Ayah Ibuku Kompak

September 17, 2007 at 8:50 am 4 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria*

SETIAP manusia tentu mendambakan hidupnya harmonis. Memiliki hubungan yang harmonis dengan sesamanya. Betapa bahagianya jika dapat saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya. Begitu pula dalam keluarga, alangkah indahnya jika semua anggota keluarga saling berkasih sayang. Tapi pada kenyataannya, betapa sulitnya menemukan keharmonisan ini pada setiap keluarga. Kalaupun ada mungkin bisa dihitung jumlahnya.
Bicara soal keharmonisan dalam keluarga, sepertinya ada hubungannya dengan masalah komunikasi. Komunikasi yang kurang baik dapat menyebabkan hubungan tidak harmonis dan pada akhirnya berpotensi rawan konflik. Kesadaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam keluarga itu penting. Komunikasi yang baik antara suami dan isteri, antara orangtua dan anak dapat menjaga keharmonisan dalam rumah tangga.
Terjadinya kasus-kasus permasalahan keluarga yang menggejala akhir-akhir ini, salah satunya bersumber dari kemampuan berkomunikasi yang masih lemah. Ada kalanya apa yang kita ungkapkan merupakan daerah yang paling sensitif dalam komunikasi. Akibatnya bukan penyelesaian masalah yang diperoleh, tapi konflik berupa perang terbuka atau perang dingin yang terjadi.
Hambatan dalam kemampuan berkomunikasi tak jarang membuat seseorang merespon pembicaraan dengan cara yang kurang tepat.  Bisa juga seseorang kurang tepat dalam mengungkapkan komentar atau lelucon. Respon terhadap hambatan komunikasi pun bermacam-macam. Ada yang dengan pertengkaran, ada juga yang memilih aksi diam alias asal pasangan senang atau memilih sikap menghindari pembicaraan.Wah, semuanya berdampak negatif, ya.
Sebenarnya bagaimana ya cara yang tepat dan sederhana untuk mengatasi hambatan kemampuan berkomunikasi ? Siapa sih yang tidak ingin memiliki keterampilan komunikasi yang baik supaya keharmonisan keluarga terjaga dan terhindar dari rawan konflik ? Sehingga anak-anak dapat menjalani proses tumbuh kembang dalam suasana keluarga yang kondusif.
Pada tulisan saya kali ini, saya ingin memberikan oleh-oleh dari perjalanan saya. Menyusuri halaman demi halaman sebuah buku yang saya baca untuk memperoleh cindera mata tentang hal komunikasi. Dengan satu tiket buku, saya akan mengajak Anda kedunia buku yang menakjubkan. Sebuah kisah menarik dari kehidupan Rasulullah dalam hal berkomunikasi dengan keluarga. Kita akan melihat komunikasi yang baik dan lancar dalam keluarga. Mari kita simak kisahnya !
Kisah ini merupakan penuturan Aisyah ra. Saat menceritakan pembicaraannya dengan Rasulullah saw. di malam hari. Cerita Aisyah ini sangat panjang, yaitu tentang sebelas orang wanita di zaman jahiliyah yang menceritakan suami-suami mereka. Begini ceritanya, sebelas orang wanita duduk-duduk, lalu berjanji untuk tidak menyembunyikan perilaku suami-suami mereka sedikit pun. Satu persatu dari wanita pertama hingga wanita kesepuluh mengungkapkan cerita tentang suami masing-masing. Sampai akhirnya giliran wanita kesebelas bercerita tentang keutamaan suaminya yang bernama Abu Zar’in.
Selanjutnya Aisyah meneruskan ceritanya, “Maka Rasulullah saw. Bersabda kepadaku, ‘Sedangkan aku di sampingmu bagaikan Abu Zar’in di samping Ummu Zar’in.’” Dalam riwayat An-Nasa’i ada tambahan, “… Hanya saja bedanya Ummu Zar’in dicerai oleh Abu Zar’in, sedangkan aku tidak menceraikan engkau.” Kemudian Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, engkau lebih baik daripada Abu Zar’in.” (Hadits. At-Tirmidzi) Rasulullah adalah sebaik-baik suami. Beliau amat betah mendengarkan cerita Aisyah yang panjang lebar hingga selesai tanpa memotong atau menyela. Setelah selesai barulah beliau mengomentari secukupnya.
Ada komunikasi yang baik dalam keluarga Rasulullah saw. Beliau mampu menciptakan suasana komunikasi yang baik dan lancar, sehingga isteri merasa diperhatikan hak-haknya. Tidak merasa tertekan di hadapan suami. Hendaklah para suami meneladani Rasulullah dalam menyikapi isteri, tidak hanya meneladani dalam hal poligami. Setuju ? Bagouuus ! Sebagai catatan bagi para suami, sebenarnya para isteri punya kebutuhan untuk di dengar dan berbagi cerita. Sudahkah suami menjadi pendengar yang baik bagi isterinya ? Seperti yang dicontohkan Rasulullah yang tahu betul kebutuhan isteri untuk di dengar dan berbagi cerita.
Padahal kalau saya pikir-pikir, Rasulullah itu kan pemimpin umat yang tentu waktunya banyak diberikan untuk mengurus keperluan umat. Tapi beliau masih mampu memberikan waktu yang terbaik bagi keluarganya, bukan sekedar sisa waktu. Buktinya beliau amat betah mendengarkan cerita aisyah yang panjang lebar sampai selesai bahkan memberikan komentar. Subhanallah !
Tidak seperti kebanyakan orang zaman sekarang. Sibuk dengan urusan diluar rumah, begitu sampai dirumah waktunya hanya untuk tidur dan istirahat. Dalam melayani keluarganya seolah hanya memberikan sisa dari waktunya. Pandai bicara dan berpendapat, menyanggah dan mengkritik, tapi adakah yang mau belajar menjadi pendengar yang baik, belajar menghargai pendapat dan pikiran yang berbeda, serta belajar menerima masukan. Padahal hal ini amat diperlukan dalam menciptakan suasana komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan ketegangan komunikasi.
Sikap santun dan kasih sayang juga turut mendukung suasana komunikasi yang kondusif dalam rumah tangga. Cara berbicara yang jelas dan mudah dipahami orang lain juga perlu. Anas ra. Berkata, “Adalah Nabi saw. Apabila berkata diulanginya tiga kali supaya dimengerti.” (HR. Bukhari) Alangkah inginnya saya dan saya yakin banyak orangtua yang juga berkeinginan memiliki suasana komunikasi yang kondusif dalam kelurganya.
Memang sepertinya sederhana ya, tapi tentu perlu belajar secara terus menerus,  melatih cara demi cara terbaik bagi para isteri dalam berbagi cerita kepada suami dan suami pun berusaha agar dapat menjadi pendengar yang baik  bagi sang isteri, tidak sekedar pandai bicara dan berkomentar. Sehingga harapan terwujudnya komunikasi kondusif dalam keluarga bukan hanya mimpi kali ye.. Dan anak-anak yang berada dalam bimbingan orangtua seperti ini dengan kepolosannya akan berkata pada dunia,  “ Ayah ibuku kompak, lho ! “.***

*Research Associate Pengembangan Anak
SOLUSI global Banjarbaru &
KP  EWA‘MCo

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Keajaiban Ilmu Ramadhan Bersama Anak

4 Komentar Add your own

  • 1. Dhona  |  September 18, 2007 pukul 2:13 am

    Salam kenal ya. Makasih udah mampir ke rumahku. Nama kita sama nih, cuma beda ejaan saja.

    Postingannya bagus nih, emang benar kunci utamanya komunikasi. Kalo komunikasi lancar, Insya Allah semua baik-baik aja.

    Balas
  • 2. Tia  |  September 18, 2007 pukul 3:11 am

    salam kenal nan hangat mbak dona, thanks dah berkenan mampir ke blogku, blognya mbak tulisannya sangat berbobot sekali, salut

    Balas
  • 3. rahmadona  |  September 20, 2007 pukul 9:33 am

    Dhona.
    Thanks for your comment, Dhona.

    Balas
  • 4. rahmadona  |  September 20, 2007 pukul 9:34 am

    Tia.
    Terima kasih atas kesannya terhadap tulisan saya. Sebenarnya apa yang saya tulis hanyalah sebuah sharing ilmu. Dimana saya berada pada posisi yang sama, yakni sama-sama belajar. Maksud hati sekedar untuk mengingatkan, terutama pada diri sendiri.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: