Mendidik dengan Hati

November 5, 2007 at 8:22 am 6 komentar

Oleh: Rahmadona Fitria

Dalam aktivitas mendidik tentunya tidak lepas dengan berbagai persoalan. Bahkan mungkin sampai berujung pada kelelahan lahir batin. Akan tetapi kita semua menyadari bahwa tugas mendidik dan mendampingi anak-anak kita adalah tugas seumur hidup. Ketika menghadapi jalan buntu maka kepada Allah sajalah sebaik-baik tempat berkonsultasi. Persoalan apapun yang kita hadapi dalam aktivitas mendidik, mau tidak mau, suka atau tidak suka tetap harus kita jalani dan cobalah untuk menemukan jalan keluar dalam menyelesaikannya.
Seringkali kita terlalu menuntut anak secara berlebihan. Menganggap mereka sudah besar lalu menerapkan metode perintah dan larangan dengan membabi buta. Padahal walaupun anak-anak sudah besar metode perintah dan larangan bukanlah metode yang efektif dalam aktivitas mendidik. Orangtua menginginkan dan menentukan ketika anak pada usia tertentu mampu melakukan ini dan itu sesuai dengan harapan kita. Tetapi kalau kita pikirkan ulang, apakah memang anak-anak kita pada usianya sekarang sudah mampu menerima dan mengerjakan aturan yang kita buat ?
Sebesar apapun usia anak kita, mereka tetaplah anak-anak yang senantiasa memerlukan bimbingan dan arahan tanpa henti dari orangtuanya. Mungkin akan lebih bijaksana jika kita menyederhanakan harapan terhadap anak-anak kita. Coba saja kita renungkan kembali, bukankah tindakan yang sia-sia ketika anak-anak melakukan perbuatan yang tidak baik dan tidak kita sukai lalu kita nasehati mereka dengan bahasa emosi, marah-marah misalnya. Tentu saja anak-anak akan sulit untuk menerima apalagi mencernanya. Akibatnya tidak ada perubahan atau perbaikan perilaku. Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa tindakan yang kita lakukan gagal alias tidak ada hasilnya. Mengapa ? karena pesan yang kita maksudkan tidak sampai kepada anak.
Adakalanya kita berada pada kondisi tidak tahu harus berbuat apa lagi dalam menghadapi perilaku anak. Tapi kita harus tahu, permasalahan yang kita hadapi dalam aktivitas mendidik juga terjadi dirumah-keluarga lainnya, kita tidak sendiri. Ini berarti  setiap persoalan dalam aktivitas mendidik tentu ada jalan keluarnya. Apalagi jika orangtua memiliki kedekatan dan kekuatan hubungan dengan Allah SWT, maka dalam aktivitas mendidik Allah yang akan membimbingnya. Tidak usahlah kita repot-repot dan bingung menerapkan berbagai teori mendidik dalam membantu anak-anak kita berperilaku baik dan melakukan kebaikan sesuai dengan yang kita inginkan. Karena sebenarnya Islam hanya mengenal dua fase tumbuh kembang anak yaitu masa pra baligh dan masa baligh.
Masa pra baligh adalah masa belum adanya konsekuensi beban tanggung jawab bagi seseorang (anak). Pada masa ini anak belum memiliki kemampuan dalam memikul tanggung jawab. Disini orangtua berperan mengarahkan karena anak berada pada tahap pengenalan terhadap sebuah tanggung jawab. Tidak ada tuntutan tertentu apabila anak tidak mengerjakan sesuatu. Sedangkan masa baligh berlaku sebaliknya yaitu menuntut adanya kemampuan memikul beban tanggung jawab. Pada masa ini anak sebaiknya sudah mengetahui konsekuensi dari sebuah tanggung jawab. Tugas orangtua adalah membantu menyiapkan anak memahami konsekuensi tersebut. Seperti perintah melatih anak mengerjakan sholat pada usia tujuh tahun dan memberikan hukuman pada usia sepuluh tahun jika tidak mengerjakannya. Karena pada usia 10 tahun, anak sudah sampai pada masa baligh mengerjakan sholat pada usia tersebut sudah merupakan kewajiban dan apabila ia tidak mengerjakannya maka ia berdosa.
Sudah saatnya kita merubah metode mendidik anak yang sebelumnya menggunakan bahasa perintah, larangan dan ancaman dalam memberikan nasehat menjadi bahasa yang baik, santun dan menyejukkan yaitu bahasa hati. Merujuk Qur’an surat An Nahl (16) ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…,”  Sampaikan nasehat pada saat yang benar-benar tepat, bukan pada saat anak melakukan kesalahan dan kita sedang dikuasai amarah. Ketika anak melakukan kesalahan cukuplah dengan membantunya memperbaiki kesalahannya. Adapun waktu yang tepat dalam menyampaikan nasehat adalah saat kondisi atau emosi anak sedang stabil.
Jika orangtua kesulitan menyampaikannya dengan ucapan, kita dapat menggunakan tulisan sebagai media komunikasi dengan anak yakni dengan menulis surat. Apabila anak belum bisa membaca kita bisa membacakannya, hal ini justru akan mendekatkan hubungan orangtua dan anak. Melalui surat kita bisa merangkai  kata-kata indah dan menyentuh hati anak, sehingga pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak. Bahkan bukan tidak mungkin dapat memperbaiki perilaku anak dalam melakukan kebaikan seperti yang kita inginkan. Kita dapat mengetahui cara ini berhasil apabila terlihat perubahan perilaku pada anak menjadi lebih baik. Menyampaikan pesan dan nasehat melalui tulisan salah satu metode dalam aktivitas mendidik yang dapat dijadikan pilihan.
Mari kita mulai mendidik anak dengan hati. Satukan hati kita dan anak dengan menulis surat yang berisi pesan dan nasehat kebaikan. Insya Allah ini merupakan metode yang menyenangkan serta menarik dan berkesan bagi orangtua dan anak. Seperti komentar anak pertama saya, “Wah, seru deh mi, kalo bisa surat-suratan terus sama ummi”. Nikmat rasanya saat mendapat tanggapan positif dan menggembirakan dari anak-anak kita. Selamat mencoba! ***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mendidik Dengan Cerita Mendidik Dengan Ilmu

6 Komentar Add your own

  • 1. abu alib  |  November 8, 2007 pukul 1:33 am

    asswrwb ukhti dona..
    benar sekali, sekarang bnyk remaja yang belum menyadari akan tanggung jawab masa depan mereka, terutama tanggung jawab akhir zaman saat di yaumul hisab yang menggetarkan hati semua manusia,akibat kelalaian orang tua dalam mendidik dengan qur’an..

    Balas
  • 2. rahmadona  |  November 8, 2007 pukul 2:33 am

    Alaikumusslam.wr.wb.
    Mari bersungguh-sungguh dlm mendidik anak2 kita, karena mereka adalah para pejuang Agama ALLAH (ISLAM) dimasa mendatang. Jazakallah khair…

    Balas
  • 3. Ersis WA  |  November 11, 2007 pukul 1:20 pm

    Semakin berkualitas …

    Balas
  • 4. rahmadona  |  November 13, 2007 pukul 9:11 am

    Jazakallahu khair.. Saudaraku.

    Jazakallah khair..
    Sang Motivator EWA.

    Balas
  • 5. benbego  |  November 14, 2007 pukul 1:20 am

    Subhanallah..Khair..Khair..
    terus menulis ya!😀

    Balas
  • 6. rahmadona  |  November 22, 2007 pukul 12:22 am

    Insya Allah, terus menulis dan menulis.
    Syukron.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: