Mendidik Dengan Ilmu

November 22, 2007 at 12:15 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Disadari atau tidak, seringkali kita menganggap remeh anak kecil. Kita terlanjur menyimpulkan bahwa anak-anak akan mengerti sendiri baik atau buruk kalau mereka sudah besar. Lalu kita pun terlena dan lalai terhadap tanggung jawab mendidik. Padahal pemahaman terhadap baik buruk hanya akan diperoleh melalui pembinaan bertahap dan terus menerus. Kebaikan akan menjadi kebiasaan apabila dilatih secara berkesinambungan.
Kendala berupa beban lahir batin dalam mengatur anak yang masih kecil membuat kita menganggap wajar saja membiarkan mereka tumbuh tanpa pembinaan. Kita mengira jika menunda pembinaan tersebut hingga anak berada pada tahapan usia tertentu akan lebih mudah mengarahkannya dan pada akhirnya anak mengerti lalu mengerjakan kebaikan tersebut. Semudah itukah ? Seolah-olah kita tutup mata, telinga dan hati kita terhadap kenyataan bahwa justru semakin besar anak akan semakin sulit dibentuk.
Dalam buku ‘Cara Nabi Mendidik anak’ terungkap sebuah rahasia fakta tentang konsep Islam mendidik anak sejak usia dini. Dikatakan bahwa anak kecil hatinya masih putih bersih. Dalam keadaan yang masih fitrah (suci), anak-anak lebih mudah menerima kebaikan dan kebenaran. Apabila sejak kecil, anak-anak sudah dibina dengan kebiasaan-kebiasaan baik maka kebaikan itu akan menetap pada dirinya hingga ia dewasa.
Ternyata masa kanak-kanak yang panjang itulah justru kunci keberhasilan mendidik umat Islam di zaman Rasulullah Saw, sahabat dan orang-orang sholeh sesudahnya. Sehingga lahirlah generasi-generasi penerus Islam yang tercatat sejarah kemuliaan dan kejayaan dirinya. Seperti antara lain Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, serta Hasan dan Husain cucu Rasulullah Saw.
Dalam suatu riwayat disebutkan anak pada fase prabaligh belum dicatat amal baik dan buruknya oleh malaikat pencatat amal hingga ia berusia baligh. Masa kanak-kanak yang panjang pada fase prabaligh ini merupakan kehendak dan peluang dari Allah Swt untuk manusia mempersiapkan keturunannya agar nantinya mampu menghadapi segala tipu daya setan yang mengajak pada kesesatan. Sekaligus kesempatan untuk mendampingi dan mempersiapkan anak menuju fase baligh.
Di harapkan anak pada fase baligh telah mencapai kesempurnaan dalam menerima konsekuensi tanggung jawab, komitmen yang kuat terhadap tanggung jawab, dan memiliki kemampuan mengontrol serta mendidik dirinya sendiri. Oleh sebab itu fase prabaligh memegang peranan sangat penting dan menentukan bagi pendidikan anak pada tahap perkembangan selanjutnya yaitu fase baligh.
Sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa Islam hanya mengenal dua fase tumbuh kembang anak, yaitu fase prabaligh dan fase baligh. Fase prabaligh adalah masa dimana tidak dimunculkannya konsekuensi beban tanggung jawab bagi anak. Sedangkan fase baligh adalah masa menuntut adanya kemampuan memikul beban tanggung jawab. Fase prabaligh inilah yang menjadi landasan utama bagi Rasulullah Saw, sahabat, dan orang-orang sholeh dalam mendidik dan mengembangkan naluri fitrah (kesucian) akal serta pikiran anak-anak mereka.
Dalam membentengi dan mendidik kesucian akal pikiran keturunannya, Rasulullah Saw dan para sahabat sejak dini mengajarkan Al-Qur’an. Sehingga keadaannya yang masih fitrah itu senantiasa mudah menerima kebaikan dan kebenaran karena memiliki ikatan langsung dengan Allah Swt. Ketika tiba saatnya tuntutan terhadap kesiapan dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran tersebut, anak telah mempunyai komitmen yang kuat untuk menjalankannya.
Demikianlah para orangtua pada zaman Rasulullah Saw, sahabat dan orang-orang sholeh sesudahnya berlomba-lomba dengan penuh semangat mendorong anak-anaknya sejak dini untuk menuntut ilmu Al-Qur’an dan Hadits, sumber dari segala ilmu. Hal itu mereka lakukan tidak lain karena menyadari keistimewaan dan keutamaan manfaatnya bagi kesuksesan serta keselamatan masa depan kehidupan dunia-akhirat anak-anaknya.
Ilmu dan kandungan dalam Al-Qur’an yang diajarkan sejak dini mampu mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak, karena akal, pikiran, dan jiwanya yang masih bersih. Hanya Al-Qur’an yang mampu mendidik serta menuntun akal dan jiwa anak pada kebaikan dan kebenaran. Upaya mendidik dan pembelajaran ini masih terus menerus dilakukan, dari fase prabaligh sampai mencapai fase baligh. Mulai dari tahap pengenalan, pembiasaan, latihan, hingga sampai pada tahap pengamalan. Salah satu contohnya adalah perintah untuk mengerjakan sholat.
Mendidik anak sejak dini yakni pada fase prabaligh akan sangat membantu dan memperingan beban mendidik pada fase baligh. Disebabkan anak masih dalam keadaan fitrah sehingga memudahkan orangtua membentuknya untuk cenderung pada kebaikan. Sedangkan anak yang ketika berada pada fase prabaligh diabaikan tanpa pembinaan akan semakin sulit untuk dibentuk ketika mencapai fase baligh. Anak akan mengalami hambatan dalam penerapan sebuah kebiasaan baik karena tidak terbiasa dengan sentuhan pembinaan.
Maka bersiap siagalah agar tidak kehilangan kesempatan mendidik pada fase prabaligh anak-anak kita. Jadikan Al-Qur’an sebagai pondasi tumbuh kembangnya. Luruskan kembali orientasi atau tujuan mendidik mereka pada kesuksesan dan keselamatan masa depan dunia akhirat. Hanya orientasi mendidik yang demikian akan mampu mengantarkan anak-anak kita pada kemuliaan, kebesaran dan kepopuleran nama mereka serta keistimewaan diri yang diakui dan tercatat kebaikannya oleh sejarah didunia, pun dicatat amal kebaikannya untuk kebahagiaan hidup akhiratnya. Insya Allah! Amin Ya Rabbal Alamin.***

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Mendidik dengan Hati Homeschooling Dan Al Ummu Madrasatun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: