Posts filed under 'Psikologi'




Survive Hadapi Masa Krisis

Oleh : Rahmadona Fitria*

SEMARAK peringatan hari Kebangkitan Nasional baru saja berlalu. Virus semangat untuk bangkit dan optimisme terhadap masa depan pun terasa menyentuh hati seluruh anak negeri. Akan tetapi rupanya spirit kebangkitan itu hanya bisa dinikmati sesaat, karena tiba-tiba kenaikan BBM menjadi mimpi buruk yang mampu menghapus secercah harapan yang ditiupkan dari semarak peringatan hari kebangkitan nasional.
Maka tidak mengherankan jika kemudian di mana-mana diwarnai dengan aksi menentang kebijakan mengenai kenaikan BBM. Mereka  meneriakan rintihan rakyat kecil yang semakin menderita akibat kebijakan tersebut. Apa boleh buat, toh pemerintah sudah menyiapkan BLT  sebagai kompensasinya. Menurut pakar psikologi Sartono Mukadis, sebenarnya masyarakat sudah bisa memahami kebijakan pemerintah menaikkan BBM. Jadi menurutnya yang gelisah bukan rakyat tapi elit politik.
Mengingat fakta bahwa sedikitnya 50 ribu orang Indonesia bunuh diri selama tiga tahun terakhir yang disebabkan  kemiskinan dan himpitan ekonomi, menuai kekhawatiran kalau kenaikan BBM akan memicu meningkatnya jumlah orang yang mengakhiri hidup dengan sengaja.
Menurut Ketua LBH Kesehatan Iskandar Sitorus, pada tahun 2005 setelah harga BBM dinaikkan, dua bulan kemudian RS Jiwa menjadi overload. Riset Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan di Jakarta  menyebutkan, potensi kenaikan jumlah penderita gangguan jiwa bisa naik hingga 40 persen (angka ini diambil dari statistik November 2005). Selain itu, pada tahun 2007 LBH Kesehatan juga mengutip data kelompok Advokasi Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia yang menyebutkan 12 persen dari total penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa. Menurut Iskandar, penyebab gangguan jiwa terbesar karena keterbatasan ekonomi dan jika tidak tertangani secara baik akan berpotensi mengakibatkan penderita terdorong untuk bunuh diri.
Beragam aksi menentang kenaikan BBM mungkin sebagai salah satu bentuk solidaritas terhadap penderitaan masyarakat. Tapi jika aksi-aksi tersebut diwarnai tindakan kekerasan dan merusak, bukan solusi yang didapat, justru akan menimbulkan konflik baru yang memperburuk keadaan. Tujuan untuk meringankan penderitaan masyarakat akhirnya tidak bisa dicapai, sebaliknya perhatian akan berbalik tertuju pada konflik baru.
Setiap orang mempunyai naluri kemanusiaan yang terwujud dalam bentuk empati dan kepedulian terhadap sesama. Ada banyak cara yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap permasalahan yang terjadi. Kepedulian seperti apa yang kira-kira tepat sebagai solusi dan sesuai dengan kebutuhan ?
Empati dan kepedulian dapat disalurkan melalui kegiatan sosial, sumbangan pemikiran melalui tulisan, bagi yang mampu dengan ilmu dapat mengajarkannya kepada masyarakat dengan memberikan pelatihan, mengadakan seminar atau kegiatan lainnya yang bermanfaat. Lakukanlah hal-hal yang mampu kita kerjakan untuk meringankan permasalahan yang terjadi disekitar kita demi kebaikan sesama manusia tanpa ada maksud-maksud tertentu dibalik itu. Biarlah Allah Swt saja yang memberikan imbalan atas perbuatan baik yang kita lakukan.
Keterpurukan akibat krisis yang merambah ke segala aspek kehidupan, membuat kita harus selalu senantiasa siap menghadapinya (this is not the end of the world). Kesadaran bahwa apa yang sedang kita jalani saat ini adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah kehidupan. This is the starting point for the new hope, kita dilahirkan untuk berjuang (born to fight) dan setiap manusia dibekali kemampuan untuk survive (bertahan) dalam menjalani kehidupan. Sikap optimis dalam menghadapi apa pun yang terjadi menjadi modal penting untuk bangkit dan berprestasi. Kunci penting dalam menciptakan atmosfer yang kondusif bagi diri dan lingkungan untuk survive adalah motivasi positif yang ada pada masing-masing individu.
Daripada setiap orang sibuk meramaikan  opini negatif tentang kenaikan BBM bukankah akan lebih bijaksana jika berbagai pihak berusaha menciptakan suatu solusi bagi permasalahan ini, bahkan dalam wujud yang sederhana ? Misalnya dengan berpenampilan bersahaja, berhemat (menghindari pemborosan), senang berbagi (dermawan) sebagai wujud nyata kepedulian dan empati terhadap permasalahan yang saat ini terjadi.***
*) Konsultan remaja
lembaga psikologi ‘Mitra solusi’ Banjarbaru, weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com

5 comments July 4, 2008

Tak Ada Yang Sia-Sia

Oleh : Rahmadona Fitria

Saat ini sedang marak berbagai pelatihan yang bertujuan untuk memberi motivasi. Pelatihan ini biasanya diadakan untuk memenuhi kebutuhan seseorang akan motivasi di berbagai ragam aspek kehidupan. Ada yang membutuhkan motivasi berprestasi, motivasi mengenai kebiasaan baik atau positif, motivasi bagi para “entrepreneur”, motivasi di bidang menulis dan lain sebagainya.
Mengapa setiap individu memerlukan motivasi dalam kehidupannya ? Saya kira, mungkin karena manusia tidak selalu berada pada kondisi stabil. Seperti halnya keimanan pada seorang muslim, kadang naik kadang turun. Setiap orang perlu motivasi agar kehidupannya senantiasa dalam keadaan seimbang atau proporsional.
Seperti yang kita ketahui terutama melalui media massa, pelatihan yang di ikuti seseorang ternyata memang membantu memunculkan atau meningkatkan motivasi. Saya pribadi pernah satu kali mengikuti pelatihan (keluarga SAMARA; Sakinah, Mawadah, wa Rahmah) dan membaca dua buah buku motivasi. Jujur saja, kalau dari pelatihan yang saya ikuti pengaruhnya hanya sesaat setelah kembali lagi ke rumah tidak ada perubahan berarti bahkan dibicarakan lagi pun tidak, seperti angin lalu saja.
Sedangkan melalui buku, rasanya lebih kuat pengaruhnya    pada diri saya. Saya merasakan ada perubahan-perubahan dan semangat positif dalam diri, beberapa kemajuan yang bisa diraih, maupun capaian berupa kemenangan-kemenangan kecil. Hanya saja ketika berada pada situasi yang tidak sesuai dengan harapan, saya kembali merasa melakukan kesalahan dan gagal. Itulah kelebihan dan kekurangan yang saya peroleh dari membaca buku motivasi.
Berbeda sekali dengan dampak yang saya temukan ketika membaca sebuah materi yang memuat sabda Rasulullah Saw secara lengkap. Saya katakan lengkap, karena sebenarnya sabda beliau tersebut sudah sering saya (kita semua) dengar, bunyi hadist tersebut yaitu, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di cintai Allah daripada mukmin yang lemah”. Pengertian kuat dalam hadist ini seringkali di maknai sebagai kekuatan fisik (jasmani) yang kemudian dikaitkan dengan kesehatan dan kebiasaan berolah raga.
Sedangkan bunyi hadist lengkapnya seperti ini, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih di cintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing mukmin ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allah dan jangan merasa tidak mampu, jika ada sesuatu yang menimpamu jangan katakan : “Kalau saja aku melakukan ini dan itu, pastilah begini dan begitu”. Akan tetapi katakanlah : “Allah Swt telah mentakdirkan dan apa yang dikehendakinya akan di jalankan”, sebab jikalau-jikalau (kalau saja-kalau saja) itu membuka kerja setan. (HR. Muslim, lihat hadist ke-6 pada bab mujahadah di kitab Riyadus Shalihin).
Bunyi hadist ini sungguh-sungguh mampu menggugah kesadaran dan membangkitkan semangat dalam diri saya. Makna kuat pada hadist lengkap ini menjadi lebih luas, tidak sekedar kekuatan fisik (jasmani) tapi juga mencakup kekuatan mental (jiwa) dan ruhani justru ini yang lebih penting. Hadist ini juga bagi saya bermakna bahwa setiap mukmin memiliki potensi kebaikan yang berbeda. Agar seseorang menjadi kuat ia perlu menyemangati diri dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Sehingga dengan itu tiap-tiap orang dapat melakukan amal sholeh sesuai potensi kebaikan yang sudah dikaruniakan Allah Swt ada dalam dirinya. Contohnya, Opick (pelantun lagu islami), ia beramal sholeh melalui jalur musik. FLP (Forum Lingkar Pena), mereka menggunakan tulisan sebagai sarana beramal sholeh.
Dalam hadist di atas kita dilarang merasa tidak mampu tapi juga di ingatkan untuk tidak merasa pasti mampu (takabur) namun hendaklah senantiasa meminta pertolongan kepada Allah Swt. Benar-benar memberikan pemahaman baru dalam diri saya. Mencampakkan perasaan tidak mampu, merasa telah melakukan kesalahan serta perasaan gagal ketika menemui situasi yang tidak sesuai harapan atau tidak berjalan sesuai rencana. Subhanallah ! Ternyata tak ada yang sia-sia dari segala kejadian yang menimpa setiap manusia melainkan ada hikmah dibaliknya. Jadi teruslah berikhtiar, tetaplah dalam istiqomah, dan bermujahadahlah. Allah Swt selalu ada bersama kita. Semoga Amal ibadah kita semua di ridhoi-Nya, amin.***

Add comment March 4, 2008

Kecenderungan Pamer Diri

000_1032.jpg
Oleh : Rahmadona Fitria

Kenyataannya, setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda. Kalau dalam bahasa psikologi ada orang dengan tipe kepribadian introvert (tertutup) dan ada pula yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert (terbuka), yang kemudian dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan atau pola asuh dimana seseorang itu dibesarkan.
Sehubungan dengan kedua tipe kepribadian tersebut, dinyatakan bahwa pada diri dan jiwa setiap manusia ada kecenderungan untuk menonjolkan diri (pamer), ingin dilihat, didengar atau dikagumi kerjanya. Jadi, baik tipe kepribadian introvert maupun ekstrovert memiliki kecenderungan ini.
Bagi individu yang berkepribadian ekstrovert, mungkin lebih mudah dan berani memamerkan kelebihan diri. Tapi, bagi individu yang berkepribadian introvert, kecenderungan alamiah untuk menunjukkan keahlian diri yang dikuasai hanya bisa ia ugkapkan dengan hasil karya atau kerjanya, bukan dengan ungkapan kata.
Tentunya perbedaan yang diciptakan oleh Allah swt bukanlah sesuatu yang harus menjadi perdebatan atau saling menghinakan melainkan disikapi dengan bijaksana, artinya perbedaan ada untuk saling melengkapi tidak untuk saling menyakiti. Ibarat terciptanya harmoni sebuah alunan musik disebabkan karena adanya bunyi nada yang berbeda.
Sebagai muslim yang baik kita hendaknya senantiasa saling menasehati dan mengingatkan, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dalam Islam melakukan suatu amal sholeh agar dilihat manusia (orang lain) sama dengan riya, sedangkan riya termasuk syirik kecil. Artinya ketika kita melakukan suatu amal sholeh dengan maksud agar dilihat, didengar, dikagumi dan diceritakan kepada manusia lain maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Swt.
Lalu bagaimana caranya agar kecenderungan menonjolkan diri (pamer) yang ada pada diri dan jiwa setiap manusia itu tidak membuat kita terperangkap atau terhindar dari sikap riya ? Allah Swt memberikan solusi kepada kita demi tersalurkannya kecenderungan tersebut, sebagaimana yang terdapat pada Al-Qur’an surat Qaaf ayat 18 dan surat Al-Infithar ayat 11. Allah Swt mengajarkan kepada kita agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan dan gerak gerik kita senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat  yang ditugaskan Allah Swt untuk hal itu.
Maksudnya, lakukanlah banyak amal sholeh dan pertunjukkanlah hanya kepada para malaikat itu (yang kita yakini senantiasa mengawasi, melihat, dan mendengar setiap ucapan maupun perbuatan kita) hal yang baik-baik, karena mereka sudah tentu akan menceritakan amal sholeh tersebut sebagai laporan kepada Allah Swt, Sang Maha penilai sekaligus pemberi penghargaan. Sehingga Dia pun akan melihatnya sebagai ibadah murni lillahi ta’ala dan menjadi ridho kepada kita. Insya Allah, amin allahuma amin.***

4 comments February 27, 2008

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

September 2008
M T W T F S S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Posts by Month

Posts by Category