorang bermartabat dan berwibawa karena kebaikan dan tujuan dari kebaikan yang dilakukannya, bukan karena harta atau jabatannya. Jika seseorang menampilkan sikap hidup optimis seperti demikian, tentunya sikap dan pandangan orang lain pun akan berubah mengikutinya.
Abah, teruslah beraktivitas. Tekuni kegiatan mengurus dan merawat tanaman dengan kerangka beribadah kepada Allah dan semangat melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi lingkungan. Karena Allah Swt senantiasa menghargainya sebagai amal sholeh, insya Allah.***

1 comment February 10, 2008

My Diary

Oleh : Rahmadona Fitria

 

Kabar gembira mengenai akan terbitnya buku dari hasil tulisan-tulisanku pada tahun depan yaitu tahun 2008, memperjelas gambaran tentang masa depanku didunia tulis menulis. Sebagai manusia mungkin bisa dibilang aku telah mencapai tingkatan teraktualisasikannya potensi yang diamanahkan Allah SWT dan terpenuhinya sarana untuk beramal sholeh yakni mengamalkan ilmu. Alhamdulillah.
Kegembiraan ini kupersembahkan juga untuk orang-orang tercinta yang senantiasa memberi dukungan dalam aktivitas menulisku. Buat mama-ku yang sudah menularkan kecintaan akan membaca dan menulis sejak aku kecil, serta mengajariku untuk menumpahkan segala yang kurasa melalui tulisan. Buat abah-ku yang selalu mendorong dan berbangga atas prestasiku. Buat abang-ku yang selalu siap merangkap menjadi sahabat ketika aku memerlukan tempat untuk berbagi cerita. Buat suami tercinta yang telah menjadi jembatan untuk mewujudkan mimpi masa kecil seorang Dona untuk menjadi penulis. Buat anak-anakku tersayang yang telah menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya, teruslah menjadi guru terbaik bagi ummi agar ummi dapat menjadi orangtua yang baik. Buat paman Rasyid, sekarang aku benar-benar telah menjadi penulis, dulu ketika aku kecil paman Rasyid pernah mengomentari perilaku menulisku, katanya, wah Dona ini sepertinya kalau besar nanti bisa jadi penulis seperti la rose, penulis yang ia kenal pada zamannya dulu.
Sekarang mimpi itu telah jadi kenyataan. Rasanya benar-benar telah menjadi seorang pejuang, mengingat berbagai kendala yang sudah dilalui dalam aktivitas menulis, tapi tentu saja perjuangan ini belum berakhir. Terima kasih yang tiada habisnya aku tujukan kepada Bapak Ersis yang telah banyak membimbing aktivitas menulisku, Beliau satu-satunya orang yang kuakui sebagai sebenar-benarnya pembina, pendidik, dan guru dalam hidupku, two thumbs up for you, Pak ! Semoga Allah SWT senantiasa membalas kebaikan Bapak, Amin.
Love write and keep writing !

5 comments October 10, 2007

Keajaiban Ilmu

Oleh : Rahmadona Fitria*
(Dimuat pada Harian Umum RADAR BANJARMASIN, Kamis 10 Mei  2007)

SAAT ini sering kita jumpai berbagai kegiatan berupa seminar dan pelatihan yang tujuannya untuk membekali seseorang dengan ilmu atau keterampilan tertentu. Setiap orang tentu memiliki keinginan harapan atau cita-cita untuk diwujudkan dalam kehidupannya.
Ada yang ingin sukses, ingin kaya, ingin bahagia, ingin percaya diri dan lain sebagainya. Tahukah Anda bahwa rahasia untuk dapat mencapai apa yang Anda dambakan dalam kehidupan sebenarnya adalah ilmu. Ingin pintar butuh ilmu, ingin dunia akhirat pakai ilmu, ingin kaya perlu ilmu, bahkan kekayaan yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah ilmu.
Bukankah para ulama besar dan orang ternama dikenal karena begitu cintanya akan ilmu. Seperti halnya Ustadz Yusuf Mansyur disetiap ceramahnya beliau berbagi ilmu tentang sedekah. Yang mana dengan sedekah, orang yang sedang kesusahan dapat terbebas dari  kesusahannya. Dengan sedekah, orang yang sedang kekurangan dapat terpenuhi kebutuhannya. Dengan sedekah, orang yang miskin bisa jadi kaya, orang yang sudah kaya semakin bertambah kekayaannya karena keberkahan dari sedekahnya.
Rosulullah SAW pun mengatakan, “Carilah ilmu walau sampai ke negeri China”. Ini menunjukkan betapa besar dan tinggi penghargaan terhadap ilmu dalam kehidupan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu permasalahan, maka ia butuh ilmu sebagai jembatan penghubung untuk  mendapatkan solusi.
Sungguh ilmu merupakan kunci dalam menjalani kehidupan. Kesulitan menjadi mudah karena ilmu, pengalaman dan kegagalan menjadi pelajaran berharga karena ilmu. Sebagaimana syair dalam lagu yang dibawakan oleh Raihan, “ilmu pelita menerangi kegelapan, darilah ilmu datangnya amalan, dari amalan lahirlah kasih saying, saling membantu dan bekerjasama…”.
Demikianlah efek menakjubkan dari sebuah ilmu. Lalu bagaimana cara mendapatkan ilmu. Tentu saja ada banyak cara, apalagi saat ini kita berada dalam zaman yang penuh dengan fasilitas. Oleh karena itu kita haruslah lebih bersemangat dalam mencari ilmu dan membekali diri dengan ilmu.
Carilah ilmu dengan membaca buku atau mendengar radio, atau menonton televisi, atau apa saja yang membuat kita semakin kaya akan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kalau perlu buatlah perpustakaan sebagai hiasan penting dalam rumah kita untuk mendidik keluarga cinta akan ilmu.
Saya mendapati bahwa ilmu sangat berharga seperti berharganya mutiara. Dengan ilmu saya memperoleh hakikat dan kesadaran akan hal yang terpenting dari kehidupan. Apapun kesuksesan dan kegagalan yang kita dapatkan di dunia hanyalah bersifat sementara, sedangkan kesuksesan abadi hanya dapat kita peroleh ketika kita menjadi manusia sesuai dengan kehendak sang pencipta.
Dengan ilmu seseorang dapat mensikapi hidup dengan benar. Dengan ilmu seseorang dapat bersikap positif dan seimbang dalam menjalani kehidupan. Jika seseorang menganggap untuk menjadi orang sukses itu sulit, menjadi orang kaya sulit, menjadi orang bahagia dan percaya diri sulit, menjadi orang yang berkepribadian menarik atau menyenangkan sulit, menjadi orang yang sehat dan kuat lahir batin sulit, berarti ia tidak memiliki cukup ilmu untuk menjadi seperti yang ia dambakan dalam kehidupannya.
Orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu tentu berbeda. Sebagaimana halnya orang yang tahu dan mengerti jelas berbeda dengan orang tidak tahu dan tidak mengerti. Kalau tidak demikian, mana mungkin menuntut ilmu merupakan hal yang dianjurkan dalam ajaran agama.
Untuk beramal kita butuh ilmu, maka ketika seseorang sudah berilmu hendaknya ia tidak lupa untuk mengamalkannya. Tetapi berhati-hatilah terhadap amalan tanpa disertai ilmu, karena bisa jadi akan mendatangkan kerugian bahkan bahaya besar. Begitu pula dengan ilmu tanpa amal, ibarat pohon tanpa buah, ia tidak bisa memberi manfaat. Ilmu yang dimilikinya tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Membaca dan menulis adalah dua hal yang berkaitan erat dengan ilmu. Seseorang dapat memperoleh ilmu dari membaca dan dapat mengamalkan ilmu yang dimilikinya dengan menulis. Seorang Muslim cinta akan ilmu dan bagian dari ilmu adalah membaca dan menulis. Berarti orang yang berilmu adalah orang yang gemar membaca dan menulis. Dengan membaca dan menulis seseorang telah menjalani kodratnya sebagai menusia sesuai dengan kehendak sang pencipta. Maka jadilah manusia yang mencintai ilmu dan mengamalkan ilmu.***

*Research Associate Pengembangan Anak
KP EWA’MCo

2 comments September 12, 2007

Tak Sekedar Bicara Lisan

Oleh : Rahmadona Fitria*

SEBUT saja Rini, ia pernah punya pengalaman beberapa kali kehilangan kesempatan kerja lantaran kalah ‘saingan’ dengan orang yang lebih pandai bicara. Orang yang pandai bicara memang terlihat lebih meyakinkan, lebih dianggap, dan lebih diakui kemampuannya. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang menilai kemampuan seseorang dari penampilan luarnya. Apa iya orang yang pandai bicara lebih baik kualitasnya dari orang yang tidak terampil berkomunikasi secara langsung?
Lantas apakah kesempatan untuk maju, berbuat, dan bermanfaat bagi orang lain hanya milik orang-orang yang pandai bicara atau mereka yang ahli dan menguasai keterampilan berkomunikasi secara langsung? yang pasti apa yang tersedia didunia ini terlalu sedikit untuk menampung begitu banyak cita-cita dari setiap manusia. Tapi jangan menyerah dan berhenti bermimpi dulu, dizaman seperti sekarang ini, ada banyak jalan untuk ikut terlibat berjuang bagi kemajuan masyarakat dan bangsa, baik mental, intelektual, maupun spiritual. Salah satunya melalui tulisan.
Berbicara dengan lisan tidak berbeda dengan berbicara melalui tulisan. Sama-sama bisa mengungkap atau menyampaikan pemikiran seseorang kepada orang lain. Dengan tulisan seseorang bisa berkomunikasi, memberi informasi, dan mencerdaskan orang lain. Dunia tulis menulis bukan hal asing bahkan sangat dekat dengan keseharian manusia. Hampir setiap orang pernah menulis baik itu menulis surat, menulis catatan harian atau membuat tulisan berupa puisi, karangan, syair lagu dan lain sebagainya.
Tulisan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran seeorang. Tulisan dapat mengungkapkan berbagai perasaan dan pemikiran. Kebanyakan orang mudah tersentuh hatinya, terkesan dan terpengaruh jiwanya melalui tulisan. Seseorang dapat menggunakan tulisan sebagai media untuk mengungkapkan rasa cinta dan penghargaan terhadap orang lain, baik itu dengan surat, puisi, atau syair lagu. Seseorang juga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan dan kebaikan masyarakat melalui tulisan.
Dunia tulis menulis sebagai sarana komunikasi, informasi, dan edukasi mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Dengan tulisan seorang penulis dapat menghibur, menghangatkan jiwa, memberikan pencerahan, berbagi ilmu, memotivasi, dan memberikan terapi penyembuhan kepada orang lain. Banyak  orang-orang ternama yang menggunakan tulisan sebagai medan juangnya.
Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah, beliau menggunakan tulisan dengan mengirim surat kepada raja-raja yang berkuasa pada masa itu. Antara lain Kaisar Heraklius, penguasa Byzantium di Eropa. Berikut cuplikan isi dari surat beliau: ”Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad, hamba sekaligus utusan Allah, untuk Heraklius, Kaisar Romawi. Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan seruan Islam. Masuklah dalam agama Islam, niscaya engkau akan selamat, dan Allah akan memberimu dua kali lipat. Namun, jika engkau berpaling, engkau akan menanggung dosa kaum Asiriyyin. Wahai ahli kitab, marilah berpegang pada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan  sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling  katakanlah kepada mereka : Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri”.
Lalu, bagaimana bunyi balasan surat Heraklius sebagai jawaban atas surat Rasulullah SAW? Mari kita simak isi surat balasannya : “Kepada Ahmad, utusan Allah yang telah dikabarkan oleh Isa as, dari Kisra, Kaisar Romawi. Sesungguhnya telah datang surat dan utusanmu kepadaku, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Kami memang mendapatimu di dalam Injil, dan Isa bin Maryam telah memberikan kabar gembira kepada kami tentang engkau. Aku sendiri telah mengajak orang-orang Romawi untuk beriman kepadamu, akan tetapi mereka menolak. Seandainya mereka mentaatiku, tentunya mereka akan mendapatkan kebaikan. Seandainya aku boleh mengungkapkan perasaan cintaku, aku rela menjadi pelayanmu, dan mencuci kedua kakimu”.
Subhanallah !  Sungguh mengagumkan dan mengesankan, tulisan bisa mejadi warisan dan bukti sejarah yang mampu berbicara. Begitu pula dengan Ibu R.A Kartini pahlawan wanita yang dikenal esensi perjuangannya dari surat-surat yang ditulis dan dikirimkannya, yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku sebagai bukti paling autentik  tentang cita-cita Kartini yang sebenarnya. Hakikat dari perjuangan Kartini terlihat jelas pada isi surat yang ditulisnya, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami meginginkan perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof.Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)
Dan masih banyak orang-orang besar ternama lainnya yang dikenal karena tulisannya, maka patutlah kiranya kita memberikan perhatian yang besar pada dunia tulis menulis. Sebagai Muslim kita perlu disadarkan bahwa sebenarnya Allah SWT sangat menghargai dunia tulis menulis. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Qalam: ayat 1 yang artinya, “Nuun, Demi Qalam dan apa yang mereka tulis”.  Qalam dalam Bahasa Indonesia artinya pena. Orang-orang pada masa Nabi Muhammad SAW menggunakan qalam sebagai alat untuk menuliskan ilmu pengetahuan. Hasan al-Banna, seorang ulama besar yang juga penulis mengatakan bahwa seorang muslim haruslah sama baiknya dalam hal membaca dan menulis.
Jadi merupakan pilihan tepat dan investasi berharga jika memberikan perhatian yang besar dan tindakan nyata dalam dunia tulis menulis. Kemajuan dibidang tulis menulis hendaknya juga mampu dimanfaatkan sebagai sarana juang bagi dakwah Islam. Lalu bagaimana caranya agar seseorang bisa menjadi penulis? Bukankah hampir setiap orang pernah menulis, minimal menulis surat. Bukankah menulis itu mudah dan menyenangkan, seperti halnya menulis surat atau menulis catatan harian, menulis apa yang ingin ditulis.
Seseorang dapat menguasai keterampilan menulis dengan sering berlatih dan dapat membuat sebuah karya tulis dengan banyak membaca. Tidak ada cara lain untuk menjadi pandai menulis selain dengan giat meningkatkan keterampilan menulis, banyak membaca, dan teruslah menulis. Banyak hal yang dapat seseorang lakukan untuk melatih keterampilan menulis. Seperti menulis ringkasan atau tanggapan dari buku yang dibaca, menulis surat atau menulis catatan harian, atau menulis tentang peristiwa menarik yang terjadi disekelilingnya.
Kemudian perlu adanya tindakan nyata dengan mengirimkan hasil karya tulisnya kemedia cetak. Jadikanlah menulis sebagai kendaraan pengabdian, dimana seseorang bisa berbuat dan memberi manfaat dengan karya nyata bagi agama, masyarakat, dan bangsa. Bergegaslah berjuang, wahai orang yang senang berjuang!***

*Research Associate dibidang Pengembangan Anak
Komunitas Penulis EWA M’Co

1 comment September 12, 2007

Terlahir Sebagai Penulis?

Oleh : Rahmadona Fitria*

Profesi menulis bukanlah hal baru. Banyak penulis penulis, baik lokal, nasional, atau mannegara yang menggelutinya. Bahkan, artis Rieke Diah Pitaloka dan pelawak Kelik Pelipur Lara menekuni. Mungkin, karena profesi penulis sama menjanjikannya dengan entrepenuer dalam hal materi atau lebih pada kepuasan batin, yakni bisa menghasilkan karya berupa tulisan yang bisa diminati dan bermanfaat bagi banyak orang. Atau, bisa juga karena menulis itu mudah dan menyenangkan. Apa pun alasannya, sah-sah saja. Siapa pun berhak menulis. Selama tulisaan mengandung kebaikan dan bermanfaat. Berikut pengalaman tentang spirit dan motivasi menulis.

Sejak beberapa waktu lalu aku sangat bersemangat lagi untuk menulis. Mungkin, termotivasi suami yang sedang ketagihan menulis setelah mengikuti pelatihan. Awalnya aku kurang berkenan, sebab kog menekuni minat dan hobiku. Menulis sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Karena hambatan waktu dan kesibukan sebagai ?Research Associate? di bidang pengembangan anak dan tengah membesarkan tiga anak yang masih kecil.

Suamiku tahu itu dan aku merasa ia telah mengambil kesempatan yang harusnya milikku. Ketika kukomunikasikan perasaanku, alasannya menulis agar aku termotivasi menulis. Kemudian aku berfikir, aku mungkin tidak punya kesempatan untuk mengikuti pelatihan menulis, tapi suamiku punya kesempatan itu. Dia bisa sharing ilmunya padaku, aku berfikir positif, apalagi setelah tulisan suamiku dimuat di koran.

Aku menghibur hatiku, kalau tidak bisa menjadi penulis seperti yang pernah kucita-citakan, bersyukur suami yang mewujudkannya. Melihat suami rajin menulis, benar-benar termotivasi. Ngobrol tentang tulisan jadi asyik dan menyenangkan. Padahal dulunya kurang respon, sekarang nyambung habis.

Rasanya seperti punya partner baru yang menyukai bidang yang sama. Bukankah menyenangkan memiliki pasangan yang sama minatnya? Suami selangkah lebih maju karena ia menulis dan tulisannya sudah dimuat di koran. Aku ikut berbangga karena itu merupakan awal dari kesuksesan. Suamiku bisa kenal dengan penulis ternama dan bergaul di lingkungan orang-orang yang suka menulis, bagiku merupakan kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Sungguh merupakan langkah awal yang menjanjikan dan peluang yang besar menuju kesuksesan dalam bidang menulis. Jika memang benar suamiku terjun ke dunia menulis karena berniat untuk memotivasi dan mendukung minat menulisku, semoga Allah SWT yang maha pengasih dan penyayang membalas niat baiknya dan senantiasa mengiringinya dengan cinta dan kasih-Nya. Amin.

Suamiku enteng saja bersuara, menulis itu mudah. Eh, ?Ding? menulis itu benar-benar bisa bikin kaya ya. Coba bayangkan kalau dalam sehari kita bisa bikin dua tulisan, kalau setahun berapa tulisan yang kita hasilkan. Aku suka tertawa kalau mengingatnya. Salut buat Sang Guru yang bisa membuat suamiku menjadi respon dan ketagihan menulis.

Sekarang aku mulai menulis lagi disela-sela kesibukan. Kadang terganggu oleh ?asistenku?, walaupun begitu mereka bisa jadi sumber inspirasiku dalam menulis. Menulis memang tidak semudah ketika belum berumah tangga. Ada hal-hal lain yang membutuhkan perhatianku. Aku masih ingat, sejak kecil aku akrab dengan pena dan buku harian, menulis adalah temanku. Aku terbiasa sharing mencurahkan isi hati dengan menulis. Tapi sejak berumah tangga, teman ngobrolku ya suami. Jadi kalau suami tidak ada aku bisa jadi suntuk karena untuk menulis pun repot dengan anak-anak.

Jujur saja, mungkin aku termasuk tipe orang yang kurang pandai berbicara atau bicara didepan umum. Tapi aku punya kemampuan bicara melalui tulisan. Suamiku lebih punya peluang besar untuk jadi penulis, karena ia berada dan berinteraksi di lingkungan penulis. Aku tidak punya kenalan seorang penulis dan aku pun tidak berada di lingkungan para penulis. .

Ada banyak jalan untuk menjadi penulis. Saat ini aku menulis, karena memang aku ingin menulis seperti dulu aku suka menulis. Aku senang menulis dan aku tidak akan berhenti menulis, karena I was born to write, aku terlahir untuk menulis.

*Research Associate dibidang Pengembangan Anak dan komunitas penulis EWA?MCo.

4 comments August 5, 2007

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

September 2008
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Posts by Month

Posts by Category