Ajari Aku Jadi Pendampingmu

Februari 10, 2008 at 1:55 pm 5 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Ibarat kata pepatah : Pucuk dicinta ulam tiba, demikianlah yang kudapat dari membaca buku ‘Karena engkau perempuan’. Berbagai peristiwa hidup yang kualami mengantarkan diri ini sampai pada kesadaran untuk lebih memahami dan mengahayati peran sebagai seorang perempuan. Kesadaran ini memotivasi diri mencari ilmu tentang bagaimana jati diri perempuan yang sebenarnya dalam kehidupan agar sukses dunia akhirat. Apa yang kucari kutemukan jawabannya pada buku ‘Karena engkau perempuan’.
Bahwa pengalaman adalah guru terbaik ternyata benar adanya. Buktinya banyak pelajaran didapat dari setiap peristiwa dalam perjalanan kehidupanku. Ada saja hikmah yang kupetik dari pengalaman hidupku. Dan diri ini pun meyakini, setiap harinya kita senantiasa tidak pernah berhenti belajar dari berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup kita.
.Berawal dari pengalaman yang diperoleh selama mengarungi samudera kehidupan dengan pasangan jiwa, suami tercinta. Beragam peristiwa turut mewarnai perjalanan diri dalam memainkan peran sebagai seorang pendamping. Tidak mudah menjadi sosok perempuan ideal. Itu pandanganku ketika belum memiliki pengetahuan tentang jati diri seorang perempuan. Begitu sulit menjalankan peranku dalam mendampingi suami terutama berkaitan dengan ruang lingkup pekerjaan yang ia pilih. Pekerjaannya termasuk jenis pekerjaan sosial yang mengabdikan diri demi kepentingan masyarakat. Sehingga seringkali terjun langsung kelapangan. Aku merasa kesulitan untuk menyamakan langkah agar seiring sejalan dengannya. Tapi justru aku belajar banyak dari pengalaman jatuh bangun dalam mengejar ketinggalan untuk bisa sejajar langkah bersamanya.
Bagaimana sebaiknya aku menjalankan peranku sebagai perempuan terutama sebagai pendamping ? Inilah yang kutemukan jawabannya pada buku ‘Karena engkau perempuan’. Hidup berpasangan tidak lepas dari penilaian, begitu pula halnya yang berlaku pada pasangan suami isteri. Seorang isteri ada kalanya dikaitkan dengan status sosial yang disandang suaminya. Ini pula yang terkadang membebaniku untuk bersikap. Aku ingin orang menilaiku apa adanya diriku, karena aku adalah aku, aku tidak sama dengan suamiku. Aku memiliki potensi yang berbeda dengan suamiku. Tapi tidak mungkin merubah penilaian orang, yang bisa kulakukan adalah kembali mengikuti saran ilmu psikologi yaitu mengubah cara berpikir dan perasaanku terhadap sesuatu.
Sudah menjadi pendapat umum, jika suami memiliki jabatan maka dengan sendirinya naik pula derajat sang isteri. Tidak heran apabila timbul anggapan, seorang perempuan dikatakan beruntung jika suami atau calon suaminya mempunyai jabatan tertentu dalam pekerjaannya. Seolah-olah keberuntungan, keberhasilan dan kemuliaan seorang perempuan tergantung pada status yang disandang oleh suaminya. Banyak dongeng dan cerita yang beredar dimasyarakat juga mendukung anggapan demikian. Sehingga bertaburanlah mimpi para perempuan untuk memperoleh keberuntungan dan kemuliaan yang didapat dari jabatan dan kekayaan suami atau calon suaminya.
Bagiku membaca tulisan saudari Jazimah Al Muhyi yang berjudul keberuntungan perempuan versi dongeng (dalam buku ‘Karena Engkau Perempuan’) benar-benar suatu pencerahan tentang identitas perempuan yang sesungguhnya. Semestinya memang seorang perempuan dihargai karena potensi yang ada pada dirinya (baik dalam menjalankan peranannya sebagai ibu rumah tangga atau profesi lainnya), bukan karena pekerjaan, jabatan atau kekayaan suaminya. Seorang perempuan seperti juga pria diberi kesempatan oleh Allah dan sama-sama memiliki potensi dalam mencapai derajat dan martabat kehidupannya sendiri. Kemuliaan hidup seorang perempuan dapat dicapai dengan menguatkan pembinaan dirinya (fisik, intelektual, mental dan ruhani).
Ada beberapa hal yang saat ini kujadikan tuntunan dalam menjalankan peranku sebagai perempuan sekaligus pendamping (setelah membaca buku ‘Karena Engkau Perempuan), salah satunya adalah berbuat yang terbaik sesuai dengan kondisi (baik itu kekurangan maupun kelebihan) yang Allah berikan kepadaku dan optimal didalamnya. Semoga Allah Swt senantiasa memberiku kekuatan, Amin Allahuma Amin.***

Entry filed under: Muslimah. Tags: .

Kupersembahkan Untukmu Abah Bila Saat Itu Tiba

5 Komentar Add your own

  • 1. Ahmad Nur Irsan Finazli  |  Februari 19, 2008 pukul 3:23 pm

    InsyaALLAH akan saya ajari dan tuntun ke jalan yang diridhoi-Nya. Amiiin

    Balas
  • 2. Ella Megawati  |  Februari 19, 2008 pukul 3:35 pm

    assalmu’alaikum.
    ummi, tulisannya bagus banget, membuat terharu he he he.
    Maaf baru sempat buka. Ditunggu lho bukunya..
    Salam ya buat 3 ponakan-ku…

    Balas
  • 3. wishbeukhti  |  Maret 13, 2008 pukul 10:11 am

    kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa, untuk situasi apa pun, untuk dunia dan akhirat kita…

    dengan meminimalkan keburukan, dan memaksimalkan kebaikan…

    terlepas apakah kita perempuan, atau laki-laki

    nice writing🙂

    Balas
  • 4. sapri MK  |  April 15, 2008 pukul 6:40 pm

    lakukan lah dengan ikhlas lillahi ta’ala insya allah kau capai dunia akhirat

    Balas
  • 5. Irfa  |  Mei 15, 2008 pukul 11:40 am

    Tulisan anda memberikan inspirasi buat saya untuk mencari pasangan hidup yang solihah.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: