Kupersembahkan Untukmu Abah

Februari 10, 2008 at 1:52 pm 3 komentar

Oleh : Rahmadona Fitria

Abahku, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS). Sekarang hari-harinya disibukkan dengan merawat tanaman di halaman rumah beliau. Sepertinya memang beliau senang berkebun. Dulunya beliau bekerja di dinas perkebunan. Aku mengira merawat tanaman adalah aktivitas serius dalam kesehariannya mengisi waktu luang. Kalau dulu beliau bekerja sekarang pun beliau tetap bekerja, hanya lokasinya yang berpindah tempat dari kantor ke rumah. Objek pekerjaannya juga tidak jauh berbeda, sama-sama mengurusi tanaman. Perbedaannya sekarang mungkin beliau lebih menikmati pekerjaannya, karena selain lebih santai tentunya ada kepuasan tersendiri.
Bagiku tidak ada perbedaan pandangan terhadap beliau berkenaan dengan status pensiunan atau tidak. Permasalahannya justru terletak pada pandangan umum masyarakat yang terlanjur mendarah daging mengenai bekerja atau tidak bekerja dan status pensiunan. Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan saudari Kun Sri Budiasih (penulis FLP Yogyakarta) yang judulnya Bekerja atau Tidak Bekerja dalam buku ‘Karena Engkau perempuan’. Juga sebagai wujud kepedulian terhadap pelurusan pandangan mengenai status pensiunan. Sekaligus sebagai persembahan untuk abahku tercinta, kami (anak-anakmu) akan tetap menghargaimu selalu dan selamanya.
Bekerja terlanjur identik dengan status, tempat dan uang. Maksudnya seseorang akan dikatakan bekerja jika ia berstatus pegawai, karyawan, buruh, pengusaha bahkan pesuruh dan berkantor (ada tempat yang dituju sebagai tempat bekerja). Seseorang akan dianggap tidak bekerja jika pekerjaan yang ia tekuni tidak menghasilkan uang alias sama saja dengan tidak punya pekerjaan. Maka timbul pula pandangan susulan bahwa pekerjaan yang tidak menghasilkan uang itu tidak ‘prestise’. Artinya tidak bergengsi, tidak bermartabat dan berwibawa. Begitulah kenyataan berpikir masyarakat materialis, mengukur segala sesuatu dengan uang. Seseorang dihargai, bermartabat dan berwibawa karena pekerjaan, jabatan atau materi yang dimilikinya. Jadi ketika semua predikat tersebut tidak melekat lagi pada diri
seseorang maka ia akan dilupakan.
Sederhananya, kita memahami pengertian bekerja adalah melakukan atau berbuat sesuatu. Berarti seorang pensiunan yang melakukan suatu kegiatan dirumah sama bekerjanya dengan seorang pegawai yang berkegiatan dikantor. Jelas berbeda pengertiannya antara bekerja dan tidak bekerja. Tidak bekerja berarti tidak melakukan apa-apa atau tidak berbuat sesuatu. Sedangkan pekerjaan, aku lebih cenderung dengan pengertian pekerjaan sebagai usaha yang menjadi penghidupan seperti yang terdapat dalam tulisan ‘bekerja atau tidak bekerja’.
Kesimpulannya, seorang pensiunan jelas bukan pengangguran karena menganggur terkesan menjadi orang yang tidak berguna. Selama pelaku pensiunan tersebut masih melakukan suatu aktivitas yang bermanfaat bagi dirinya pribadi dan lingkungan serta tidak merugikan orang lain maka anggapan bahwa orang pensiunan itu menganggur, tidak berguna, kehilangan martabat dan wibawa adalah salah besar. Begitu juga dengan anggapan subjektif dan emosional bahwa seorang pensiunan tugas hidupnya sudah selesai. Ia hanya hidup untuk menikmati waktu bagi dirinya sendiri dan hanya bertindak sebagai penonton dari kehidupan generasi baru dengan kata lain menarik diri    dari lingkungan sosial, seolah hidup sendiri dengan dunianya.
Seorang pensiunan mungkin memang tidak punya pekerjaan lagi, tapi ia masih bisa tetap bekerja. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang abahku lakukan, merawat dan mengurusi tanaman. Kegiatan yang dilakukan abahku bukanlah perbuatan yang sepele atau remeh. Selain menyalurkan hobi, sebenarnya ia juga telah mengembangkan potensi yang ia miliki sewaktu masih aktif bekerja dikantor, bahkan kegiatan tanam menanam dan merawat tanaman saat ini sangat besar artinya bagi kemanusiaan. Apalagi dengan maraknya pemberitaan tentang pemanasan global atau efek dari rumah kaca. Kegiatan yang dilakukan abahku bisa jadi termasuk sebagai salah satu wujud partisipasi kepedulian terhadap permasalahan dunia. Apalagi jika apa yang dikerjakannya bernilai ibadah, tentu akan mendapat balasan pahala dari Allah.
Pandangan yang keliru terhadap status pensiunan justru akan membunuh potensi dan semangat untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Lebih berbahaya lagi jika pandangan yang keliru tersebut mem pengaruhi citra diri seorang pensiunan. Akibatnya akan menimbulkan sikap hidup pesimis dan rendah diri, merasa hidupnya tidak berharga.
Memang semestinya setiap orang yang berbuat baik berhak disebut bekerja. Tidak menjadi penting apakah statusnya pegawai, pembantu, atau pensiunan. Selama seseorang itu melakukan suatu kebaikan dan bermanfaat, maka ia juga pantas disebut bekerja. Yakinlah bahwa seseorang bermartabat dan berwibawa karena kebaikan dan tujuan dari kebaikan yang dilakukannya, bukan karena harta atau jabatannya. Jika seseorang menampilkan sikap hidup optimis seperti demikian, tentunya sikap dan pandangan orang lain pun akan berubah mengikutinya.
Abah, teruslah beraktivitas. Tekuni kegiatan mengurus dan merawat tanaman dengan kerangka beribadah kepada Allah dan semangat melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi lingkungan. Karena Allah Swt senantiasa menghargainya sebagai amal sholeh, insya Allah.***

Entry filed under: Menulis. Tags: .

Sudah Hafal Berapa Juz? Ajari Aku Jadi Pendampingmu

3 Komentar Add your own

  • 1. Ella Megawati  |  Februari 19, 2008 pukul 3:36 pm

    assalmu’alaikum.
    ummi, tulisannya bagus banget, membuat terharu he he he.
    Maaf baru sempat buka. Ditunggu lho bukunya..
    Salam ya buat 3 ponakan-ku…
    Makasih

    Balas
  • 2. kun sri budiasih  |  Desember 19, 2008 pukul 3:37 am

    assalamualaikum
    senang sekali membaca album anda.Mungkin agak terlambat, setelah saya ‘iseng’ mengetikkan nama saya di google, anda mengisi halaman 1 utuk nama saya.
    saya excited sekali bahawa tulisn saya telah menginspirasi anda.
    salam kenal. semoga kita bisa berkomunikasi lebih lanjut.

    Balas
    • 3. Rahmadona Fitria  |  Februari 22, 2010 pukul 7:20 am

      Alaikumsalam
      Subhanallah, ga nyangka disapa oleh penulis yg tulisannya saya sukai, jika mba sewaktu2 mampir lagi mohon meninggalkan sesuatu yg bisa digunakan utk kita berkomunikasi yaa, syukron.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: