Mengenal Aktifitas Mendidik

September 12, 2007 at 10:00 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria*

(Dimuat pada Harian Umum RADAR BANJARMASIN, Kamis 12 Juli 2007)

MEMBACA artikel tentang teori atau konsep mendidik anak, biasanya pikiran dan perasaan terpengaruh. Seperti adanya pemahaman bahwa teori tersebut dapat membantu mempermudah dalam proses mendidik, adanya kesadaran bahwa dalam mendidik membutuhkan ilmu dan adanya keinginan yang mengarah pada mencoba menerapkan teori tersebut dalam kehidupan.
Fakta berbicara bahwa sebuah teori lebih sempurna daripada penerapannya. Nampaknya sebuah teori lebih efektif penerapannya pada lingkungan formal, seperti sekolah atau lembaga-lembaga yang mengkhususkan kegiatannya pada pendidikan anak. Dimana pendidik terkondisikan profesional pada satu aktifitas, yakni mendidik anak.
Berbeda dengan seorang ibu rumah tangga pada umumnya yang tidak hanya mengurus anak tapi juga melakukan aktifitas rumah tangga lainnya. Sehingga seringkali ia menemui berbagai kendala dalam menjalankan tugas profesional sebagai pendidik. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kemajuan umat manusia. Usaha pendidikan telah dilakukan dan terjadi sepanjang zaman bahkan dalam bentuk yang sangat sederhana.
Kegiatan mendidik merupakan suatu proses yang ditujukan kearah perubahan. Maka kegiatan mendidik dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku manusia dari taraf perkembangan ke taraf perkembangan lainnya. Pada umumnya manusia-manusia yang di ubah tingkah lakunya adalah manusia yang masih dalam taraf pertumbuhan, yaitu anak-anak. Dan tingkah laku yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pendidikan adalah tingkah laku belajar.
Kegiatan mengubah tingkah laku anak dapat dilakukan dengan menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhan anak, seperti adanya unsur permainan dan fantasi, karena anak kecil gemar bermain dan berfantasi. Maka untuk menyalurkan aspirasi tersebut dapat dilakukan dengan bernyanyi, bercerita dan menyediakan berbagai macam alat permainan.
Misalnya untuk mengubah tingkah laku anak yang tidak mau membereskan mainannya setelah bermain, kita bisa menceritakan tentang tokoh anak yang senang membereskan mainan setelah bermain. Atau menyanyikan lagu yang menggugah semangat anak untuk senang merapikan mainannya.
Sedangkan untuk membentuk tingkah laku belajar dapat dilakukan dengan prinsip reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Semakin cepat reward diberikan makin besar kemungkinan untuk mendorong anak belajar. Ketika anak mengetahui hasil dari sebuah perbuatan (knowledge of result) semakin mendorong perbuatan belajar anak. Misalnya ketika anak diberikan pujian atau mainan baru karena telah merapikan mainan setelah selesai bermain. Adapun punishment akan lebih efektif jika tidak meninggalkan bekas fisik dan psikis pada anak tetapi lebih mengarah pada bimbingan untuk mengetahui perilaku yang benar.
Dalam situasi belajar ada beberapa faktor yang menyebabkan dan mendorong timbulnya perbuatan belajar. Unsur yang pertama adalah kebutuhan yang apabila tidak terpenuhi terjadi ketidakseimbangan dalam diri manusia (anak) dan hal ini menimbulkan frustasi. Apabila terjadi terus menerus akan menggoncang bangunan pribadi seseorang. Misalnya timbulnya perbutan belajar merapikan mainan karena anak membutuhkan perasaan nyaman dengan perilaku tersebut, seperti sikap menyenangkan dari ibu, mudah untuk menemukan ketika ingin bermain, mainan tidak rusak atau hilang.
Unsur yang kedua adalah ‘insentif’. Bisa berwujud benda material seperti uang, mainan, dan lain sebagainya. Dan unsur non material seperti pujian, persetujuan dan lain sebagainya. Misalnya timbulnya perbuatan belajar merapikan mainan karena anak mengharapkan pujian atau mainan baru. Penelitian–penelitian dibidang psikologi menunjukan bahwa untuk mendorong perbuatan belajar anak, insentif material tidak selalu lebih efektif daripada insentif non material.
Orangtua sekaligus pendidik hendaknya tidak hanya fokus pada kesalahan dan kendala yang dihadapi dalam proses mendidik, karena orangtua yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu dalam menjalankan perannya sebagai pendidik tentunya selalu melakukan eksperimen agar dalam proses mendidik mendekati ideal dalam hal penerapan sebuah teori.
Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan generasi yang cerdas intelektual, emosional, dan spiritual. Tugas utama pendidik adalah membimbing anak kearah perkembangan yang wajar. Dan Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi siapa saja yang melakukan aktifitas mendidik dengan tulus ikhlas serta sabar.***

*Research Associate Pengembangan Anak
SOLUSI global Banjarbaru
& KP  EWA‘MCo

Iklan

Entry filed under: Mendidik.

Pilihan Cerdas Kontrol, Solusinya !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: