Bintang Kejora

September 12, 2007 at 9:51 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria*

DISEBUAH media konsultasi, seorang ayah mengadukan permasalahannya yang kurang bisa bersikap sama kepada ketiga anaknya. Ia merasa lebih cenderung kepada anak kedua dan ketiga, karena anak pertama dirasakan kurang memenuhi harapannya sebagai orang tua. Padahal setiap anak ada yang “bermain” sebagai anak baik dan anak nakal. Artinya anak memiliki karakter dan keunikan masing-masing.
Apakah hal ini juga terjadi pada Anda ? Bagaimana sikap Anda sebagai orang tua jika anak tidak mau melakukan apa yang  Anda minta ? Masihkah Anda mudah emosional dalam mensikapi perilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan dan nilai-nilai yang hanya bisa dipahami oleh orang dewasa ?
Kasus-kasus yang terjadi dimasa proses pembelajaran menjelaskan bahwa untuk menemukan formula yang tepat dalam berinteraksi dengan anak bukanlah perkara yang sederhana. Tidak banyak buku yang memberikan solusi jitu, sebab ilmu tentang hal itu lebih banyak diperoleh dari pengalaman. Tidak ada kiat yang betul-betul sangat praktis yang dapat diterapkan. Buku yang baik adalah buku yang memudahkan orangtua untuk menemukan sendiri kiat-kiat praktis dalam menghadapi anak. Dan keluarga merupakan sekolah  yang tidak ada batas waktunya.
Orang tua perlu mengetahui tentang sifat khusus anak agar tahu bagaimana bersikap dalam menghadapi perilaku anak. Beberapa sifat khusus anak tersebut yaitu, pertama adalah sifat anak yang tidak bisa diam dan banyak bergerak. Sebenarnya ini merupakan sifat wajar dan tidak membahayakan, karena anak gemar bermain dan bersukaria terutama dibawah usia 8 tahun. Bahkan hal ini justru dapat menambah pengalaman yang berdampak pada kecerdasan anak.
Kedua, sifat anak yang selalu ingin meniru. Bisa jadi perilaku negatif anak karena meniru orang tua atau lingkungan pergaulannya. Jadi berilah teladan yang baik dalam bersikap maupun berkata-kata karena anak menyerap semua tingkah laku orang lain, hal baik atau buruk.
Ketiga, sifat anak yang suka membangkang dan banyak bertanya. Hal ini disebabkan karena anak belum dapat membedakan mana benar dan salah. Jadi berusahalah pahami anak yang masih dalam taraf belajar mengolah nilai-nilai yang ia terima. Keempat, sifat anak yang senang bersaing. Anak-anak menganggap persaingan tidak lebih sebagai bagian dari kegiatan bermain. Maka arahkanlah anak  senang bersaing dalam berbuat kebaikan seperti yang diajarkan oleh Islam dan dicontohkan Rasulullah.
Seringkali orangtua terjebak untuk mudah memberi label negatif pada perilaku anak, seperti anak nakal, susah diatur, tidak penurut dan atribut-atibut negatif lainnya. Sehingga mempengaruhi sikap dan pandangan orangtua terhadap anak menjadi negatif pula. Bagaimana perasaan dan sikap seseorang mengenai perannya sebagai orangtua akan mempengaruhi bagaimana ia melaksanakan peran tersebut. Misalnya seorang ibu merasa lebih mudah melakukan perannya sebagai guru daripada sebagai ibu dari anaknya. Menurut para ahli, perasaan orangtua terhadap anak sering lebih menentukan daripada apa yang dilakukan orangtua.
Dalam keluarga sebagai sistem dinamis, maka anggota keluarga saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Jadi dalam proses pembelajaran tidak hanya orangtua yang mempunyai pengaruh terhadap aspek-aspek perkembangan anak, tetapi orangtua pun dipengaruhi oleh sifat dan perilaku anak. Melalui proses panjang, setiap anggota keluarga akan menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penemuan ini hendaknya menjadi jembatan untuk saling mencari keseimbangan.
Daripada orangtua hanya disibukan perhatiannya pada perilaku anak yang mengganggu, padahal perilaku tersebut wajar diusia perkembangannya, tentu akan lebih seimbang jika orangtua juga mampu melihat kelebihan yang dapat membuat anak tumbuh menjadi lebih baik. Perasaan orangtua terhadap anak pun akan lebih baik. Hal ini akan mempengaruhi pandangan dan sikap orangtua terhadap anak yang mengarah pada penghargaan dan lebih memberikan perhatian untuk melihat kelebihan dalam diri anak serta adanya kesadaran mengasuh anak sesuai dengan kebutuhannya.
Setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi, bakat dan minat masing-masing. Orangtua dapat mulai memberi perhatian pada potensi yang dimiliki anak dengan melihat kecenderungannya pada satu kegiatan. Misalnya anak cenderung menyukai kegiatan berenang, maka orangtua hendaknya menangkap minat tersebut dan mengarahkan anak untuk menekuni kegiatan itu.  Melatih dan mengasah bakat yang dimiliki anak dengan optimal.
Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama dalam semua bidang. Ada yang memiliki potensi dalam hal keilmuan, ada yang dibidang olahraga, ada yang dibidang seni dan keterampilan dan lain sebagainya. Orangtua hendaknya mendukung dan melapangkan jalan untuk bakat yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap anak, karena Allah SWT memberikan kemudahan bagi setiap anak manusia dalam mengembangkan diri sesuai dengan potensi masing-masing.
Sudahkah Anda melihat bintang dalam diri anak Anda ? Bantu dan siapkan mereka agar menjadi generasi masa depan yang mampu mempersembahkan potensi terbaiknya kepangkuan Banua kita tercinta. InsyaAllah.***

*Research Associate Pengembangan Anak
SOLUSI global Banjarbaru
& KP  EWA‘MCo

Iklan

Entry filed under: Mendidik.

Siapa Bilang Mendidik itu Mudah? Mendampingi Masa Adaptasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: