Posts filed under 'Muslimah'




Semangat Kebangkitan Nasional

Oleh : Rahmadona Fitria*

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei merupakan salah satu peristiwa bersejarah di negeri kita tercinta, Indonesia. Ada sebuah pernyataan inspiratif dalam salah satu iklan ditelevisi yang bunyinya kurang lebih begini; “Ada banyak cara memaknai hari kebangkitan nasional. Ada banyak cara berbakti untuk negeri”. Siapa pun bisa memberikan kontribusi manfaat bagi negeri, sesuai dengan kompetensi masing-masing dalam rangka memperingati 100 tahun ‘Hari Kebangkitan Nasional’.
Setiap manusia tentunya dilahirkan ke dunia ini dengan dibekali potensi (kemampuan) masing-masing sebagai karunia dari Allah Swt. Ada yang memiliki potensi di bidang pendidikan, di bidang sosial, di bidang kesenian, di bidang menulis, dan berbagai bidang lainnya. Maka hendaknya setiap orang mengenali kelebihan dirinya dan mendalami suatu bidang yang dirasakan paling mampu ia kuasai. Karena setiap manusia akan dimudahkan oleh Allah Swt pada setiap kemampuan yang telah diciptakan untuknya. Kemudian memfungsikan kemampuan tersebut sesuai dengan tempatnya, baik berupa ilmu atau profesi.
Dalam sebuah organisasi yang bergerak di bidang apapun, alangkah bijaksana jika setiap anggotanya dapat berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Setiap orang berbuat atau mendapatkan tugas sesuai dengan  kemampuan di bidangnya, melakukan hal-hal yang mampu dikerjakan untuk kebaikan dan kemajuan bersama. Seseorang yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidangnya akan termotivasi melakukannya, tekun dan menganggap apa yang ia lakukan itu penting. Sebaliknya, menerima atau mengerjakan tugas yang tidak sesuai dengan kemampuan di bidangnya hanya akan menghasilkan kinerja yang tidak maksimal dan menghambat jalan organisasi, sekalipun ia tahu pekerjaan itu penting bagi dirinya, bagi orang yang menyuruhnya, dan bagi kepentingan orang banyak.
Mari kita renungkan sejenak apa yang terdapat dalam sebuah hadist, Abu Musa Ra berkata,”Rasulullah Saw bersabda,”Seorang mu’min bagi mu’min yang lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan sebagian dengan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari Muslim). Dalam segala aspek, semestinya potensi setiap manusia atau setiap anggota (dalam sebuah organisasi) mengarah kepada upaya saling menguatkan satu dengan yang lain, bukan saling melemahkan dan menjatuhkan atau menguasai. Potensi pada masing-masing bidang (politik, ekonomi, sosial, kesenian, penulisan, dsb) jika difungsikan dengan benar, niscaya menjadi kekuatan yang luar biasa menggetarkan. Sehingga kinerja setiap orang atau anggota organisasi akan lebih optimal dan mencapai hasil yang dirasakan kontribusi manfaatnya bagi kepentingan orang banyak.
Seseorang yang mendapatkan tugas tidak sesuai dengan potensi di bidangnya, ibarat robot  yang melakukan sesuatu karena diatur  tanpa ‘sense of  belonging’ (merasa memiliki) terhadap pekerjaan tersebut. Akhirnya kerugian ada di dua pihak. Wajar jika hasilnya kurang maksimal, tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan organisasi. Rasulullah Saw bersabda, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran”  (Al-Hadits).
Realitanya, kita sering menjumpai orang yang melakukan pekerjaan berdasarkan kesempatan (lowongan) yang ada atau pekerjaan yang dianggap prestise (bergengsi) di mata masyarakat. Sebaiknya hindari melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan potensi, lebih baik mengerjakan sesuatu sesuai dengan bidang yang ditekuni dan memperoleh hasil optimal.
Orang yang sukses akan selalu menjaga potensi dirinya sehingga profesional di bidangnya. Seremeh apapun pekerjaan yang dilakukan seseorang jika sesuai dengan bidang yang ia tekuni, maka ia akan menikmati, bersemangat mengerjakannya, dan menganggap pekerjaan itu penting. Jika setiap orang bergerak dan berbuat untuk tujuan kebaikan sesuai dengan kemampuan di bidangnya, betapa besar kontribusi manfaatnya bagi negeri. Dengan semangat kebangkitan nasional, mari optimalkan potensi diri!***

*) Konsultan remaja
lembaga psikologi ‘Mitra solusi’Banjarbaru,

Add comment July 4, 2008

Indahnya Silaturrahmi

Oleh : Rahmadona Fitria

Pertemuan yang sebenarnya tidak terduga tapi masih meninggalkan kesan. Sore itu, suami mengajak untuk bersilaturrahmi sebagai salah satu agenda kegiatan dakwahnya. Suami sudah lebih dahulu kenal dengan keluarga tersebut sedangkan saya baru pertama kalinya. Kebetulan pada saat itu ada orang lain yang juga bertamu ke rumah keluarga tersebut,  tidak lama setelah kami datang.
Tamu tadi ternyata masih famili dari keluarga tersebut. Beberapa waktu kemudian ada saja tamu laki-laki yang berdatangan, akhirnya para ibu mengungsi ke rumah tetangga. Di rumah tetangga inilah saya terlibat perbincangan yang cukup akrab dengan si ibu yang masih famili dari tuan rumah keluarga yang kami silaturrahimi tadi.
Saya agak heran karena kami baru pertama kali bertemu, tapi si ibu tadi dengan tulusnya bercerita tentang pengalaman hidupnya kepada saya. Saya berpikir positif saja, mungkin ibu itu mempercayai saya. Lagipula saya tidak punya kepentingan apa-apa terhadap beliau, saya kira begitu pula sebaliknya.
Jujur, saya bersimpati dan kagum kepada beliau. Beliau adalah sosok wanita yang patut dihargai dan ditiru. Walaupun mungkin figur yang cukup langka, bahkan mungkin tidak menarik perhatian untuk ukuran zaman sekarang. Saya pikir, seandainya suami beliau mengetahui ketulusannya, tentulah ia akan menjadi seorang lelaki yang sangat bersyukur. Selain memiliki harta kekayaan melimpah juga memiliki harta berupa seorang isteri yang amanah dalam menjaga keselamatan akhlaq suaminya.
Bukankah jarang ada figur seorang istri yang rela mengorbankan aktivitasnya di luar rumah demi menjaga kemuliaan dan keselamatan akhlaq keluarganya, terutama suaminya. Padahal aktivitas yang beliau ikuti di luar rumah adalah aktivitas positif dan bukan aktivitas yang bertentangan dengan  norma agama.
Beliau menuturkan, lebih memilih mengikuti kemauan suami yang meminta untuk tetap diam di rumah daripada aktif di luar tapi suami mengancam dan terancam jatuh pada kemaksiatan. Semua yang dilakukannya hanya demi menjaga keselamatan akhlaq sang suami, subhanallah! Saya kira ini bukan pengorbanan yang mudah dan remeh.
Menurut saya, beliau ini sosok wanita yang cukup cerdas memotivasi diri dengan pendekatan religius. Dari penuturannya, beliau ini senantiasa menghubungkan segala peristiwa yang dialami tidak lepas dari campur tangan Allah SWT, bahwa Dia lah yang mengaturnya. Beliau menambahkan, senantiasa menjalin hubungan dengan sang pengatur segala urusan yakni Allah SWT melalui ibadah sholat tahajud dan dari sinilah sumber kekuatan yang dimilikinya. Sehingga tidak takut dan sedih terhadap persoalan yang menimpanya.
Beliau juga menceritakan pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan meminta pendapat saya dengan mata berkaca-kaca apakah menurut saya pertemuan dalam mimpi itu benar ? Beliau bilang selalu berkaca-kaca jika mengingat mimpi tersebut karena merasa tidak layak memperoleh kemuliaan bermimpi bertemu Rasulullah. Tentu saja saya tidak berani membenarkan karena tidak punya pengetahuan tentang hal itu. Tapi saya katakan, sepengetahuan saya kalau sosok Rasulullah tidak tergambar secara jelas dalam mimpi itu mungkin saja pertemuan itu benar karena setan tidak bisa menyerupai Rasulullah. Beliau bilang wajahnya memang tidak begitu jelas tapi sosok itu bercahaya, memakai jubah dan sorban putih, mengucapkan salam dan beliau meyakini bahwa itu adalah Rasulullah.
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuan dengan beliau, namun masih meninggalkan kesan mendalam untuk dikenang. Pertemuan itu menambah masukan bagi saya yang sedang belajar memperdalam bidang ilmu tentang kepribadian. Tidak ada maksud lain bagi saya mengangkat figur beliau dalam tulisan saya, selain agar kita bisa mengambil pelajaran dan sebagai sebuah bentuk penghargaan. Ternyata masih ada sosok wanita di sekeliling kita yang memberikan contoh nyata tentang sebuah kebaikan dengan menjadikan agama sebagai motivasi dan solusi dalam menghadapi permasalahan hidup di zaman materialistis seperti sekarang; di mana keselamatan akhlaq tidak mendapat perhatian dan dikesampingkan.
Wahai ibu, semoga ini dapat menjadi sebuah kabar gembira buat ibu, di sebuah majalah Islam, nama majalahnya Sabili, ada pembahasan tentang mimpi bertemu Nabi. Disitu disebutkan ; bertemu Rasulullah di dalam mimpi adalah berkah tersendiri. Sebab, ia termasuk ru’yah shadiqah atau mimpi tentang kebenaran. Dan hampir semua mengatakan mimpi bertemu Nabi akan membawa perubahan.
Semoga ibu senantiasa istiqomah dalam menjalankan amanah menjaga keselamatan dan kemuliaan akhlaq suami beserta keluarga, Amin Ya Rabbal Alamin.***

Add comment April 14, 2008

Airmata Dan Pelukan

Oleh : Rahmadona Fitria

Subhanallah ! Pagi itu, tepatnya hari sabtu, tanggal 12 april 2008 menjadi hari yang sungguh berkesan dalam kehidupanku. Suasana hati yang tadinya mendung kelabu seketika berganti cerah ceria, setelah diguyur oleh tumpahan hujan airmata dan hangatnya pelukan tulus penuh kasih dari suami tercinta. Perbincangan serius yang biasanya berakhir dengan mempertahankan pendapat masing-masing, berganti menjadi pemandangan yang mengharu biru.Ya, jika ini sebuah drama atau cerita dari sebuah  novel percintaan bisa dibilang “Happy Ending”.
Akhir perbincangan kami kali ini menghasilkan solusi yang menentramkan batin. Belum pernah aku mengalami, mendiskusikan suatu persoalan dengan suami yang berakhir dengan tangis dan subhanallah ! dia menangis sambil memelukku yang juga menangis. Semoga Allah SWT memberikan berkahNya pada kami melalui peristiwa ini.
Bagiku, airmata dan pelukan suami saat itu juga menjadi transfer motivasi cinta yang tulus. Ternyata sampai pada hari ini dan detik ini, ketika menuliskan kisah ini transfer motivasi cinta itu masih kuat bertahta dihatiku. Ku iringi doa semoga selamanya ini menjadi solusi dan penyemangat diri dalam mendampingi suami, sehingga senantiasa bergandengan tangan seiring sejalan untuk meraih ridho Allah.    Bila sebelumnya aku hanya berada di belakang layar dalam mendukung kegiatan dakwah suami dan sempat memutuskan untuk berhenti, ternyata Allah punya rencana lain dan jika Allah yang berkehendak siapakah yang mampu menolaknya?. Akhirnya, Allah menggerakan hatiku melalui sebuah kalimat indah dari sebuah buku : “Menjadi Muslimah Sukses Dunia Akhirat” yang dari itu aku berguru dan memperoleh ilmu serta mengubah arah hidupku. Kalimat itu berbunyi ;  ketaatan kepada suami merupakan ibadah yang dapat memasukkan muslimah ke surga, sebaliknya tidak mentaati suami padahal ia mengajak kepada kebaikan akan mengakibatkan dosa dan kemurkaan Allah SWT. Maka aku memutuskan untuk kembali, berusaha menetapkan langkah agar bisa seiring sejalan dengan aktivitas dakwah suami, semata-mata aku tidak ingin mendapat murka Allah.
Jika kemudian aku mengalami berbagai peristiwa yang menguji langkah dalam mendampingi aktivitas dakwah suami, hanya hikmah dan hikmah yang justru memperkaya wawasan serta pemahamanku tentang Islam, subhanallah! Satu tekadku minimal aku tidak menambah beban permasalahan jama’ah dan ummat serta berusaha belajar agar bisa memposisikan diri menjadi salah satu solusi bagi ummat. Insya Allah, Amin Ya Rabbal Alamin.
Satu lagi, airmata dan pelukan suami tercinta sebagai trasfer motivasi cinta yang tulus bagiku merupakan definisi bahasa kalbu ; ‘kamu ada, untuk menerima dan melengkapi kekuranganku’. Semoga Allah menguatkan langkahku, la haula wa la quwwata illa billah.***

2 comments April 14, 2008

Fatimah Binti Muhammad

LAHIR bersamaan dengan terjadinya peristiwa agung yang menggoncangkan Makkah, yaitu peristiwa peletakkan Hajarul Aswad disaat renovasi Ka`bah. Julukannya adalah al-Batuul, yaitu wanita yang memutuskan hubungan dengan yang lain untuk beribadah atau tiada bandingnya dalam keutamaan ilmu, akhlaq, budi pekerti, kehormatan dan keturunannya.
Ketika Fathimah beranjak dewasa, Abu Bakar dan Umar bergiliran untuk meminangnya namun Rasulullah SAW dengan halus menolaknya. Dan kemudian ia dinikahkan Rasulullah SAW dengan Ali bin Abi Thalib ra dengan mahar berupa baju besi pemberian Rasul atas perintah Allah SWT . Ali bin Abi Thalib ra.bercerita bahwa disaat ia menikahi Fatimah, tiada yang dimilikinya kecuali kulit kambing yang dijadikan alas tidur pada malam hari dan diletakkan di atas onta pengangkut air pada siang hari.
Kemudian Rasulullah SAW membekali Fatimah dengan selembar beludru, bantal kulit yang berisi sabut, dua buah penggiling dan dua buah tempayan air. Saat itu mereka tak memiliki pembantu, maka Fatimahlah yang menarik penggiling itu hingga membekas ditangannya, mengambil air dengan tempat air dari kulit biri-biri hingga membekas dipundaknya dan menyapu rumah hingga pakaiannya terkotori oleh asap api.
Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra. Didapatinya Fatimah sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, “apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fatimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fatimah berkata, “ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan ananda menangis”. Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fatimah melanjutkan perkataannya, “ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta ‘ali (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah”.
Mendengar perkataan puterinya tersebut Rasulullah SAW menghiburnya seraya bersabda kepada anandanya, “jika Allah SWT menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.
Manakala Ali mengetahui bahwa Rasulullah SAW memperoleh banyak pelayan, ia berkata kepada Fatimah agar meminta kepadanya seorang pelayan. Namun Rasulullah SAW tidak mengabulkannya dan sebagai gantinya beliau mengajarinya beberapa kalimat do`a, yaitu membaca tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing 10x setelah sholat dan mengajarkan untuk membaca tasbih 30x, tahmid 30x dan takbir 34x ketika hendak tidur. Ketika pulang, Ali pun bertanya, “Apa yang kau dapatkan wahai fatimah?”. Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk urusan dunia dan aku pulang dengan mendapatkan bekal akhirat.”
Demikianlah hingga sepanjang hidupnya Fatimah jalani sesuai dengan yang dinasehatkan oleh Rasulullah SAW kepadanya, konsisten dalam kebaikan dan mengakhiri hidupnya setelah menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Salah satu doa yang senantiasa dipanjatkan olehnya, “Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas penciptaanku dan jangan Kau biarkan aku disibukkan oleh urusan selainnya”. Subhanallah, Fatimah meninggal ketika ia telah menyelesaikan tugas hidupnya berbakti pada orangtua (Rasulullah SAW), suami dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang tercatat kemuliaannya oleh sejarah.
Dari pernikahan Ali dan Fatimah, Rasulullah SAW memperoleh 5 orang cucu, Hasan, Husein, Zainab, Ummi Kultsum dan yang satu meninggal ketika masih kecil. Fathimah telah meriwayatkan hadits Nabi SAW sebanyak 18 buah. Beliau wafat pada usia 29 tahun dan dikebumikan di Baqi` pada selasa malam, 3 Ramadhan 11 H.
Hikmah yang bisa kita ambil dari cerminan kehidupan Fatimah :
- Kesuksesan itu adalah ketika seseorang berproses secara konsisten mencapai cita-cita yang mulia (dalam bingkai Islam) dan kesuksesan itu terlihat pada bagaimana seseorang itu mengakhiri hidupnya dengan baik.
- Sesungguhnya kesuksesan seorang perempuan terletak pada kecerdasan dalam mencari posisi sesuai dengan kondisi (kekurangan & kelebihannya) dan optimal di dalamnya.
Kuncinya : Kenali karakter dan potensi diri, jadikanlah fitrah dari Allah SWT sebagai aktualisasi diri, kemudian berbuatlah lebih banyak dengan dibingkai ajaran islam. Dekatkan diri kepada Allah SWT agar memperoleh kekuatan ruhani (hati), sumber kekuatan yang sebenarnya. Wallahu A’lam***

*) Sumber : Kisah Teladan & cerita Islami di internet,
Buku “Karena Engkau Perempuan” (FLP Yogyakarta),
Buku “Kisah Fatimah az-Zahra (Abbas Azizi)
*dipublish juga pada weblog: www.rahmadona.wordpress.com

1 comment March 4, 2008

Bila Saat Itu Tiba

Oleh : Rahmadona Fitria

Bagaimana Anda memahami arti sebuah kesuksesan ? Saya yakin setiap orang tentu memiliki pandangan yang berbeda. Pengertian sukses secara umum itu relatif atau subjektif, tergantung masing-masing orang yang menilainya. Ada yang memandang kesuksesan dari segi kekayaan, ketenaran, jabatan atau kekuasaan. Kalau saya lebih cenderung pada pengertian kesuksesan dari cerminan hidup Rasulullah, keluarga, dan sahabat beliau. Artinya kesuksesan itu adalah ketika seseorang berproses secara konsisten mencapai cita-cita yang mulia (dalam bingkai islam) dan kesuksesan itu terlihat pada bagaimana seseorang itu mengakhiri hidupnya dengan baik.
Seperti apa jelasnya, untuk lebih mudah memahami pengertian kesuksesan tersebut ada baiknya kita membuka kembali sejarah hidup Rasulullah Saw. Mari kita pusatkan perhatian kita pada akhir dari kehidupan beliau. Yakni ketika turun wahyu terakhir yang terekam dalam Al Qur’an surah Al-Ma’idah ayat ke-3,
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. Ayat ini menjadi pertanda bagi Rasulullah bahwa beliau akan meninggal. Hikmah yang bisa kita ambil dari perjalanan akhir hidup Rasulullah dalam kaitannya dengan pengertian kesuksesan adalah bahwa beliau telah menjalankan tugas hidup mengemban dakwah mengajak manusia kembali pada Allah Swt secara konsisten hingga akhir hidup beliau. Dengan kata lain beliau mengakhiri hidupnya setelah menyelesaikan tugas hidup sebagai pengemban dakwah dengan baik. Subhanallah, akhir hidup yang sempurna.
Saya jadi teringat dengan ungkapan-ungkapan umum yang menggelitik  seperti,”Kasihan ya masih muda sudah meninggal” atau “Ga mau ah mati muda, saya kan belum nikah”. Seolah-olah segala kenikmatan hidup hanya bisa kita rasakan di dunia saja. Padahal yang semestinya menjadi tolak ukur bukan usia atau status tapi apa yang sudah kita perbuat dengan kehidupan dan umur yang diberikan Allah Swt kepada kita. Bukankah surga juga menyediakan berbagai kenikmatan bahkan lebih dari kenikmatan-kenikmatan yang ada di dunia ? Dengan catatan,  kenikmatan surga tersebut bisa kita peroleh jika kita memiliki orientasi kesuksesan hidup dunia akhirat.
Secara sederhana, kita juga bisa belajar kesuksesan dari kehidupan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra. Kita tahu Fatimah meninggal dalam usia yang masih muda. Hidupnya banyak dihabiskan dengan mengabdikan diri berbakti kepada Allah Swt. Ia gunakan umur dan kehidupannya mengurus keluarga  dengan ikhlas dalam kerangka ibadah kepada Allah. Lihatlah, ia pun mengikuti cara hidup Rasulullah, konsisten dalam kebaikan dan mengakhiri hidupnya setelah menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Bahkan saya sangat terkesan dengan salah satu doa yang senantiasa dipanjatkan olehnya, “Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas penciptaanku dan jangan Kau biarkan aku disibukkan oleh urusan selainnya”. Subhanallah, Fatimah meninggal ketika ia telah menyelesaikan tugas hidupnya berbakti pada orangtua (Rasulullah Saw), suami dan mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang tercatat kemuliaannya oleh sejarah.
Kematian memang identik dengan berakhirnya segala kenikmatan hidup di dunia. Mungkin akan terdengar aneh ketika seseorang dikatakan sukses meraih cita-cita hidup dengan kematiannya. Cita-cita biasanya diartikan sebagai sesuatu yang dicapai dalam kehidupan sehingga kemudian dengan tercapainya cita-cita tersebut seseorang bisa dikatakan sukses lalu dengan kesuksesannya itu ia bisa menikmati hidup. Begitulah pendapat popular tentang cita-cita dan kesuksesan hidup yang beredar ditengah-tengah masyarakat. Setiap orang berhak menentukan pilihan hidupnya karena hidup ini memang menawarkan banyak pilihan.
Saya mungkin tidak setabah Fatimah atau setegar A’isyah. Saya hanya seorang perempuan yang memilih berusaha konsisten untuk sukses menjadi muslimah sholehah. Dan bila saat itu tiba, saya bercita-cita bisa mengakhiri hidup saya seperti halnya Fatimah, meninggal setelah menyelesaikan tugas hidup saya dengan baik, Insya Allah. Amin Allahuma Amin. Alangkah indahnya ketika mengakhiri hidup dalam keadaan rela melepaskan segala kenikmatan dunia dan diridhoi oleh sang pemilik jiwa raga, Allah Swt.***

13 comments February 10, 2008

Ajari Aku Jadi Pendampingmu

Oleh : Rahmadona Fitria

Ibarat kata pepatah : Pucuk dicinta ulam tiba, demikianlah yang kudapat dari membaca buku ‘Karena engkau perempuan’. Berbagai peristiwa hidup yang kualami mengantarkan diri ini sampai pada kesadaran untuk lebih memahami dan mengahayati peran sebagai seorang perempuan. Kesadaran ini memotivasi diri mencari ilmu tentang bagaimana jati diri perempuan yang sebenarnya dalam kehidupan agar sukses dunia akhirat. Apa yang kucari kutemukan jawabannya pada buku ‘Karena engkau perempuan’.
Bahwa pengalaman adalah guru terbaik ternyata benar adanya. Buktinya banyak pelajaran didapat dari setiap peristiwa dalam perjalanan kehidupanku. Ada saja hikmah yang kupetik dari pengalaman hidupku. Dan diri ini pun meyakini, setiap harinya kita senantiasa tidak pernah berhenti belajar dari berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup kita.
.Berawal dari pengalaman yang diperoleh selama mengarungi samudera kehidupan dengan pasangan jiwa, suami tercinta. Beragam peristiwa turut mewarnai perjalanan diri dalam memainkan peran sebagai seorang pendamping. Tidak mudah menjadi sosok perempuan ideal. Itu pandanganku ketika belum memiliki pengetahuan tentang jati diri seorang perempuan. Begitu sulit menjalankan peranku dalam mendampingi suami terutama berkaitan dengan ruang lingkup pekerjaan yang ia pilih. Pekerjaannya termasuk jenis pekerjaan sosial yang mengabdikan diri demi kepentingan masyarakat. Sehingga seringkali terjun langsung kelapangan. Aku merasa kesulitan untuk menyamakan langkah agar seiring sejalan dengannya. Tapi justru aku belajar banyak dari pengalaman jatuh bangun dalam mengejar ketinggalan untuk bisa sejajar langkah bersamanya.
Bagaimana sebaiknya aku menjalankan peranku sebagai perempuan terutama sebagai pendamping ? Inilah yang kutemukan jawabannya pada buku ‘Karena engkau perempuan’. Hidup berpasangan tidak lepas dari penilaian, begitu pula halnya yang berlaku pada pasangan suami isteri. Seorang isteri ada kalanya dikaitkan dengan status sosial yang disandang suaminya. Ini pula yang terkadang membebaniku untuk bersikap. Aku ingin orang menilaiku apa adanya diriku, karena aku adalah aku, aku tidak sama dengan suamiku. Aku memiliki potensi yang berbeda dengan suamiku. Tapi tidak mungkin merubah penilaian orang, yang bisa kulakukan adalah kembali mengikuti saran ilmu psikologi yaitu mengubah cara berpikir dan perasaanku terhadap sesuatu.
Sudah menjadi pendapat umum, jika suami memiliki jabatan maka dengan sendirinya naik pula derajat sang isteri. Tidak heran apabila timbul anggapan, seorang perempuan dikatakan beruntung jika suami atau calon suaminya mempunyai jabatan tertentu dalam pekerjaannya. Seolah-olah keberuntungan, keberhasilan dan kemuliaan seorang perempuan tergantung pada status yang disandang oleh suaminya. Banyak dongeng dan cerita yang beredar dimasyarakat juga mendukung anggapan demikian. Sehingga bertaburanlah mimpi para perempuan untuk memperoleh keberuntungan dan kemuliaan yang didapat dari jabatan dan kekayaan suami atau calon suaminya.
Bagiku membaca tulisan saudari Jazimah Al Muhyi yang berjudul keberuntungan perempuan versi dongeng (dalam buku ‘Karena Engkau Perempuan’) benar-benar suatu pencerahan tentang identitas perempuan yang sesungguhnya. Semestinya memang seorang perempuan dihargai karena potensi yang ada pada dirinya (baik dalam menjalankan peranannya sebagai ibu rumah tangga atau profesi lainnya), bukan karena pekerjaan, jabatan atau kekayaan suaminya. Seorang perempuan seperti juga pria diberi kesempatan oleh Allah dan sama-sama memiliki potensi dalam mencapai derajat dan martabat kehidupannya sendiri. Kemuliaan hidup seorang perempuan dapat dicapai dengan menguatkan pembinaan dirinya (fisik, intelektual, mental dan ruhani).
Ada beberapa hal yang saat ini kujadikan tuntunan dalam menjalankan peranku sebagai perempuan sekaligus pendamping (setelah membaca buku ‘Karena Engkau Perempuan), salah satunya adalah berbuat yang terbaik sesuai dengan kondisi (baik itu kekurangan maupun kelebihan) yang Allah berikan kepadaku dan optimal didalamnya. Semoga Allah Swt senantiasa memberiku kekuatan, Amin Allahuma Amin.***

5 comments February 10, 2008

Terapi Ramadhan

Oleh : Rahmadona fitria

Dimuat pada Harian Umum RADAR BANJARMASIN

 

Masih berada dibulan ramadhan, entah kenapa ramadhan kali ini begitu mempengaruhi suasana hati saya. Hal-hal yang ada hubungannya dengan keluarga begitu mudah menyentuh perasaan. Bagi saya pribadi, ramadhan ini merupakan bulan perenungan atas segala yang sudah saya kerjakan, terutama berkaitan dengan pelaksanaan tugas penciptaan yaitu sebagai isteri dan seorang ibu.
Ramadhan merupakan bulan produktif bagi aktivitas menulis saya. Mengisi waktu luang dengan membaca dan menulis terasa begitu nikmat, bagaikan oase yang menyejukan nurani yang kering. Perasaan ikut terbawa, ada saja sesuatu yang baru didapat dari bahan bacaan yang mempengaruhi perenungan diri. Menurut suami apa yang saya tulis akan dan seharusnya mendewasakan saya dalam melaksanakan pekerjaan yang diberikan Allah yaitu sebagai isteri dan ibu rumah tangga. Semoga ! Karena kalau tidak, apa bedanya saya dengan orang-orang yang mengatakan sesuatu kebaikan tapi diri sendiri tidak melakukannya. Semoga Allah melindungi saya dari hal yang demikian. Sehingga aktivitas yang saya lakukan bernilai ibadah dan berdampak untuk melatih serta memperbaiki diri, Insya Allah.
Pemahaman tentang tugas dan konsep penciptaan wanita menurut Allah yaitu sebagai isteri dan ibu yang sholehah bagi keluarga, membuat diri pernah bercita-cita semoga ketika ajal menjemput, diri ini dalam keadaan memberikan yang terbaik bagi suami dan anak-anak, tentu saja yang terbaik menurut Allah. Karena pada kenyataan sehari-hari diri ini masih begitu banyak kekurangan dalam memberikan pelayanan terhadap keluarga , mungkin masih jauh dari yang terbaik atau sebaik-baik perlakuan. Maafkanlah diri ini, wahai suami dan anak-anakku tercinta ! Begitu rindu dan inginnya diri ini ketika Allah menjemput untuk kembali padaNya, diri ini menikmati pensiun di alam sana dengan meninggalkan kesan dan kenangan yang baik pada diri suami dan anak-anak.
Semoga sifat-sifat istimewa yang dianugerahkan Allah pada wanita, seperti kelembutan, kasih sayang, rasa cinta, kepekaan, menjadi penyenang dan penentram masih tetap eksis dalam diri ini. Di balut kecenderungan akan fitrah keagamaan pada diri wanita, insya Allah ramadhan dapat menjadi terapi perilaku dan mental untuk melatih dan memperbaiki diri kembali ke keadaan fitrah dan tabiat kebaikan diri wanita. Perjuangan dalam meraih kembali tabiat istimewa wanita tersebut tentu tidak mudah. Perlu usaha yang sungguh-sungguh dan tekad yang kuat.
Ramadhan saat yang kondusif untuk berjuang dan berusaha. Diri terlatih untuk segera memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan sekecil apapaun kesalahan itu. Tutur kata dan perilaku senantiasa terjaga, karena semua amal ibadah dinilai secara langsung oleh Allah. Rasanya rugi jika hanya mendapat lapar dan dahaga dari puasa yang dikerjakan. Kemantapan kondisi fisik, mental, dan ruhani seorang wanita dapat lebih banyak mendatangkan kebaikan bagi keharmonisan rumah tangga dan suasana yang kondusif bagi pendidikan anak-anaknya. Mari manfaatkan momentum ramadhan dengan sebaik-baiknya! Semoga ramadhan benar-benar membawa perubahan berarti bagi kualitas diri sekaligus berdampak positif pada kualitas mendidik ***

1 comment September 26, 2007

Menghidupkan Kembali Hikmah

Oleh : Rahmadona Fitria

Salah satu cara mengatasi permasalahan keluarga dan pendidikan anak sepertinya dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali kisah-kisah hikmah pada zaman Nabi dan orang-orang sholeh di zamannya. Bukankah saat ini sudah tidak terdengar lagi kisah-kisah tersebut ? padahal dampak psikologisnya begitu kuat mempengaruhi sang pendengar. Adalah tugas para ulama untuk mengakrabkan kembali pada masyarakat kisah-kisah hikmah tersebut disetiap ceramahnya. Karena akan lebih berkesan dan didengar oleh masyarakat jika yang menyampaikan seorang yang meguasai ilmu agama.
Saya masih ingat ketika kecil sering mendengar ceramah tentang kisah-kisah hikmah tersebut melalui radio. Walaupun masih kecil dan belum terlalu paham tentang hikmah dari kisah tersebut, ternyata kisah tersebut masih membekas dan berkesan dalam ingatan saya. Seperti kisah hikmah tentang kunjungan Nabi Ibrahim ke rumah Ismail puteranya dan percakapannya dengan isteri Ismail.
Ada pun kedatangan Ibrahim bermaksud untuk menguji isteri Ismail. Ibrahim menanyakan kondisi kehidupan mereka. Isteri Ismail mengadukan bahwa kondisi mereka dalam kesempitan dan kesusahan. Maka Ibrahim berkata, “Jika suamimu tiba sampaikan salamku padanya dan katakan padanya supaya merubah posisi pintu.” Ketika Ismail pulang, diberitahukan lah tentang tamu tersebut. Ismail berkata, “Orang itu adalah ayahku, ia memerintahkanku untuk menceraikanmu. Pulanglah ke keluargamu.”
Kemudian Ibrahim mendatangi isteri Ismail yang lainnya. Ketika ditanya hal yang sama isteri Ismail menjawab, “Kami baik dan leluasa.”  Isterinya memuji Allah, dan Ibrahim berkata, “Jika suamimu datang sampaikan salamku padanya dan katakana padanya untuk mengokohkan posisi pintu.” Ketika Ibrahim mendengar keluhan isteri Ismail yang ia datangi pertama kali, menunjukkan sikap kufur nikmat. Sedangkan isteri Ismail yang memuji nikmat Allah menunjukkan sikap dan rasa syukur.
Isteri disebut sebagai posisi pintu karena isteri bertugas menjaga dan memelihara rumah tangga. Mengkufuri nikmat bukanlah sifat isteri yang baik, tetapi isteri yang sholehah jika ditanya tentang suaminya selalu memuji Allah, menyebut nikmat, dan menerima rezeki pembagian Allah dengan rela. Penahan amarah, penutup keluhan, dan menjaga akhlaknya dengan senatiasa bersyukur.
Pelajaran dan bekal menghadapi hidup dari kisah hikmah tersebut adalah jika seseorang tidak melihat adanya perubahan dalam kehidupannya, maka hadapilah dengan bersyukur. Seseorang yang terbiasa bersyukur akan selalu didatangi nikmat. Bagaimana tidak ? Sifat menerima adalah harta simpanan orang kaya, sedangkan bersyukur adalah pengikat nikmat yang ada, dan pemburu nikmat yang belum didapat. Allah SWT berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan,”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)
Pelajaran lainnya adalah berterima kasih atas pemberian suami baik itu banyak atau sedikit merupakan kewajiban seorang isteri sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah yang telah memberi rezeki kebaikan melalui tangan suami. Mengingkari, memarahi atau mengeluhkannya berarti mengkufuri nikmat Allah, dan dapat menyebabkan seseorang masuk neraka. Demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah hikmah Ibrahim dan isteri Ismail dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan hidup. Semoga dapat menjadi solusi nyata bagi kita semua, Amin. ***

Add comment September 26, 2007

Jilbab Pakaian Muslimah

Oleh : Rahmadona Fitria*

Trend berjilbab makin ramai didukung produk-produk jilbab bermerk. Bagi yang tidak sanggup membeli jilbab bermerek tetap bisa gaya dengan jilbab yang murah, tapi modelnya juga beragam. Apakah kita patut berbangga dengan trend berjilbab?.

Harap dicacat, sebagian muslimah menggunakan jilbab karena kesadaran akan ajaran agama. Ada yang karena ikut-ikutan. Ikut-ikutan karena kalau tidak berjilbab berarti tidak gaul. Berjilbab karena jilbab sekarang lagi ngetrend, kalau tidak berjilbab tidak keren. Apalagi, kini banyak artis yang berjilbab. Berjilbab ternyata penampilan tetap cantik dan modis. Tetapi tentu saja, perbedaan alasan ber jilbab tidak bisa dilihat dari penampilannya.????

Masalahnya adalah muslimah yang berjilbab karena ikut-ikutan tingkah lakunya kadang bikin gerah. Apakah mereka menganggap jilbab sama dengan jepit rambut atau topi yang hanya berfungsi sebagai hiasan atau pemanis penampilan? Apakah menganggap jilbab sama dengan helm yang hanya sebagai pelindung tubuh? Apakah karena trend mode? Atau, mengapa jilbab hanya dikenakan ketika kepasar atau bepergian???

Mengenakan jilbab adalah kewajiban agama, aturan Allah SWT kepada muslimah. Lalu mengapa banyak wanita bukan memahami esensinya, atau tidak takut? jika sewaktu-waktu wajah cantik dan tubuh indah yang dipamerkan bisa menjadi sumber bencana? Wahai saudariku mari perbaiki sikap sebelum terlambat.

Mengenakan jilbab tentu saja baik, tapi sebaiknya tidak sekedar ikut-ikutan saja dan menjadi korban mode. Ikut-ikutan trend berjilbab boleh saja tapi, tetapi harus disertai pemahaman. Ibarat pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Jadilah muslimah berjilbab karena kesadaran menaati perintah Allah SWT, sang pencipta manusia. Aturan berjilbab demi kebaikan, karena kasih saying Allah SWT dan untuk melindungi kehormatan kaum wanita dari kaum laki-laki yang lemah imannya, serta untuk membedakan wanita muslim dengan wanita bukan muslim. Jadi, mengumbar aurat dengan memamerkan keindahan tubuh sama saja menggoda lelaki yang lemah imannya. Selain berdosa juga mengundang malapetaka.

Merebaknya trend berjilbab akan membawa dampak positif jika diimbangi juga dengan maraknya pengetahuan mengenai tujuan berjilbab menurut ajaran agama. Berjilbab dengan tujuan yang benar, yaitu untuk menutup aurat. Menutup aurat tidak sekedar ketika bepergian saja, karena aurat haram hukumnya apabila dilihat oleh orang yang bukan muhrimnya.
Jadi, jilbab bukanlah asesoris. Bagi muslimah yang mengenakan jilbab seyogiaynya karena kesadaran keagamaan.

Bukankah sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah, bukan perhiasan-perhiasan lain yang sekedar berfungsi sebagai pelengkap atau pemanis penampilan? Semoga saja.

*Research Associate bidang Pengembangan Anak dan? KP EWA?MCo.

7 comments August 5, 2007

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

August 2008
M T W T F S S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category