Archive for Januari, 2008

Sudah Hafal Berapa Juz?

Oleh : Rahmadona Fitria

Orangtua mana yang tidak bangga jika melihat berbagai kemajuan yang telah dicapai anak dalam masa pertumbuhannya. Suatu ketika saya dan suami berbincang, ia teringat pada kejadian dimana ia menceritakan tentang beberapa kemajuan yang dicapai oleh anak pertama kami kepada saudaranya. Maka saudaranya itu pun bertanya, “Sudah hafal berapa juz ?”. Sekarang saya baru memahami makna dibalik pertanyaan tersebut dan sepakat dengan suami kalau pertanyaan itu kini justru menjadi bahan koreksi bagi kami tentang makna kemajuan dalam pendidikan anak yang seharusnya dicapai oleh seorang anak muslim.

Ya, seringkali kita keliru memaknai kemajuan-kemajuan yang dicapai anak lalu mengkaitkannya dengan kecerdasan. Banyak orang salah kaprah dalam memahami pengertian dari kecerdasan. Ada yang menganggap anak yang cerdas adalah anak yang pintar ilmu matematika atau sains. Ada pula yang menilai kecerdasan anak hanya pada sisi prestasi akademik yang diperoleh anak disekolah.

Sudah saatnya kita meluruskan pemahaman yang keliru mengenai pengertian dari kecerdasan. Kemajuan yang dicapai oleh seorang anak muslim akan dinilai sebagai suatu kecerdasan atau prestasi yang membanggakan apabila ia telah mampu menghafal Al Qur’an, minimal juz 30 atau populer dengan istilah juz’ amma. Kenapa ? Karena Al Qur’an adalah sumber dari segala sumber ilmu.

Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita untuk memperkenalkan Al Qur’an sejak dini. Begitu pula para sahabat Rasulullah mengikuti jejak beliau dalam mendidik anak-anak mereka untuk dekat dengan Al Qur’an. Menghafal Al Qur’an menjadi pijakan pertama bagi para pendidik dalam mengasah awal kecerdasan generasi islam. Setelah anak diarahkan untuk mengenal Al Qur’an kemudian mampu menghafalnya barulah masuk ketahap pendidikan selanjutnya yakni mengajarkan anak pada ilmu-ilmu lainnya dan mendukung mereka dalam menekuni bakat atau kecenderungannya terhadap bidang tertentu.

Jadi sekali lagi, bahwa memperkenalkan dan menghafal Al Qur’an dalam mendidik generasi islam pada awal tumbuh kembang mereka adalah lebih utama dan merupakan prestasi yang mengagumkan dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Lebih baik lagi jika hal itu dilakukan sebelum mereka mencapai usia baligh atau usia 10 tahun. Sedangkan usia 7 tahun adalah masa yang efektif dalam melatih anak untuk menghafal Al Qur’an.
Alangkah baiknya jika pada usia pra baligh anak diarahkan untuk fokus dalam mengenal dan menghafal Al Qur’an. Kandungan ilmu dalam Al Qur’an akan membimbing akal dan jiwa anak.***

Iklan

Januari 9, 2008 at 7:24 am 2 komentar

Buat Apa Belajar ?

Oleh : Rahmadona Fitria

Ada kenikmatan tersendiri saat mendampingi anak belajar, terutama ketika anak ada ulangan umum disekolah. Aku pernah berpesan kepada anak-anakku agar mereka belajar karena senang belajar. Sebab, Allah Swt dan Rasulullah mencintai orang-orang yang senang belajar. Bahwa dengan belajar hidupnya akan sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita bagaimana menanamkan kecintaan belajar anak dengan menjelaskan banyaknya manfaat yang diperoleh dari belajar kepada anak. Sehingga belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan lebih terasa manfaatnya bagi anak.

Konsep tentang belajar yang pengertiannya dulu masih terbatas pada tempat, saat ini sudah sedemikian berkembang dengan adanya berbagai penelitian dan penemuan. Dulu belajar itu ya disekolah atau lembaga pendidikan lainnya, kalau belajar dirumah terbatas pada aktivitas mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah atau mengulangi membaca buku pelajaran yang sudah diajarkan disekolah. Sementara aktivitas lain seperti membaca buku diluar buku pelajaran sekolah, nonton tv, bermain game atau aktivitas bermain anak lainnya tidak dianggap sebagai kegiatan belajar.

Sebutan ‘rumah cerdas’ menjelaskan kepada kita bahwa semua kegiatan dirumah bisa menjadi sarana belajar bagi anak. Belajar dirumah tidak harus identik dengan mengulangi pelajaran sekolah sambil duduk manis, serius tanpa adanya gangguan. Bagaimana anak mau senang belajar jika suasana belajar terkesan menegangkan dan membosankan?

Padahal fakta terbaru tentang konsep belajar mengatakan, belajar juga melibatkan fungsi emosional anak. Jika tercipta suasana menyenangkan dalam situasi belajar maka akan membangkitkan kegembiraan dan semangat anak terhadap aktivitas belajar. Sehingga berdampak positif pula bagi anak dalam menerima pelajaran dengan mudah. Satu lagi, anak pun akan menyukai aktivitas belajar tanpa harus dipaksa atau merasa terpaksa.

Rumah dapat menjadi sarana belajar bagi anak, apabila dirancang untuk mendukung aktivitas belajar. Anak tidak perlu disuruh apalagi dipaksa belajar mengikuti aturan waktu dan jadwal mata pelajaran tertentu. Asalkan situasi belajar tersebut sudah memenuhi syarat yang melibatkan fungsi emosional anak, yaitu adanya unsur permainan dan hiburan. Maka anak dengan sendirinya akan terkondisikan untuk belajar dan bisa menerima pelajaran dengan efektif. semua media yang ada dirumah sedapat mungkin mengandung unsur mendidik dan belajar, sehingga turut menyulut keinginan dan kecintaan anak terhadap kegiatan belajar.

Televisi dirumah digunakan untuk menonton CD edukatif karena lebih bermanfaat dalam mendukung kegiatan belajar anak. Begitu pula dengan komputer, CD games edukatif jadi pilihan belajar sekaligus bermain yang menarik bagi anak. Tidak ketinggalan buku-buku cerita menarik yang menambah wawasan dan pengalaman anak tanpa mengabaikan unsur edukatif sekaligus menghibur.

Keadaan lingkungan baik di dalam maupun di luar rumah juga dapat mendukung kegiatan belajar dan menyulut keinginan belajar anak. Di halaman rumah yang luas anak bisa mengamati hijaunya dedaunan dan rerumputan, mengamati cacing dan semut ditanah, menghitung batu-batu yang berserakan, membentuk pasir dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Sedangkan di dalam rumah, kita bisa mendukung kegiatan belajar anak tanpa banyak larangan. Itulah pentingnya menciptakan situasi yang aman bagi anak bukan sebaliknya, menghambat kreatifitas dan minat mereka yang sebenarnya wajar pada masa tumbuh kembangnya. Di sini diperlukan pengertian dan kesabaran setiap orangtua serta orang dewasa lainnya.

Kenyataannya, masih banyak orangtua yang menganggap aksi corat-coret anak yang sedang gemar menggambar dan mewarnai sebagai suatu ancaman daripada memandangnya sebagai sebuah kreatifitas. Sehingga reaksi yang muncul adalah perilaku steril yaitu menjauhkan anak dari berbagai alat tulis, mulai dari pulpen, pensil, spidol dan media pewarna lainnya.

Padahal perilaku steril hanya akan membuat anak merasa penasaran dan  semakin tertantang untuk melakukan suatu perbuatan. Melarang atau menjauhkan anak dari suatu perbuatan yang sebenarnya dapat menjadi sarana memperkaya pengalaman dan belajar anak hanya akan meninggalkan dampak negatif pada anak. Kalau tidak menjadi anak yang susah diatur karena kebutuhan pada masa perkembangannya tidak terpenuhi, atau sebaliknya menjadi anak yang lemah kemauan karena mengalami hambatan perkembangan  akibat terlalu banyak dibatasi.

Yang terakhir, tidak menjadikan nilai sebagai ukuran bodoh atau pintarnya seseorang. Yang mana ketika anak memperoleh nilai bagus ia akan merasa bangga dan istimewa, sedangkan apabila ia mendapat nilai kurang bagus atau jelek akan merasa bersalah, rendah diri bahkan menganggap kalau dirinya memang bodoh. Sehingga menimbulkan perilaku atau sikap diri negatif dan orientasi belajar yang salah. Belajar dan sekolah jadi identik sekedar untuk mengejar nilai dan ijazah. Karena itu lahirlah generasi yang SDM nya serba kekurangan, kurang berkualitas dan kurang kreatifitas.

Setiap anak perlu diajarkan untuk menyukai dirinya dan menjadi dirinya sendiri dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Dengan kelebihannya ia akan dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Sedangkan dengan kekurangannya ia belajar berusaha memperbaiki diri dan kesalahannya.
Berkaitan dengan nilai yang ia peroleh dari sekolah, sebaiknya anak diberikan pengertian bahwa apabila ia mendapat nilai bagus tandanya ia bisa menerima dan memahami pelajaran dengan baik. Adapun ketika ia mendapat nilai jelek atau kurang bagus tandanya ia harus lebih konsentrasi dan lebih giat belajar.

Sangat penting memberikan pengarahan kepada anak bahwa dengan belajar dan pelajaran yang ia dapat disekolah akan membantunya menjalani kehidupan serta menyelesaikan berbagai persoalan yang ia hadapi. Orang yang pintar adalah orang yang benci terhadap kebodohan karena itu ia cinta akan ilmu dan senang belajar serta senantiasa memperbaiki diri. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang benci menuntut ilmu dan malas belajar karena itu ia pun enggan memperbaiki diri dan mempertahankan kekurangan dirinya, sehingga kebodohan tetap melekat erat  pada dirinya.
Dengan pengertian dan pengarahan tadi diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak untuk senang belajar serta menjadi jawaban atas pertanyaan polos anak-anak kita, “buat apa belajar?”.

*Penulis OPINI pada HU.RADAR BANJARMASIN,
&  Research Assosiate bidang pengembangan anak pada Lembaga Psikologi Solusi Global Banjarbaru
email: rahmadona07@yahoo.co.id
weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com

Januari 9, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Belajarku Dari Menulis

Oleh : Rahmadona Fitria*

Tidak pernah kusangka, aku belajar banyak dari aktivitas menulisku. Berawal dari ‘menceburkan diri’ dengan tulisan-tulisan bertema pendidikan anak. Ternyata justru membuatku ‘terlanjur basah’ dan benar-benar jadi jatuh cinta lagi pada dunia anak. Pandangan terhadap anak pun berubah, mereka bukan sekedar manusia mini yang perlu didampingi tapi menurut Rasulullah Saw seandainya kita mampu melihat rahasia dibalik balutan tubuh kecilnya, maka kita akan menyadari kalau mereka adalah calon pemimpin umat, pembela agama Allah Swt pada zaman yang diperuntukkan bagi mereka. Bahkan masa depan kita diakhirat juga ditentukan dari bagaimana kita mendidik mereka dan apakah mereka sudah menjadi generasi seperti yang diinginkan oleh Allah Swt.

Akhirnya aku menyadari bahwa ini adalah peran dan tugas seorang perempuan seumur hidup hingga ajal menjemput. Aku mulai belajar ber-empati terhadap kesulitan yang mereka hadapi dan peduli terhadap kebutuhan mereka dalam hal pendidikan. Aku ingin memberikan yang terbaik dan mendidik mereka seperti yang diinginkan sang penguasa diri setiap manusia, Allah Swt. Insya Allah !

Nilai-nilai yang kuperoleh dari bacaan dan tulisanku mempengaruhi perasaanku. Aku mulai belajar menata emosi supaya ketika marah tidak sekedar menumpahkan kekesalan pada anak tapi mengandung muatan yang menunjukkan apa sebaiknya mereka lakukan untuk meluruskan kesalahan perilakunya. Aku mulai belajar memahami, aktivitas mendidik memerlukan adanya sentuhan jiwa.

Itulah kiranya jawaban mengapa seorang ibu dikatakan sebagai ruh dalam keluarga, ketika ia memiliki jiwa pendidik. Jika seorang ibu memiliki jiwa pendidik, ia akan bertanggung jawab penuh dalam menjalankan perannya, lebih baik daripada para guru disekolah manapun. Aktivitas menulisku kini tidak sekedar sebagai identitas dan aktualisasi diri tapi juga mendukung tugas utama dalam mendampingi masa tumbuh kembang dan aktivitas mendidik anak-anakku tercinta. Insya Allah!***

Januari 9, 2008 at 7:20 am Tinggalkan komentar


Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Posts by Month

Posts by Category