Buat Apa Belajar ?

Januari 9, 2008 at 7:23 am Tinggalkan komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Ada kenikmatan tersendiri saat mendampingi anak belajar, terutama ketika anak ada ulangan umum disekolah. Aku pernah berpesan kepada anak-anakku agar mereka belajar karena senang belajar. Sebab, Allah Swt dan Rasulullah mencintai orang-orang yang senang belajar. Bahwa dengan belajar hidupnya akan sukses, bahagia dan selamat dunia akhirat. Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita bagaimana menanamkan kecintaan belajar anak dengan menjelaskan banyaknya manfaat yang diperoleh dari belajar kepada anak. Sehingga belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan lebih terasa manfaatnya bagi anak.

Konsep tentang belajar yang pengertiannya dulu masih terbatas pada tempat, saat ini sudah sedemikian berkembang dengan adanya berbagai penelitian dan penemuan. Dulu belajar itu ya disekolah atau lembaga pendidikan lainnya, kalau belajar dirumah terbatas pada aktivitas mengerjakan PR (pekerjaan rumah) dari sekolah atau mengulangi membaca buku pelajaran yang sudah diajarkan disekolah. Sementara aktivitas lain seperti membaca buku diluar buku pelajaran sekolah, nonton tv, bermain game atau aktivitas bermain anak lainnya tidak dianggap sebagai kegiatan belajar.

Sebutan ‘rumah cerdas’ menjelaskan kepada kita bahwa semua kegiatan dirumah bisa menjadi sarana belajar bagi anak. Belajar dirumah tidak harus identik dengan mengulangi pelajaran sekolah sambil duduk manis, serius tanpa adanya gangguan. Bagaimana anak mau senang belajar jika suasana belajar terkesan menegangkan dan membosankan?

Padahal fakta terbaru tentang konsep belajar mengatakan, belajar juga melibatkan fungsi emosional anak. Jika tercipta suasana menyenangkan dalam situasi belajar maka akan membangkitkan kegembiraan dan semangat anak terhadap aktivitas belajar. Sehingga berdampak positif pula bagi anak dalam menerima pelajaran dengan mudah. Satu lagi, anak pun akan menyukai aktivitas belajar tanpa harus dipaksa atau merasa terpaksa.

Rumah dapat menjadi sarana belajar bagi anak, apabila dirancang untuk mendukung aktivitas belajar. Anak tidak perlu disuruh apalagi dipaksa belajar mengikuti aturan waktu dan jadwal mata pelajaran tertentu. Asalkan situasi belajar tersebut sudah memenuhi syarat yang melibatkan fungsi emosional anak, yaitu adanya unsur permainan dan hiburan. Maka anak dengan sendirinya akan terkondisikan untuk belajar dan bisa menerima pelajaran dengan efektif. semua media yang ada dirumah sedapat mungkin mengandung unsur mendidik dan belajar, sehingga turut menyulut keinginan dan kecintaan anak terhadap kegiatan belajar.

Televisi dirumah digunakan untuk menonton CD edukatif karena lebih bermanfaat dalam mendukung kegiatan belajar anak. Begitu pula dengan komputer, CD games edukatif jadi pilihan belajar sekaligus bermain yang menarik bagi anak. Tidak ketinggalan buku-buku cerita menarik yang menambah wawasan dan pengalaman anak tanpa mengabaikan unsur edukatif sekaligus menghibur.

Keadaan lingkungan baik di dalam maupun di luar rumah juga dapat mendukung kegiatan belajar dan menyulut keinginan belajar anak. Di halaman rumah yang luas anak bisa mengamati hijaunya dedaunan dan rerumputan, mengamati cacing dan semut ditanah, menghitung batu-batu yang berserakan, membentuk pasir dan masih banyak lagi kegiatan lainnya.

Sedangkan di dalam rumah, kita bisa mendukung kegiatan belajar anak tanpa banyak larangan. Itulah pentingnya menciptakan situasi yang aman bagi anak bukan sebaliknya, menghambat kreatifitas dan minat mereka yang sebenarnya wajar pada masa tumbuh kembangnya. Di sini diperlukan pengertian dan kesabaran setiap orangtua serta orang dewasa lainnya.

Kenyataannya, masih banyak orangtua yang menganggap aksi corat-coret anak yang sedang gemar menggambar dan mewarnai sebagai suatu ancaman daripada memandangnya sebagai sebuah kreatifitas. Sehingga reaksi yang muncul adalah perilaku steril yaitu menjauhkan anak dari berbagai alat tulis, mulai dari pulpen, pensil, spidol dan media pewarna lainnya.

Padahal perilaku steril hanya akan membuat anak merasa penasaran dan  semakin tertantang untuk melakukan suatu perbuatan. Melarang atau menjauhkan anak dari suatu perbuatan yang sebenarnya dapat menjadi sarana memperkaya pengalaman dan belajar anak hanya akan meninggalkan dampak negatif pada anak. Kalau tidak menjadi anak yang susah diatur karena kebutuhan pada masa perkembangannya tidak terpenuhi, atau sebaliknya menjadi anak yang lemah kemauan karena mengalami hambatan perkembangan  akibat terlalu banyak dibatasi.

Yang terakhir, tidak menjadikan nilai sebagai ukuran bodoh atau pintarnya seseorang. Yang mana ketika anak memperoleh nilai bagus ia akan merasa bangga dan istimewa, sedangkan apabila ia mendapat nilai kurang bagus atau jelek akan merasa bersalah, rendah diri bahkan menganggap kalau dirinya memang bodoh. Sehingga menimbulkan perilaku atau sikap diri negatif dan orientasi belajar yang salah. Belajar dan sekolah jadi identik sekedar untuk mengejar nilai dan ijazah. Karena itu lahirlah generasi yang SDM nya serba kekurangan, kurang berkualitas dan kurang kreatifitas.

Setiap anak perlu diajarkan untuk menyukai dirinya dan menjadi dirinya sendiri dengan segala kelebihan maupun kekurangannya. Dengan kelebihannya ia akan dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat. Sedangkan dengan kekurangannya ia belajar berusaha memperbaiki diri dan kesalahannya.
Berkaitan dengan nilai yang ia peroleh dari sekolah, sebaiknya anak diberikan pengertian bahwa apabila ia mendapat nilai bagus tandanya ia bisa menerima dan memahami pelajaran dengan baik. Adapun ketika ia mendapat nilai jelek atau kurang bagus tandanya ia harus lebih konsentrasi dan lebih giat belajar.

Sangat penting memberikan pengarahan kepada anak bahwa dengan belajar dan pelajaran yang ia dapat disekolah akan membantunya menjalani kehidupan serta menyelesaikan berbagai persoalan yang ia hadapi. Orang yang pintar adalah orang yang benci terhadap kebodohan karena itu ia cinta akan ilmu dan senang belajar serta senantiasa memperbaiki diri. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang benci menuntut ilmu dan malas belajar karena itu ia pun enggan memperbaiki diri dan mempertahankan kekurangan dirinya, sehingga kebodohan tetap melekat erat  pada dirinya.
Dengan pengertian dan pengarahan tadi diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan anak untuk senang belajar serta menjadi jawaban atas pertanyaan polos anak-anak kita, “buat apa belajar?”.

*Penulis OPINI pada HU.RADAR BANJARMASIN,
&  Research Assosiate bidang pengembangan anak pada Lembaga Psikologi Solusi Global Banjarbaru
email: rahmadona07@yahoo.co.id
weblog: http://www.rahmadona.wordpress.com

Entry filed under: Mendidik. Tags: .

Belajarku Dari Menulis Sudah Hafal Berapa Juz?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Januari 2008
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: