Sikap Perfeksionis, Positif atau Negatif ?

Desember 1, 2008 at 6:29 am 1 komentar

copy-of-dona-dan-nenek Oleh : Rahmadona Fitria*

SUDAH sepantasnya kita menghargai setiap usaha mendidik yang dilakukan orangtua maupun guru, salah satunya penanaman disiplin pada anak. Tapi kita perlu berhati-hati, karena penanaman disiplin yang keliru terhadap anak bisa menimbulkan sejumlah masalah perilaku, seperti mudah tersinggung, pemalu, perfeksionis, tingkah laku kekanak-kanakan, impulsif, melamun, dependen, anti sosial, dan bully.
Perfeksionis adalah kecenderungan  untuk tampil sempurna. Ini berhubungan dengan pola asuh orangtua, yaitu penanaman disiplin yang keliru. Sikap tersebut bisa muncul karena tuntutan dari orangtua. Salah satu ciri sikap perfeksionis adalah sulit menerima kesalahan orang lain.
Bisa jadi maksud baik orangtua dalam menanamkan disiplin terhadap anak justru menimbulkan permasalahan lain bagi anak. Pada jangka waktu tertentu, penanaman disiplin yang keliru terhadap anak mungkin belum menunjukkan tanda-tanda adanya permasalahan dalam diri anak. Namun, bisa saja permasalahan timbul ketika anak berusia remaja bahkan dewasa.
Penanaman disiplin yang keliru adalah kedisiplinan yang menuntut anak untuk tidak melakukan kesalahan atau kekeliruan, tanpa memberikan kesempatan pada anak berbuat sesuatu untuk memperbaiki kekeliruannya. Bahkan orangtua bersikap mengambil alih tugas yang dilakukan anak tanpa memberikan bimbingan tindakan apa yang sebaiknya mereka lakukan. Contoh kasus : Seorang anak yang menumpahkan minuman tanpa sengaja, dimarahi oleh orangtuanya karena menumpahkan minuman adalah kekeliruan. Kemudian masih dengan ekspresi kemarahannya orangtua juga yang membereskan tumpahan minuman tersebut.
Dari contoh kasus di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa penanaman disiplin yang benar adalah memberikan bimbingan pada anak tindakan benar apa yang sebaiknya mereka lakukan. Serta memberikan kesempatan kepada anak untuk berbuat sesuatu yang bertujuan memperbaiki tindakannya yang keliru. Misalnya, si anak yang menumpahkan minuman dibimbing untuk mengeringkan lantai dengan memberikannya kain pel.
Coba kita bayangkan, jika anak terus menerus diperlakukan seperti pada contoh kasus di atas. Kesan apa yang dapat mereka tangkap dari penanaman tentang kedisiplinan ? Bertahun-tahun dan dalam jangka waktu yang lama sampai anak dewasa, tanpa kita sadari yang kita tanamkan terhadap anak bukanlah kedisiplinan tapi bagaimana menjadi seseorang yang sangat ahli dalam bersikap perfeksionis.
Anak berada dalam keadaan tidak berdaya. Takut melakukan kesalahan, padahal melakukan kesalahan atau kekeliruan adalah manusiawi. Ia menganggap kekeliruan dan kesalahan adalah kehinaan, sesuatu yang memalukan. Tidak mengherankan jika sepintas anak terlihat melakukan segala sesuatu dengan sempurna, karena ia ingin selalu tampil baik. Namun sesungguhnya dibalik kesempurnaan tindakannya, kita telah menciptakan kerapuhan dalam jiwa anak-anak kita tercinta.
Kerapuhan itu muncul ketika dorongan untuk berbuat yang terbaik menjadi beban karena membuatnya  merasa tidak nyaman. Inti permasalahan dari sikap perfeksionis terletak pada hambatan merasa puas dan takut berbuat salah secara berlebihan, terlalu khawatir terhadap penampilan, dan perasaan antara percaya diri dan ragu-ragu. Sehingga menimbulkan perasaan tertekan, kecewa, sedih, marah, dan takut dihina terutama saat timbul perasaan kurang mampu atau tidak berdaya.
Jadi, sikap perfeksionis jelas negatif karena tidak hanya merugikan oranglain tapi juga lebih banyak merugikan diri sendiri. Ada beberapa cara untuk mengatasi atau mencegah sikap perfeksionis, antara lain sebagai berikut :
1.    Berusaha dan berlatih bersikap lebih rileks.
2.    Mengubah tingkah laku yang berlebihan menjadi tindakan yang lebih berguna.
3.    Meningkatkan perasaan mampu sehingga merasa berharga.
4.    Tidak perlu bersusah payah menunjukkan jati diri. Penilaian, penghargaan, pengakuan, semua itu tidak penting dan bukan yang utama. Sederhanakan hidupmu.
5.    Nikmati segala aktivitas, rutinitas, dan peran hidup yang dijalani saat ini hingga menyentuh body, mind and soul. Nikmati hidup dengan cara yang benar.
6.    Jadilah dirimu sendiri and be happy.***

*Research Associate bidang Pengembangan Anak
Mitra Solusi Banjarbaru

Entry filed under: Psikologi. Tags: .

Survive Hadapi Masa Krisis Mutiara Untuk Bunda

1 Komentar Add your own

  • 1. irsanfinazli  |  Desember 2, 2008 pukul 1:17 am

    Mantap, insyaAllah saya akan menjadi diri sendiri yang mempunyai pendirian.
    Perfeks itu bagus aja asal tidak kebablasan perfeks yang membuat kita pusing tujuh keliling, iya kan. itu sih menurut saya.
    Makasih pencerahannya, mbak Dona

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Desember 2008
S S R K J S M
« Jul   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: