Homeschooling Dan Al Ummu Madrasatun

November 22, 2007 at 12:23 am 1 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

ORANGTUA tidak dapat mengelak terhadap tanggung jawab mendidik anak-anaknya. Hal ini menjadi perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. Allah Swt berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (yang) bahan bakarnya adalah manusia dan batu; dijaga oleh malaikat yang keras dan kasar, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan.”
Menurut Sayidina Ali maksud firman Allah tersebut adalah ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu. Pendapat lain menafsirkan, seorang muslim hendaklah mendidik diri dan keluarganya, memerintah mereka agar melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Firman Allah pada surat At-Tahrim ayat 6 tersebut menunjukkan bahwa tanggung jawab mendidik dibebankan sepenuhnya dipundak orangtua. Orangtua wajib menunaikan hak anak untuk di didik dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana anak pun memiliki kewajiban dalam menunaikan hak orangtua.
Rasulullah Saw bersabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya.” Artinya setiap manusia memiliki tanggung jawab yang wajib ditunaikan. Orangtua membawa pengaruh yang sedemikian besar terhadap kehidupan anak. Rasulullah Saw bersabda, “Setiap anak yang baru dilahirkan itu lahir dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani.”
Wajarlah jika anak semasa kecilnya disia-siakan, diabaikan dalam hal pembinaan, pengajaran dan pendidikannya akan menjadi orang yang tidak berguna baik untuk dirinya sendiri atau pun orangtuanya. Orangtua sebagai penanggung jawab pendidikan pertama akan menanggung dosa jika anak berkelakuan buruk. Sebagaimana halnya orangtua pun akan mendapat ganjaran kebaikan apabila anaknya menjadi anak sholeh.
Upaya perbaikan dan pemeliharaan dalam mendidik anak hendaknya senantiasa dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus, seperti yang dicontohkan para nabi dan Rasulullah Saw. Bertahap dan bersabar dalam pembiasaan agama dan kebaikan seperti ia melatih dua hal tersebut terhadap dirinya sendiri. Selalu optimis dalam proses mendidik, jika menemui hambatan dalam merealisasikan suatu pembiasaan pada hari ini, insya Allah masih ada harapan akan terlaksana keesokan harinya.
Jika pada zaman Rasulullah dan sahabat, para orangtua dengan penuh semangat mendorong anak-anak mereka untuk menuntut ilmu kepada orang-orang sholeh lagi kaya ilmu, maka realisasi dari tanggung jawab mendidik para orangtua zaman kini adalah dengan memasukkan anak kesekolah untuk memperoleh ilmu. Bahkan muncul sebuah pendidikan alternatif yang populer dengan nama homeschooling (HS).
Salah satu alasan kebanyakan orangtua memilih pendidikan dengan sistem HS adalah kesadaran untuk memberikan pendidikan terbaik sekaligus mengembangkan potensi anak. Tapi bagi saya sistem HS ini menjadi menarik dan berkesan karena konsep HS itu sendiri adalah mengembalikan lagi tanggung jawab orangtua sebagai pendidik pertama dengan ibu sebagai guru bagi anak. Ini sejalan dengan prinsip mendidik dalam Islam, yakni surat At-Tahrim ayat 6 dan pepatah Arab yang mengatakan Al Ummu Madrasatun (ibu adalah sekolah) bagi anak-anaknya.
Rumah dan keluarga merupakan lingkungan pertama sekaligus tempat yang paling aman dalam mendidik generasi. Para ibu adalah ruhnya, ia memegang peranan penting sebagai guru, sekolah dan tempat tinggal yang menyenangkan bagi keluarganya. Sistem HS mengembalikan kesadaran akan peran itu kembali kepada para ibu sesuai sabda Rasulullah Saw bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki (didikan) para ibu.
Saya pikir pendidikan dengan sistem HS akan banyak membantu para ibu terkondisikan untuk senantiasa terjaga memposisikan dirinya sebagai teladan yang baik, karena dirinya sendirilah guru dan sekolah bagi anak-anaknya. Sebagaimana para guru yang senantiasa terlihat manis disekolah karena memposisikan dirinya sebagai guru yang perilakunya tentu menjadi teladan dan akan ditiru oleh murid-muridnya.
Sistem pendidikan HS selain membangkitkan jiwa pendidik tentunya juga dapat meningkatkan kepercayaan diri para ibu yang kini cenderung rendah dalam menyandang predikat ibu rumah tangga. Kaum ibu dalam sistem pendidikan HS dibekali dengan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk membantunya melaksanakan tugas mendidik, layaknya guru disekolah. Dengan begitu para ibu dapat mengoptimalkan sifat-sifat istimewanya dan mengembangkan kreatifitas dalam mendidik dirinya menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya.
Pada akhirnya sistem pendidikan HS ini bisa menjadi sebuah solusi dalam mengoptimalkan partisipasi kaum ibu dalam bidang yang sesuai dengan kompetensi dan fitrah kewanitaannya sekaligus membantu meningkatkan kualitas pendidikan generasi penerus. Insya Allah!***

*) Buat abangku dan suami tercinta, thank’s ya sudah bantu berburu info tentang homeschooling. Jazakallah khairan katsira.

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mendidik Dengan Ilmu Belajarku Dari Menulis

1 Komentar Add your own

  • 1. domba garut!  |  Desember 21, 2007 pukul 4:51 pm

    Life is a learning’s ground itself, right?😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: