Bukan Malaikat

Agustus 5, 2007 at 1:42 pm 3 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria*

BERINTERAKSI dengan anak bukanlah perkara yang mudah, memahami dunia anak jauh lebih sulit. Masih segar ingatan kita tentang beberapa kasus kekerasan dan penganiayaan terhadap anak, bahkan sampai tingkah polah anak yang meniru adegan kekerasan berbahaya ditelevisi hingga mereka sendiri yang menjadi korbannya.

Sebagai pendidik, baik itu guru maupun orang tua tidak mungkin luput dari kesalahan ketika berinteraksi dengan mereka. Apakah sebagai pendidik terutama orang tua, khususnya seorang ibu tidak boleh melakukan kesalahan dan harus selalu sempurna dalam proses mendidik anak? Begitulah adanya tuntutan masyarakat.

Pada umumnya ketika terjadi kasus tertentu pada anak, maka peran pendidik yang menjadi sorotan. Bukankah ada banyak konsep atau teori yang sudah diterapkan dalam proses interaksi tersebut? Mengapa tidak memberi hasil yang memuaskan, masih saja ada banyak PR yang menjadi bahan koreksi dan adalah tugas mulia menyandang gelar sebagai pendidik.

Berinteraksi dengan anak adalah kesempatan berharga untuk belajar menjadi pendidik yang baik dan selalu ada peluang tanpa batas yang mereka sediakan bagi kita untuk memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan . Kenyataannya, anak sebenarnya lebih pemaaf daripada orang dewasa ketika orang lain melakukan kesalahan terhadap mereka.

Mengendalikan amarah adalah problem sulit yang sering dialami oleh seorang ibu ketika menghadapi tingkah laku anak. Beberapa kasus kekerasan yang terjadi pada anak seringkali disebabkan karena marah. Lantas apakah marah terhadap anak menjadi masalah besar yang harus dibesar-besarkan? Tentu tidak. Tapi bukan pula berarti marah menjadi solusi yang dibenarkan.

Sangatlah mustahil dan tidak manusiawi jika dalam proses mendidik, seorang ibu selalu sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan walaupun setiap ibu tentu saja ingin menjadi pendidik yang ideal. Berputus asa dalam proses mendidik anak adalah investasi yang tidak bijaksana.? Menganggap akhir dari segalanya dan merasa gagal ketika melakukan kesalahan dalam proses interaksi dengan anak adalah sikap mental yang harus disingkirkan. Kesalahan adalah manusiawi selama dari kesalahan tersebut terjadi perbaikan dan perubahan sikap dalam proses interaksi dengan anak.

Memang tidak mudah menjalankan peran sebagai pendidik ketika berinteraksi dengan anak, seringkali muncul banyak keluhan dan hambatan dalam proses mendidik mereka. Penderitaan yang kita rasakan dalam mendidik anak merupakan pengalaman yang juga dirasakan oleh orangtua kita dulu ketika mendidik kita.Rasa lelah, rasa marah, dan rasa bersalah membuat seorang ibu kadang merasa bahwa ia bukan ibu yang baik, tapi ia tahu ia tidak akan mau menukarkannya dengan apapun karena menjadi ibu adalah salah satu pengalaman hidup yang paling membahagiakan dan merupakan peran seumur hidup.

Kelak ketika pengalaman berinteraksi dengan anak menjadi kenangan yang mewarnai kehidupan dewasanya, barulah kita menyadari bahwa kebersamaan dalam mendampingi mereka memiliki makna. Sekejap mata masa kanak-kanak yang tampaknya tanpa akhir itu berlalu. Diiringi senyuman dan sesuatu yang hangat dipipi, inilah mutiara dari menjadi seorang ibu.

Seorang ibu bukanlah malaikat dan mendidik anak bukanlah perbudakan yang hanya berisi perintah dan larangan. Bersikaplah bijak ketika melakukan kesalahan dalam proses mendidik dan berinteraksi dengan anak, karena seorang ibu tetaplah seorang pendidik, selalu, selamanya, apapun yang terjadi !

*Research Associate dibidang Pengembangan Anak dan KP EWA’MCo.

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Born to Write

3 Komentar Add your own

  • 1. Ahmad Nur Irsan Finazli  |  Agustus 7, 2007 pukul 12:46 am

    Tidak pernah ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan dalam mendidik, artinya tidak ada manusia yang sempurna. Walaupun manusia adalah makhluk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lain, tetapi letak kesempurnaan manusia ada pada ketidaksempurnaannya, artinya dia menyadari akan ketidaksempurnaannya. Sehingga dia sadar bahwa hidup di dunia ini adalah proses penyempurnaan diri (aktualisasi potensi yang diberikan ALLAH SWT).

    Perbaiki terus ilmu mu dalam mendidik anak, Lanjutkan perjuangan, semoga berhasil, Amin…

    Balas
  • 2. hanna  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:01 am

    Setelah membaca tulisan ini dapat pencerahan nih.Maklum saya juga seorang ibu yang ngampang marah kalo anak saya sudah dapat nilai c , maunya a mulu.Rasanya saya ini sudah keterlaluan. jadi malu deh.

    kita semua butuh proses kok, insyaallah pengalaman adalah guru terbaik, salam kenal dari saya. dona.

    Balas
  • 3. puada  |  Mei 29, 2008 pukul 4:54 am

    menarik salam kenal dari saya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Agustus 2007
S S R K J S M
    Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: