Mendidik Dengan Cerita

November 5, 2007 at 8:18 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

KITA semua tentu masih ingat dan sangat akrab dengan kisah tentang Nabi Yusuf As. Bagaimana dengan anak-anak kita ? Ada baiknya jika kita para orangtua mulai mengakrabkan anak-anak kita dengan cerita para Nabi. Sehingga kisah-kisah tersebut tidak hanya akrab dengan anak-anak pada saat bulan Ramadan saja. Karena banyak sekali hikmah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah para nabi tersebut dalam menjalani kehidupan. Firman Allah SWT,
“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui”. (QS. Yusuf: 3)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)
Dalam aktivitas mendidik tentunya banyak kita jumpai berbagai persoalan. Di antaranya bersikap adil terhadap anak-anak dan perselisihan antar anak. Sebagai umat Islam dan muslim yang baik, tentulah kita akan menjadikan Al-Qur’an sebagai kamus untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Begitu pula dalam aktivitas mendidik, kisah para nabi banyak memberikan pelajaran dan teladan, seperti halnya kisah Nabi Yusuf As. “Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya”.  (QS. Yusuf: 7) Dalam kisah Nabi Yusuf As terdapat pelajaran dan peringatan tentang bersikap adil dan perselisihan antara saudara.
Allah SWT berfirman, “(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata”. (QS. Yusuf: 8)
Dalam kisah Nabi Yusuf As diceritakan tentang kecemburuan saudara-saudara Yusuf, disebabkan mereka merasakan adanya perbedaan perhatian dari ayahnya. Sehingga timbullah kedengkian dalam hati mereka dan sikap permusuhan terhadap Yusuf. Bahkan mereka bersepakat dan berencana untuk mencelakakan yusuf. Hal ini mereka lakukan dengan harapan perhatian ayahnya terhadapYusuf beralih kepada mereka. Seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an, “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”. (QS. Yusuf: 9)
Menurut sebuah buku tentang spiritual motivation dikatakan bahwa adil dalam masalah cinta adalah sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia. Sikap adil yang berada diluar batas kemampuan manusia tersebut adalah dalam hal cinta dan kecenderungan alamiah. Rasa cinta di hati merupakan sesuatu yang bersifat fitrah dari Allah SWT. Nabi Ya’qub As telah dikaruniai oleh Allah SWT cinta yang berlebih terhadap salah satu putranya, Yusuf. Cukuplah kiranya jika kita belajar dari kisah Nabi yusuf As. Pada hakikatnya manusia tidak mampu menguasai perasaannya, akan tetapi alangkah baiknya jika orangtua tidak memperlihatkan rasa cinta yang berlebih kepada salah seorang anaknya dengan memberikan perhatian yang berbeda kepada anak lainnya. Hal ini tidak lain untuk menjaga hati antar anak dan keharmonisan di antara mereka. Serta terjaganya tali silaturrahim, terhindarnya sikap durhaka anak kepada orangtua dan sikap permusuhan antar anak yang di timbulkan dari sikap tidak adil terhadap anak-anak.
Rasulullah Saw telah memberikan teladan dan pelajaran yang utama mengenai bersikap adil. Diriwayatkan dari Nu’man ibn Basyir ra, ia berkata, “Ayahku memberiku hadiah, kemudian Umarah binti Rahawah berkata, “Aku tidak ridha sampai Rasulullah Saw menyaksikan hal tersebut.” Nu’man pun mendatangi Rasulullah Saw seraya berkata, “Aku memberi anakku  dari Umarah binti Rahawah hadiah, dia menyuruhku agar engkau menjadi saksi.” Rasulullah Saw bertanya, “Apakah kau memberi semua anakmu seperti ini?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah, dan bersikaplah adil terhadap semua anakmu.”  Dalam riwayat lain disebutkan: “Janganlah bersaksi kepadaku tentang kezhaliman.”, “Takutlah engkau kepada Allah, berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” Sehingga akhirnya ia pun menarik kembali hadiah yang diberikan itu.
Demikianlah Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kita dan Allah SWT menghendaki agar kita belajar dari kisah Nabi Yusuf As. Dalam memperlakukan anak-anak, orangtua sebaiknya bersikap adil tidak hanya dalam hal pemberian tapi juga berinteraksi terhadap seluruh anak. Ketika menyapa dan mencium salah satu dari mereka maka sapa dan ciumlah juga yang lainnya. Terutama jika anak yang lainnya berada dihadapan kita dan melihat perlakuan kita terhadap salah seorang dari mereka. Pelajaran lainnya yang terdapat dalam kisah Nabi Yusuf As adalah sikap sabar Nabi Ya’qub As sebagai seorang ayah ketika mensikapi perilaku permusuhan anak-anaknya, yakni saudara-saudara Yusuf terhadap Yusuf.
“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. Yusuf: 18)
Mengatasi perselisihan anak-anak dengan bijaksana, diperlukan kesungguhan orangtua dalam berusaha mempelajari cara-cara mendidik yang baik dan mencoba menerapkannya. Ceritakan kisah-kisah teladan yang dapat menguatkan ikatan kasih sayang dan mempererat tali persaudaraan di antara anak-anak kita. Kisah-kisah terbaik itu hanya terdapat dalam Al-Qur’an yakni kisah-kisah para nabi. Seperi halnya kisah Nabi Yusuf As yang di ceritakan tidak pendendam walaupun telah diperlakukan tidak baik oleh saudara-saudaranya, tapi justru memaafkan kesalahan mereka. Sehingga kembali hidup rukun berdampingan bersama saudara-saudaranya dalam suasana kasih sayang.
“Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS. Yusuf: 92)
Mendidik dengan cerita  yakni menceritakan kisah-kisah teladan seperti kisah para nabi sudah mulai diterapkan oleh SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Robbani Loktabat- Banjarbaru sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah. Semoga hal ini dapat di tiru oleh sekolah-sekolah lainnya untuk meningkatkan kualitas mental dan spiritual anak-anak kita tercinta, Amin Ya Rabbal Alamin. ***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mendidik Anak Berbakti Kepada Orangtua Mendidik dengan Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: