Mendidik Dengan Tuntunan

Oktober 10, 2007 at 6:04 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Berawal dari keinginan untuk menyenangkan anak-anak dan memenuhi permintaan mereka akan hiburan berupa tontonan, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk membeli televisi. Padahal sebelumnya kami sepakat untuk tidak memiliki televisi karena khawatir terbawa dampak negatifnya, seperti pemborosan waktu, membuat lalai dan menyebabkan malas. Kalau pun akhirnya kami membeli tv tentu saja keputusan ini disertai komitmen bahwa anak-anak boleh menonton acara tv yang layak ditonton oleh anak seusia mereka. Dan biasanya program untuk anak-anak sudah terjadwal watu tayangnya.
Keputusan tersebut tidak lain karena didorong keinginan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan hiburan berupa tontonan. Disebabkan adanya kekhawatiran jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi anak jadi tertekan. Bisa jadi tontonan ditv merupakan bahan untuk anak-anak dalam berkomunikasi, beradaptasi, dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Kekhawatiran lainnya adalah jika anak mencari pemenuhan tontonan diluar rumah, seperti menonton tv dirumah teman atau tetangga. Ini lebih besar bahayanya, karena orangtua tidak bisa memantau tontonan yang layak atau tidak bagi anak seusianya. Tentu saja ini mengancam perkembangan keluhuran peribadi anak, apalagi jika yang ditonton tidak sesuai batasan umur dan mengandung unsur kekerasan.
Lengkaplah sudah argumen yang menguatkan keputusan kami untuk memelihara barang baru dirumah yang bernama televisi. Barang berbentuk bujur sangkar yang lazimnya ada disetiap rumah setiap manusia. Memilikinya adalah suatu kewajaran dimasyarakat, bahkan dikalangan masyarakat menengah kebawah. Jadi adalah suatu keanehan dimasyarakat jika seseorang yang dianggap mampu membeli tv tapi tidak memilikinya.
Hari demi hari pun mulai diselingi anak-anak dengan menonton tv. Biasanya mereka menonton kartun atau si Bolang. Rutinitas baru disiang dan sore hari. Ada kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri ketika kita mampu memenuhi kebutuhan anak dan mereka pun memberikan ekspresi balasan kegembiraan kepada kita melalui keceriaan yang mereka hadirkan dirumah. Ini peristiwa yang terjadi kira-kira dua tahun yang lalu.
Sekarang saya akan berbagi pengalaman tentang dampak lain dari keputusan kami menghadirkan televisi dirumah sebagai salah satu sarana hiburan untuk anak. Komitmen dan praktek terhadap sesuatu kadang tidak selalu sejalan dengan harapan. Dampak-dampak tidak menyenangkan mulai kami rasakan. Seperti dampak dari tontonan itu sendiri. Film-film kartun anak, sinetron anak, bahkan tayangan iklan ditv berpengaruh besar terhadap perilaku dan ucapan si anak. Maklumlah kita bahwa pemahaman anak tentang konsep benar dan salah masih belum sempurna. Sehingga mereka dengan mudah terpengaruh dan meniru apa yang mereka lihat atau tonton. Mereka mulai bersikap malas-malasan, sering bertengkar dan berkelahi karena meniru adegan yang mereka tonton ditv. Bahkan sinetron anak sekalipun tidak mendidik. Kebenaran dibalut dengan kepalsuan dibungkus pula dengan hal-hal mistik dan khayalan. Anak-anak ditularkan budaya untuk mengenal ketertarikan pada lawan jenis diusia yang masih sangat belia. Apa yang sebenarnya kita harapkan dari tontonan seperti ini ?
Kalau pun kita berlindung dibalik alasan sekedar untuk hiburan anak atau mendampingi dan memberi penjelasan terhadap apa yang anak tonton tetap saja mereka akan meniru dan terpengaruh perilakunya. Kondisi ini mengantarkan kenangan saya kemasa lalu, dimana ketika kita kecil dulu dapat menikmati tontonan ditv bersama seluruh keluarga. Sehingga benar-benar terasa suasana berkumpul dengan keluarga. Berbeda sekali dengan kenyataan sekarang dimana angota keluarga saling berebut tontonan ditv, ditambah minimnya tontonan yang dapat menjadi tuntunan. Tontonan sekarang lebih banyak mengandung unsur kekerasan dalam keluarga, tidak ada penghargaan yang layak antara yang muda dengan yang tua baik dalam sikap maupun perkataan, perebutan harta dan kekayaan, pertengkaran, sehingga tidak ada kenyamanan dan hal yang bisa diambil yang berupa kebaikan dalam sebuah  tontonan. Berbeda dengan tontonan zaman dulu, dimana sinetron anak menyampaikan pesan tentang persahabatan dan kasih sayang. Sinetron keluarga menyampaikan pesan kebaikan dalam hubungannya dengan sesama anggota keluarga, tetangga, dan bermasyarakat. Sungguh saya dan mungkin banyak orang, merindukan tontonan yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Tontonan yang mendidik dengan tuntunan.
Mensikapi dampak negatif dari tontonan ditv yang mulai menulari perilaku dan perkataan anak, kami siasati dengan mengurangi jumlah chanel sehingga anak hanya menonton satu stasiun tv. Adanya komputer cukup membantu untuk menjadi alternatif hiburan bagi anak. Tentu saja tetap memilihkan game-game yang mendidik yang tidak mengandung unsur kekerasan. CD akal interaktif pilihan yang tepat sebagai game untuk anak karena mengandung nilai-nilai edukatif. Begitu pula dengan adanya VCD atau DVD dirumah, orangtua dapat menyediakan alternatif tontonan yang lebih islami. Sehingga kebersihan akal dan jiwa anak-anak kita tetap terjaga. Ternyata hal ini cukup membantu menjauhkan anak dari dampak negatif tontonan ditv dan membantu menciptakan suasana kondusif dalam proses mendidik anak kearah yang lebih positif. Selamat menikmati suasana berkumpul dengan keluarga sambil menikmati tontonan yang berisi tuntunan ! ***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Belajar dari Luqmanul Hakim Belajar Dari Rasulullah Saw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: