Generasi Baru Untuk Banua

September 12, 2007 at 9:45 am 1 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria*

SUATU ketika saya teringat ucapan seorang dosen UGM pada saya semasa saya kuliah difakultas psikologi UST Jogjakarta. Beliau bercerita bahwa beliau sempat tinggal beberapa waktu dibanua kita. Ujar beliau SDM dibanua kita katanya kurang berkualitas. Beliau berkata pada saya sebagai orang banua yang mempunyai kesempatan untuk menimba ilmu dipulau jawa, harus serius agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi sumbangan yang bermanfaat bagi kemajuan banua.
Sebagai generasi banua alias urang banjar asli, saya jadi berpikir apa yang bisa saya berikan untuk banua tercinta ? Kesannya kok seperti orang hebat saja, padahal saya sama saja dengan kebanyakan orang, Cuma seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, yang pada tanggal 22 agustus 2007 kemaren genap berusia 29 tahun. Apa istimewanya ? Tapi tentu boleh saja kan saya bercita-cita memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi banua sesuai dengan potensi yang dianugerahkan Allah pada saya. Karena saya mencintai dunia tulis menulis maka saya akan menggunakannya sebagai sarana untuk berbuat dan bermafaat bagi masyarakat banua, agama, dan bangsa, InsyaAllah.
Saya sependapat dengan yang dikatakan oleh K.H. Husin Naparin, seorang ulama besar sekaligus seorang penulis asli banua, semoga saya bisa mengikuti jejak beliau menghasilkan karya tulis berupa buku, Amin. Dalam buku beliau berjudul Fikrah, pada bab tentang bumi Antasari yakni membangun banua beliau mengatakan bahwa membangun banua tidak hanya terbatas pada hal materi saja. Tetapi yang paling utama dalam membangun Banua Banjar adalah  membangun warga Banjar agar SDMnya memiliki iman dan taqwa. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki dapat membawa kebaikan bukan membawa kerusakan dan keonaran.
Usaha ini hendaknya dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarganya, setelah itu tetangganya dan akhirnya masyarakatnya serentak bersama berusaha agar menjadi orang yang bermanfaat dan berguna membawa kebaikan dalam mengatur hidup dan kehidupan. Membangun mental dan jiwa terlebih dahulu, baru membangun fisik dan materi, demikian menurut beliau.
Jadi semua warga Banjar punya potensi dan peluang untuk berperan serta dalam membangun Banua, bahkan dalam hal yang sederhana atau hal yang kecil sekalipun. Sebagai orangtua, kita punya andil dalam membangun Banua dengan mendidik dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Setiap orangtua berhak memilih apakah anak-anaknya disiapkan menjadi generasi yang sama seperti diri mereka, generasi yang biasa-biasa saja, atau generasi yang lebih baik dari mereka.
Anak-anak kita adalah aset berharga bagi Banua tercinta. Masa depan Banua ada ditangan mereka. Kita bertanggung jawab dalam mempersiapkan mereka menjadi generasi terbaik pada zamannya. Generasi yang lebih unggul, lebih berkualitas SDMnya. Apakah kita mampu ? InsyaAllah.
Walaupun orangtua sudah memilihkan sekolah yang kualitasnya bagus, bukan berarti orangtua bisa berlepas tangan menyerahkan pendidikan anaknya pada sekolah. Menurut sebuah buku tentang pendidikan anak, kesuksesan sebuah pendidikan terletak pada keteladan yang berkaitan erat antara orangtua (rumah), guru (sekolah), dan masyarakat (lingkungan).
Memilihkan sekolah untuk anak hendaknya tidak sekedar menuruti rasa gengsi. Anak disekolahkan disekolah favorit yang sekedar mahal, fasilitas lengkap,gedungnya wah, dan yang sekolah disana anak orang-orang kaya. Kalau tujuannya saja sudah buat gengsi, mau menghasilkan generasi seperti apa nantinya ? Generasi yang gengsinya tinggi tapi SDMnya rendah, sama saja dengan mengulang lagu lama alias generasi yang tidak ada bedanya dengan generasi sebelumnya, berarti tidak ada kemajuan, bujur apa kada ? hasilnya lahirlah generasi pengekor, ikut-ikutan orang, tidak punya pendirian, kemandirian dan keberanian, kalaupun punya bisa jadi negatif sifatnya. Apa nantinya sanggup menjalani hidup yang sesuai dengan zamannya ? Bisa-bisa tetap mewarisi jabatan pengangguran, miskin, atau pejabat penjahat.
Atau memilihkan sekolah yang biasa-biasa saja, alasannya karena dekat dengan rumah, orangtua tidak mau repot mengantar jemput. Padahal sekolah biasa dan sekolah favorit yang kualitasnya bagus jelas berbeda. Kalau alasannya biayanya mahal, saya bisa memaklumi mereka yang tidak mampu, tapi mana ada yang murah dizaman sekarang ini. Makanya orangtua harus cerdas, pendidikan itu mahal,tapi juga sangat penting, jadi persiapkan dengan serius. Orang-orang sholeh zaman dulu saja rela mengorbankan harta, waktu dan tenaganya demi pendidikan anak-anaknya. Masa iya kita kalah dengan orang zaman dulu, ngakunya aja manusia moderen, pemikirannya masih ketinggalan zaman.
Berkorban demi pendidikan anak tidak ada ruginya, jangan mikir urusan kesenangan dan penampilan saja, itu pemikiran jangka pendek namanya.  Pendidikan juga merupakan kewajiban dalam ajaran Islam, jangan mau enaknya saja punya anak, pengen anaknya jadi sarjana, tapi tidak mau tahu dan tidak sungguh-sungguh dalam memenuhi segala keperluan pendidikan anak. Kemiskinan jadi alasan. Setelah anaknya berhasil jadi sarjana si orangtua tahunya berbangga diri, padahal selama kuliah si anak harus menaggung beban mental yang teramat besar, karena selalu berurusan dalam hal keterlambatan pembayaran uang kuliah, kurang terpenuhi fasilitas berupa perlengkapan kuliah seperti buku pegangan, untungnya si anak termasuk anak cerdas. Saya sungguh-sungguh menemui tipe orangtua macam ini.
Berkorban dahulu, bersenang-senang dunia akhirat kemudian. Itu jika anak berhasil dalam pendidikannya menjadi anak yang SDMnya beriman, bertaqwa, dan beramal sholeh. Tentu saja pengorbanan yang demikian hanya dapat  diperoleh dari hasil pendidikan yang terpadu antara sekolah, rumah dan lingkungan masyarakatnya, dengan pembinaan intelektual, mental dan spiritual anak. Kalau orang kaya anaknya sekolah disekolah biasa, wah keterlaluan itu.
Sebagai seorang ibu, seperti juga saya dan ibu-ibu lainnya, secara tidak langsung memiliki peran besar dalam mencetak generasi Banua. Ini serius, jangan dikira peran seorang ibu itu remeh, terutama dalam memutuskan pilihan sekolah untuk anak. Sekolah yang baik tidak sekedar bagus dalam hal fasilitas, tapi juga keterpaduan dalam pembinaan intelektual, mental, dan spiritualnya. Itu baru sekolah berkualitas yang nantinya juga menghasilkan generasi yang berkualitas SDMnya. Generasi baru yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Generasi yang membawa kebaikan dan amanah dalam membangun Banua. Sepakat atau tidak terserah saja, yang jelas masing-masing diri kita turut menetukan generasi seperti apa yang nantinya akan mewarnai gerak pembangunan Banua kita tercinta.
Untuk menghadapi tantangan globalisasi dan lajunya arus pembangunan perlu penguasaan IPTEK dan manusia-manusia yang berkualitas SDMnya. Upaya untuk mencetak SDM yang berkualitas pada generasi mendatang dapat ditempuh melalui pendidikan yang saling berhubungan antara pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakatnya. Juga keterpaduan pembinaan dalam aspek intelektual, mental, dan spiritual, sejak anak berada dalam keluarga hingga usia sekolah sampai perguruan tinggi dan akhirnya terjun mengabdikan ilmunya pada masyarakat.
Nah, ibu-ibu, relakah kita jika anak-anak kita menjadi generasi yang biasa-biasa saja, seperti lagu lama yang populer pada masanya, “Aku masih seperti yang dulu…”. Hari gini ! tidak maju-maju juga, kalau bahasa ekstrimnya para motivator berubah atau mati. Mari kita sama-sama bercita-cita memberi yang terbaik bagi Banua, Bumi Antasari yang terkenal dengan Serambi Makkah dibagian timur Indonesia, Banua yang diamanahkan Allah pada warga Banjar.
Kita semua bertanggung jawab, kita semua berpotensi dalam menentukan masa depan Banua. Tidak terkecuali para ibu, yuk menjadi ibu yang bukan sekedar ibu rumah tangga. Ibu yang cerdas karena mempersiapkan dan menentukan pilihan tepat bagi pendidikan anak-anaknya. Dengan demikian kita telah membantu mereka agar siap dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan zamannya,zaman yang lebih besar tantangannya, seperti kita juga hidup dizaman yang berbeda dengan orangtua kita.

*Research Associate Pengembangan Anak
SOLUSI global Banjarbaru &
KP  EWA‘MCo

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Charger Stress Siapa Bilang Mendidik itu Mudah?

1 Komentar Add your own

  • 1. Ahmad Nur Irsan FInazli  |  September 13, 2007 pukul 6:17 am

    MAri jadikan anak-anak kita menjadi generasi yang luar biasa. Sepakat!
    Bagus tulisannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: