Mendidik Anak Berbakti Kepada Orangtua

Oktober 20, 2007 at 1:08 am 10 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Orangtua bertanggung jawab untuk menjaga, melindungi dan mendidik anak-anaknya sebagai tugas dari Allah SWT. Salah satu tanggung jawab tersebut seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu mendidik anak berbakti kepada orangtua. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT menghendaki agar setiap anak berakhlak baik kepada kedua orangtua. Maka penting bagi orangtua untuk mendidik anak mereka berbakti kepada orangtua. Karena orangtua telah berperan besar dalam mengasuh, mengurus, membimbing dan mendidik anak-anaknya.
Allah SWT berfirman berkenaan dengan perihal berbakti kepada orangtua, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu aku kecil.” (QS. Al-Isra’: 23-24)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali.” (QS> Luqman: 14)
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk meng-esakanNya dan hal ini disandingkan dengan berbuat baik terhadap kedua orangtua. Karena syirik (menyekutukan Allah) dan durhaka terhadap orangtua keduanya termasuk dosa besar. Sedangkan berbuat baik terhadap orangtua sama artinya dengan berterima kasih kepada orangtua dan bersyukur kepada Allah. Tidak satu orang pun yang bisa membalas jasa kedua orangtua meski telah menghimpun segala usaha dan tenaga. Bahkan Ibnu Umar mengibaratkannya meski hanya satu hembusan nafas pun tidak akan mampu membalas jasa kedua orangtua. Subhanallah ! Demikian besarnya jasa orangtua kepada anak-anaknya.
Sementara di zaman sekarang ini perhatian terhadap perintah Allah tersebut sudah seperti sesuatu yang asing dan langka. Setiap orang sibuk atau menyibukan diri dengan urusannya masing-masing sehingga lupa atau mungkin sudah jadi tradisi melupakan sesuatu yang lebih penting. Anak-anak asyik dengan dunianya sedangkan orangtua sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada penghargaan antara yang muda dengan yang tua, kehidupan modern digambarkan dengan ketidak harmonisan hubungan antara orangtua dan anak, menantu dan mertua, suami dan isteri dan lain sebagainya.  Getaran rasa takut akan dosa apabila durhaka terhadap orangtua sepertinya telah mulai redup di hati manusia digantikan prinsip; yang terjadi nanti urusan belakangan. Berbeda dengan zaman dulu ketika kita kecil, ketakutan akan dosa durhaka terhadap orangtua masih sangat terasa. Perhatian orangtua dalam mendidik anak untuk berbakti kepada orangtua masih sangat populer. Terwakili dengan kisah legenda yang terkenal diBanua pada masanya yaitu kisah batu belah batu betangkup.
Kisah-kisah hikmah dan religius juga dapat membantu dalam mempopulerkan perintah Allah untuk berbakti kepada orangtua. Tapi tentunya akan lebih mengena jika mengambil rujukan langsung dari Al-Qur’an. Perintah berbuat baik dan berbakti kepada orangtua ini bahkan tetap harus ditunaikan walaupun orangtuanya memiliki perilaku atau tabiat buruk, kafir atau melanggar syariat, hal ini sebaiknya tidak menghalangi anak untuk menyambung tali silaturrahmi kepada orangtuanya. Melupakan tindakan apapun dari orangtua yang menyakitkan si anak demi mengharap pahala di sisi Allah SWT. Kita dapat belajar dari Rasulullah Saw dalam memperlakukan paman beliau, Abu Thalib, yang tidak mau beriman kepada Allah SWT, tetapi Rasulullah tetap berlaku hormat dan penuh kasih sayang kepadanya. Demikian pula Nabi Ibrahim yang senatiasa dengan penuh kesabaran bersikap lemah lembut dan menasehati ayah beliau yang tidak mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Allah SWT berfirman,
“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, ‘Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan syitan.’” (QS. Maryam: 41-45)
Begitu amat lembut dan sayangnya Nabi Ibrahim terhadap ayahnya, hingga beliau memintakan ampunan untuk ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia sampai akhirnya hal itu dilarang. Allah SWT berfirman,
“Dan permintaan ampunan dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyayang.” (QS. At-Taubah: 14)
Mendoakan orangtua baik ketika mereka masih hidup maupun sudah meninggal merupakan salah satu bentuk balasan dan bakti anak atas jasa dan didikan mereka berdua ketika kita masih kecil.
Sebaliknya anak dilarang mengikuti perintah orangtua jika mengajak kepada perbuatan yang melanggar syariat. Allah SWT berfirman,
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)
Dan barangsiapa yang mendapati salah satu atau kedua orangtuanya di usia tua dan dalam keadaan lemah tapi tidak memberikan pelayanan yang baik kemudian meninggal dunia maka ia masuk neraka dan Allah akan menjauhinya. Suatu tindakan yang keliru jika hanya salah satu anggota keluarga saja yang memberikan pelayanan sementara anggota keluarga lainnya berlepas tangan dengan alasan sudah  ada yang menunaikan kewajiban tersebut. Sebab, memberikan pelayanan kepada orangtua yang sudah tua dan lemah adalah salah satu ibadah yang seharusnya dipersaingkan.yang bisa mendekatkan diri seseorang pada Allah SWT.
Akhirnya, semoga Allah SWT menjadikan saya orang yang berpikir dan sadar untuk memperbaiki diri. Allah telah banyak memperlihatkan pelajaran langsung kepada saya bagaimana sebaiknya berbuat kepada orangtua melalui peristiwa yang saya menyaksikannya maupun saya alami sendiri. Cukuplah kiranya jika saya belajar dari kesalahan orang lain tanpa harus melakukannya. Semoga apa yang saya saksikan dari pengalaman hidup orang lain cukup menggugah kesadaran untuk lebih baik dalam bersikap kepada orangtua. Semoga kita semua dikaruniakan oleh Allah SWT anak-anak yang sholeh, anak-anak yang berbakti kepada orangtuanya. Amin Allahuma Amin. ***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mendidik Anak Mengenal Allah SWT Mendidik Dengan Cerita

10 Komentar Add your own

  • 1. Pepih  |  Oktober 25, 2007 pukul 6:01 am

    Saya salut dengan tulisan Rahma yang menyejukkan. Agar pembaca lebih mengetahui secara interaktif siapa Rahma, ada baiknya isi kolom “about” (tentang Anda) di atas. Sebagai orang yang tidak pernah merasa terlambat belajar, saya membaca tulisan Rahma ini. Apalagi saya yang setua ini, kini sedang mendalami bahasa Arab agar bisa lebih mengerti isi Al Qur’an. Bravo Rahma, jangan lelah menulis, setiap kalam yang Rahma berikan, akan bermanfaat buat semua orang dan berpahala bagi Rahma sendiri.

    Balas
  • 2. Ersis Warmansyah Abbas  |  Oktober 30, 2007 pukul 2:21 am

    Terusan nulis tema ini. Eh sudah berapa tulisan?

    Balas
  • 3. benbego  |  Oktober 30, 2007 pukul 4:18 pm

    salam kenal! From http://pcmavrc.wordpress.com

    Balas
  • 4. Rahmadona Fitria  |  Oktober 31, 2007 pukul 1:24 am

    InsyaALLAH, pak Ersis.
    Udah 28 Tulisan tentang anak, belum tambah muslimah dan lainnya.
    Makasih banyak, pak.

    Balas
  • 5. yadi  |  November 2, 2007 pukul 9:42 pm

    salam. memang sih dalam mendidik anak, orang tua perlu mengembangkan dirinya. jadi maksud saya, orang tua harus menjadi model bagi anak-anaknya. soalnya ada orang tua yang mengharapkan anaknya gemar membaca, tapi dirinya gak pernah membaca. kalau saja orangtua mengerti, pasti ketika dia menyuruh anak membaca, maka membaca tersebut merupakan sesuatu yang harus dimulai oleh dirinya. itu namanya otentik. karena bagaimanapun anak akan belajar dari lingkungan terdekatnya terutama ibu dan bapaknya.sekian.just keep writing

    Balas
  • 6. abu alib  |  November 8, 2007 pukul 2:43 am

    asswrwb ukhti..
    Semoga ALLAH membimbing qta untuk meneladani rasul2nya amin..

    Balas
  • 7. rika  |  November 10, 2008 pukul 4:18 am

    saya setujua dengan pendapat ibu rahma, tapi saya sering menjumpai anak yang tidak bersikap baik kepada orangtuanya semjak sering menoton televisi. saya ingin minta pendapat ibuk tentang ini

    Balas
  • 8. hudaya  |  Januari 22, 2009 pukul 11:00 am

    Artikel yang sangat bermanfaat agar anak kita berbakti kepada orangtua kita..

    Kunjungan balik ya ke blog kami🙂

    Balas
  • 9. Melayani Orang Tua « TuanSUFI  |  April 2, 2009 pukul 11:13 am

    […] tepat pada waktunya”. Kemudian aku tanya lagi “Apa lagi selain itu?” bersabda Rasulullah “Berbakti kepada kedua orang tua” Aku tanya lagi “ Apa lagi ?”. Jawab Rasulullah “ Jihad dijalan […]

    Balas
  • 10. obinhut  |  November 18, 2011 pukul 10:39 am

    terima kasih manfaat skali bacaannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: