Belajar Dari Ibrahim

September 25, 2007 at 8:50 am 2 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Benarkah mendidik anak pra sekolah lebih sulit dari pada anak usia sekolah ? Saya sering berpikir, kalau anak-anak saya sudah bersekolah semua, saya mungkin akan lebih santai dalam menikmati dan mengisi waktu. Selain itu, mungkin jadi lebih mudah dalam mengarahkan mereka karena pengertian terhadap nasehat dan teladan tentu sudah berkembang semakin baik. Tapi benarkah anggapan demikian ?
Jujur saja, kadang-kadang sebagai seorang ibu, naluri kerinduan akan masa-masa mengandung dan melahirkan sesekali muncul. Namanya saja kodrat. Mengandung, melahirkan, dan mendidik anak sudah merupakan panggilan tugas dan jiwa kaum hawa. Tapi kalau mengingat repotnya mengasuh anak usia balita, saya benar-benar trauma. Perlu persiapan fisik terutama mental yang benar-benar prima. Sementara ini,  mendampingi masa tumbuh kembang ketiga anak saya rasanya jauh lebih penting dari sekedar menambah jumlah anak.
Saat ini, anak pertama saya sudah kelas 1 SD, anak kedua masuk TK, dan anak ketiga usianya hampir dua tahun. Saya masih sering mengalami kesulitan dalam mengurus dan mengatur mereka. Anak pertama, walaupun sudah usia sekolah masih harus diingatkan dan dibantu dalam mengatur keperluannya. Anak kedua, sedang dalam masa perkembangan yang disebut masa toddler dimana semboyan ‘aku adalah apa yang aku kehendaki’ begitu tampak dalam perilakunya sehari-hari. Anak ketiga, masih begitu tergantung dalam memenuhi segala kebutuhannya. Bayangkan jika ada satu anak kecil lagi dalam kehidupan saya, seperti apa jadinya ? Ternyata dengan tiga orang anak saja saya sudah kewalahan. Padahal banyak ibu yang anaknya lebih dari tiga bahkan dengan jumlah yang lebih banyak lagi masih sanggup dan mampu mengurusnya. Mungkin sebatas itulah kemampuan saya saat ini.
Kembali pada anggapan saya bahwa mengurus anak yang sudah besar atau sudah bersekolah lebih mudah, benarkah ? Kalau melihat dari kehidupan teman atau saudara sepertinya tidak juga. Bahkan mengurus anak yang sudah remaja seperti anak SMP, SMA, dan Mahasiswa kelihatannya jauh lebih sulit. Padahal pengertian mereka tentang konsep benar-salah, nasehat dan teladan harusnya jauh lebih baik. Kesimpulannya ? Ternyata mengurus anak dalam tiap periode perkembangan usianya memiliki tantangan yang berbeda. Jadi selalu akan ada tantangan dalam mengurus anak disetiap tahap perkembangan usianya. Tapi buat saya mendampingi masa tumbuh kembang anak-anak saya yang mulai besar dan memasuki dunia sekolah tetap lebih nikmat daripada menambah jumlah anak, setidaknya untuk saat ini…dan untuk rentang waktu yang tidak ditentukan.
Berbicara tentang dunia mendidik anak berikut konsep atau teori mendidik anak yang begitu banyak jumlahnya, bukankah ini seharusnya dapat menjadi bekal bagi para orangtua terutama ibu. Tapi kenyataannya dalam pelaksanaan tidak sedikit kendala yang dihadapi, ibarat tidak semudah membalik telapak tangan. Kenyataan ini menimbulkan pemikiran pada diri saya, bagaimana sih Rasulullah dan orang-orang sholeh zaman dulu mengurus dan medidik anak-anaknya ? Apakah anak-anak dizaman mereka manis-manis, tidak banyak tingkah seperti anak-anak zaman sekarang ? Ternyata tidak juga, semua anak sama saja, mereka memiliki perilaku yang khas disetiap tahap perkembangannya. Perbedaannya justru terletak pada bagaimana orangtua zaman sekarang dan orangtua dizaman Nabi dalam mensikapi serta mendampingi proses tumbuh kembang anak-anaknya.
Kalau kita membaca kisah-kisah para Nabi atau kisah orang-orang sholeh di zaman Nabi, coba perhatikan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan anak-anak. Biasanya mereka menggunakan dialog yang mengandung unsur nasehat, bahasanya santun, tidak ketinggalan disertai dengan teladan yang baik dan terus menerus. Sedangkan kita, sering kali terjebak pada kendala emosional. Banyaknya beban atau pekerjaan rumah tangga yang tidak ada habisnya dan seolah dikejar target waktu, seorang ibu atau orangtua terpola untuk menggunakan bahasa yang berisi perintah, larangan, ancaman, dan kritikan dalam berinteraksi dengan anak.
Para Nabi dan orang-orang sholeh di zamannya berinteraksi dengan anak-anaknya dalam suasana kasih sayang. Mereka memperlakukan anak sebagaimana layaknya seorang anak. Di sinilah mungkin letak kelemahan kita sebagai orangtua. Perlu terus belajar melatih diri dalam memandang posisi anak. Pada prinsipnya anak adalah titipan Allah yang diamanahkan kepada para orangtua untuk dibimbing dan dididik mengenal Allah. Mendidik mereka adalah tugas utama orangtua bukan pekerjaan lainnya. Tugas ini benar-benar akan diminta pertanggung jawabannya kelak. Sudahkah kita mempersiapkan laporannya ?
Berinteraksi dengan anak tidak hanya menemui kendala komunikasi tapi juga kendala dalam mensikapi perilaku mereka. Menurut Anda apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si kakak mengganggu adiknya, sementara kita sedang repot dengan urusan rumah tangga lainnya ? Berteriak, marah, memukul si kakak atau ketiga-tiganya dilakukan sekaligus ? Begitulah sikap yang umumnya dilakukan orangtua. Pantaslah kalau banyak kasus kekerasan terhadap anak terjadi, rupanya ada hubungannya dengan kematangan emosi seseorang. Kebiasaan mengatasi masalah secara emosional seperti sudah menjadi bagian dalam mensikapi perilaku anak. Lalu bagaimana merubah kebiasaan tersebut agar terjalin suasana interaksi yang mesra dengan anak ?  Sepertinya kita perlu terus belajar dan melatih diri agar semakin profesional dalam menjalankan jabatan sebagai orangtua yang diamanahkan Allah kepada kita. Benarlah adanya bahwa mendidik orangtua jauh lebih penting sebelum mendidik anak.
Berikut ini saya tertarik untuk mengungkap pelajaran berharga tentang indahnya suasana interaksi anak dan orangtua dari kisah penyembelihan Ismail putera Nabi Ibrahim.  Ibrahim as. Memberikan keteladanan dalam masalah komunikasi keluarga. Ketika datang perintah dari Allah untuk menyembelih Ismail as, Allah berfirman, “Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kau akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar.’” (Ash-Shaffat : 102)
Sungguh terlihat keharmonisan komunikasi dalam keluarga Ibrahim. Begitu mesranya ungkapan yang mereka pergunakan dalam berkomunikasi. Ibrahim memanggil Ismail dengan sebutan anakku, panggilan penuh kasih sayang. Dan Ismail menjawab dengan ungkapan yang tak kalah mesranya, yakni ya bapakku, panggilan penuh rasa hormat dan sayang pula. Tidak ada tekanan, anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Bandingkan dengan suasana komunikasi dalam keluarga kita, keras dan terburu-buru disertai ungkapan yang berisi pesan perintah, larangan, ancaman dan kritikan.
Sampai kapan kita menganggap ini wajar, bersembunyi di balik ketidak mampuan mengakui kelemahan diri dan kemalasan untuk memperbaiki diri. Semoga Allah memudahkan kita dalam proses membenahi diri menjadi lebih baik, membiasakan diri untuk menjalin interaksi yang baik bersama anak. Sehingga baik anak maupun orangtua akan merasa sama-sama dihargai dan lebih merasa diperlukan kehadirannya. Mendampingi masa tumbuh kembang anak akan jauh lebih bermakna bila diimbangi dengan pemahaman dan ilmu tentang mendidik anak. Kekuatan doa dan kedekatan hubungan kita dengan Allah juga memegang peranan yang tidak kalah pentingnya.***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mengenal Remaja Lebih Dekat Menghidupkan Kembali Hikmah

2 Komentar Add your own

  • 1. Ersis Warmansyah Abbas  |  September 25, 2007 pukul 6:15 pm

    Coba tulis tentang belajar dari Luqman … ada dalam Al-Quran

    Balas
  • 2. rahmadona  |  September 26, 2007 pukul 2:48 am

    InsyaALLAH, pak.
    Makasih atas masukannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: