Archive for April, 2010

Perempuan Berkaca Diri

Kita bisa mengambil pelajaran dari mana saja. Bisa melalui sekeliling atau sekitar kita, melalui pengalaman hidup orang lain, melalui bacaan, melalui tontonan, dan lain sebagainya, yang penting kita bisa menyaring hal-hal positif dari apa yang akan kita ambil dan tentu saja tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup kita sebagai seorang muslim. Mengambil pelajaran dari kisah hidup para tokoh muslim dan muslimah sebagai teladan atau idola tentu saja lebih utama.

Kita tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa masih ada sebagian umat muslim yang pemahaman dan pengamalannya tentang Islam tidak tepat. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa Islam adalah agama yang membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, lebih mengistimewakan atau berpihak kepada kaum adam. Sebaliknya menempatkan kaum perempuan pada posisi yang hanya tunduk pada keistimewaan kodrat penciptaan kaum laki-laki.

Sikap perempuan sholehah dalam Islam adalah sikap ketaatan yang berbalut dengan cinta dan kasih sayang. Bukan seolah-olah lelaki itu berada diposisi raja sementara perempuan berada pada posisi pelayan. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan itu sama-sama memiliki keistimewaan dalam Islam. Keistimewaan yang tidak menjadikan laki-laki lebih unggul kedudukannya dari perempuan atau sebaliknya. Tapi keistimewaan yang saling melengkapi.

Tidak ada yang salah dengan aktivitas ataupun rutinitas mengurus dan mengatur rumah tangga. Juga tidak ada yang salah ketika seorang isteri berbakti kepada suaminya. Kesalahannya terletak pada dimunculkannya persepsi adanya perbedaan perlakuan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan. Seakan-akan dalam Islam kaum lelaki lebih mendapatkan kesempatan dan ruang gerak yang luas, lebih memperoleh keistimewaan dibandingkan perempuan. Ini bisa dikatakan sebagai perang pemikiran (ghazwul fikri).

Kalau kita pernah membaca sejarah hidup para muslimah yang hidup di zaman Rasulullah saw tentu kita akan kagum dengan keistimewaan peran mereka. Seperti putri Rasulullah Siti Fatimah atau istri-istri Rasulullah Aisyah dan Khadijah. Mereka bukan perempuan terbelakang, justru mereka perempuan-perempuan hebat. Selain menjalankan peran sebagai seorang ibu dan isteri, mereka juga mendapatkan kesempatan menimba ilmu mengasah kecerdasan. Mereka juga mandiri dengan menekuni keterampilan tertentu. Di antara mereka ada yang memiliki keahlian sebagai entrepreneur (pengusaha/pedagang), ada yang memiliki keahlian di bidang kesehatan, ada yang memilki keahlian mengajar berprofesi sebagai guru.

Jadi perempuan muslimah justru identik dengan kecerdasan, kemandirian, dan memiliki keahlian. Mengenai menjamurnya muslimah yang terjun berkiprah dalam berbagai profesi, saya kira positif saja selama niatnya benar. Niat untuk mengamalkan ilmu dan bermanfaat bagi manusia lain atau agar lebih banyak kebaikan yang bisa dilakukan oleh seorang muslimah ketika ia bekerja diluar rumah. Kebaikan dalam hal bersedekah dengan penghasilannya sendiri, mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, membantu penghasilan bagi keluarganya, menambah ketaatan dan rasa syukurnya kepada Allah Swt.

Bagi ibu muslimah yang bekerja tentu saja ia mesti memilki kemampuan untuk memilih mana yang menjadi prioritas, keluarga atau pekerjaannya. Kemudian kecerdasan dalam mengelola kepentingan keluarga dan pekerjaannya. Bagaimana keduanya bisa berjalan dengan baik tanpa mengabaikan salah satunya, karena keduanya sama-sama menuntut tanggung jawab dan profesionalisme perannya. Maka jangan sampai perempuan muslimah termakan ide tentang emansipasi, menuntut persamaan hak dengan laki-laki padahal Islam sudah sedemikian adilnya dalam mengatur hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan.

Jangan juga termakan ide bahwa perempuan dalam Islam itu terbelakang dan ketinggalan zaman. Padahal karena Islam derajat kaum perempuan menjadi istimewa. Ia memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam hal memperoleh pendidikan, menuntut ilmu, mengasah kecerdasannya. Ia memperoleh kesempatan yang sama dalam beramal melakukan berbagai kebaikan, kemandirian, dan menekuni bidang keahliannya. Ia memiliki keistimewaan sebagai pendidik generasi, surga berada dibawah telapak kakinya, mendapatkan keutamaan penghormatan dan kemuliaan dari anak-anaknya. Penampilannya sebagai perempuan muslimah sungguh mencakup seluruh simbol keistimewaan yang dianugerahkan sang pemilik langit dan bumi, keistimewaan yang dihadiahkan Allah Swt hanya kepada para wanita muslimah.
Semoga ini menambah rasa syukur dan ketaatan kita kepada-Nya, amin Allahuma amin.

Iklan

April 30, 2010 at 7:45 pm 2 komentar

Sebenar-benarnya Cinta


Sebagai aktivis dakwah kata “amal jama’i” tentu bukan sesuatu yang asing. Kita sering mendengarnya minimal pernah mendengarnya. Tapi buat saya pribadi ternyata butuh proses panjang untuk memahami dan proses yang boleh dibilang sangat perlahan dalam mengamalkannya. Pernah saya sampai phobi mendengar kata “amal jama’i” karena terkesan seperti perintah berangkat perang (afwan kalau perumpamaannya terlalu berlebihan), karena suka tidak suka, siap tidak siap, dalam keadaan berat atau ringan, harus tetap ‘memaksakan diri’ untuk ikut terlibat. Walaupun pada akhirnya tetap saja tindakan yang diambil adalah “menghilangkan jejak” dengan mencari-cari alasan atau tanpa alasan sekalian.

Kadang juga dikejar-kejar perasaan “terhukum” jika tidak ikut terlibat tapi begitu ikut terlibat ada perasaan terasing (tidak “ingroup” begitu). Why ? What’s wrong ? Pelajaran pertama yang saya peroleh dari pengalaman ini adalah perlu ada perbaikan dalam hal ‘relationship’ (mohon koreksinya yang ahli dalam bahasa inggris), perlu membangun hubungan yang menyenangkan. Setelah terbina hubungan yang menyenangkan ternyata bisa lebih mudah memang menikmati aktivitas berjama’ah. Untuk tahap ini sudah berada pada titik aman.

Ternyata ada babak atau episode lain dari amal jama’i ini. Dalam lingkup sebatas halaqoh lumayan lah sudah ‘klik’ apa itu amal jama’i (sambil berproses dalam peng-amalan-nya). Eh, muncul lagi phobi baru, amal jama’i dalam lingkup politik. Nah, pelajaran baru kemudian adalah menyusun ‘kepingan puzzle pemahaman’ tentang amal jama’i dalam hal politik. Belum lagi dibumbui dengan ‘beradu’-nya berbagai idealisme pemikiran para aktivis dakwahnya (afwan). Lagi-lagi kita akan dikejar ke-aktifan-nya. Pembelajaran tentang makna amal jama’i sambil jalan dengan prakteknya.

Banyak konflik yang muncul dalam pemikiran saya, kenapa begini, kenapa begitu? bermunculannya kekecewaan, ketidak-puasan, dan lain sebagainya. Beruntung saya punya kawan berkonflik yang sedemikian mengerti proses pemahaman saya (boleh ge-er kok bi) ya pada akhirnya bermuara pada satu kesimpulan : inilah jalan dakwah. Begitu pula ibu saya tercinta memberikan support, itulah ujian dakwah, anakku ! Baiklah saya mesti banyak bersyukur (Alhamdulillah, Allahu Akbar !) Allah Swt pada akhirnya memberikan tarbiyah berharga tentang pengalaman berjama’ah dan dakwah. Walaupun mungkin yang ‘mau’ memahami bagaimana lambatnya ‘loading’ pemahaman dan praktek saya tentang gerak dakwah ini baru satu orang (Ahmad Nur Irsan Finazli, suami tercinta).

Satu lagi tarbiyah yang saya peroleh dari perjalanan pemahaman tentang kehidupan berjama’ah dengan segala dinamikanya : ” Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang senantiasa menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28).

Sekarang saya mulai mengerti sikap teguh dan komitmen suami terhadap jalan dakwah ini apapun konflik yang dihadapinya. Karena Allah Swt dalam surat Al-kahfi: 28 memerintahkan kaum muslimin agar bersabar dan terus bersabar bersama mereka yang memiliki orientasi Robbani (kejernihan orientasi kehidupan) yaitu orang-orang yang jauh dari ambisi-ambisi pribadi dan duniawi. Mereka orang-orang yang memilki komitmen dan konsistensi sikap islami, Insya Allah.

Jadi dengan amal jama’i (kerja bersama) akan terbentuk ruh kebersamaan dan persaudaraan sesama muslim. Selain itu, potensi kebaikan bagi individu maupun ummat muslim akan lebih terjaga. Ternyata memang mesti melalui proses yang berliku untuk dapat mencapai kecintaan terhadap aktivitas berjama’ah dan dakwah hingga sampai kepada tahapan sebenar-benarnya cinta.

(Sumber: Buku “Pernik-Pernik Rumah Tangga Islami” Penulis, Cahyadi Takariawan.)

April 27, 2010 at 8:44 pm Tinggalkan komentar

Kartini Adalah Muslimah Da’iyyah Pada Zamannya

Sejauh mana kita mengenal ibu Kartini ? Apakah hanya sebatas syair dalam lagu yang berjudul Ibu Kita Kartini ? Sudahkah kita tahu apa yang sesungguhnya ibu Kartini perjuangkan ? Apakah cukup mengenang perjuangan beliau hanya dengan memperingati jasa-jasanya melalui berbagai seremonial ? Tentu saja kita perlu mengetahui kejelasan sejarah mengenai apa yang beliau perjuangkan. Karena adalah sebuah tindak kedzaliman dengan mengatasnamakan pewaris perjuangan ibu Kartini terhadap sesuatu yang tidak diperjuangkan oleh beliau.

Kenyataannya saat ini kita tidak lagi mampu membaca sejarah perjuangan Kartini yang tidak lagi utuh. Tetapi kita bisa mengetahui hakikat perjuangan beliau melalui surat-suratnya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah buku Door Duisternis Tot Licht. Inilah bukti yang paling autentik tentang cita-cita seorang Kartini. Surat-surat yang berisi dialog kartini dengan teman-teman pena-nya (yang ternyata para missionaris Kristen dan agen-agen gerakan feminisme yahudi).

Surat Kartini Kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 : “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Kesempatan mengenyam pendidikan dan pengajaran bagi kaum wanita, itulah hal yang diangkat oleh Kartini agar mendapat perhatian. Bukan persamaan dalam segala hal antara laki-laki dan wanita yang disebut-sebut sebagai emansipasi oleh kebanyakan orang saat ini. Apalagi perjuangan yang didefinisikan sebagai persamaan antara laki-laki dan wanita di berbagai lapangan kehidupan. Demikianlah ibu kita Kartini, pahlawan yang memperjuangkan pendidikan kaumnya (wanita) agar dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik sebagai ibu generasi.

Nilai Islam itulah yang diperjuangkan ibu kita Kartini. Perjuangan yang sejalan dengan ajaran Islam, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak sama dalam hal menuntut ilmu.kalau dilihat dari surat-surat ibu kartini, dapat kita cermati bahwa pemikiran beliau terhadap kesempatan mengenyam pendidikan dan pengajaran bagi kaum perempuan yang kemudian beliau perjuangkan merupakan hasil dari interaksi beliau dengan Al-Qur’an. Perubahan persepsi tentang Islam setelah beliau bertemu dengan ulama besar (Kyai Sholeh Darat) dalam pengajian keluarga di rumah pamannya di Demak. Terlebih setelah beliau mendapatkan hadiah perkawinan berupa terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dari Kyai Sholeh.

Sebelum bertemu dengan Kyai Sholeh, Kartini pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dengan guru mengajinya yang dianggap tidak mampu menjelaskan hakekat Islam. Al-Qur’an tidak lebih hafalan-hafalan yang tidak dimengerti artinya.
Surat Kartini kepada Stella, 6 nopember 1890: “Mengenai agamaku, stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang ummatnya mendiskusikan dengan ummat agama lain. Lagipula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya.”

Demikianlah sikap kritis Kartini yang membuat Kyai Sholeh tertegun ketika dalam usia belasan tahun bertanya dengan nada protes kepadanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila ada seorang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” Kyai sholeh balik bertanya, “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Kartini menjawab,”Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?.”

Pandangan Kartini tentang Islam kemudian berubah, terutama setelah ia dihadiahi Kyai Sholeh terjemah Al-Qur’an dalam bahasa Jawa dengan judul Faizhur Rahman Fit Tafsiril Qur’an. Terjemahan yang terdiri dari 13 juz, mulai surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Perubahan itu terlihat pada isi surat-suratnya yang mengkritisi budaya Eropa dan sikap tegasnya terhadap missi Kristenisasi yang melingkupi bangsanya.

Surat Kartini untuk EE. Abendanon, 27 Oktober 1902: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban”.

Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 10 Juli 1902: “Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa, atau orang jawa yang kebarat-baratan”.
Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 21 Juli 1902: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat ummat agama lain memandang agama Islam patut disukai”.

Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 12 Oktober 1902: “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”.
Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903: Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah. Tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkan…ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah”.

Subhanallah, dialah ibu kita Kartini. Bukan sekedar pahlawan Indonesia, tetapi pahlawan Islam pada zamannya. Kartini adalah seorang aktivis dakwah muslimah yang memperjuangkan nilai Islam, memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan agar dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik sebagai ibu generasi Islam, ibu yang cerdas pemikirannya, tegas pribadinya, teguh pendiriannya, dan teguh keyakinan terhadap agamanya. Inilah semangat ibu Kartini yang perlu kita teladani.

Sumber: Buletin Da’wah Wa Islama (diterbitkan oleh yayasan KAJASHA: keluarga Alumni Jama’ah Shalahuddin UGM).

April 23, 2010 at 4:17 am 2 komentar

Merancang Keberhasilan Dengan Kekuatan Pikiran

Tahukah Anda ? Ternyata titik yang paling mengakar dalam kepribadian seseorang ada pada pikirannya. Artinya ketika seseorang ingin melakukan suatu perubahan, ia perlu terlebih dahulu melakukan perubahan secara mendasar. yaitu dengan melakukan perubahan pada cara berpikirnya. Demikian pula ketika seseorang ingin melakukan perubahan dalam kehidupannya, baik itu perubahan perilaku ataupun perubahan nasib dan lain sebagainya.
Seseorang dapat mencapai perubahan sesuai dengan apa yang ia inginkan apabila sebelumnya ia mendisain terlebih dahulu kesuksesan, keberhasilan, atau prestasi tersebut dalam pikirannya. Seseorang perlu merekam capaian prestasi atau kesuksesan yang ingin ia raih dalam imajinasinya. Sebagaimana desain sebuah rumah pertama kali tercipta dalam imajinasi seorang arsitek.
Jadi berdirinya bangunan sebuah rumah diawali dari proses berpikirnya seorang arsitek, proses memvisualisasikan atau membayangkan desain rumah yang akan dibangun. Berupa khayalan-khayalan tentang desain sebuah rumah yang perlahan-lahan terbentuk secara penuh dalam pikiran si arsitek. Kemudian dilanjutkan dengan proses tindakan mewujudkan gambaran-gambaran desain rumah dalam pikiran secara nyata.
Hasilnya bentuk bangunan rumah yang tadinya masih berupa gambaran yang ada dalam pikiran sang arsitek mulai bisa dilihat & dinikmati bangunan fisiknya dalam dunia nyata. Begitu pula kenyataan hidup manusia pertama kali tercipta dalam imajinasinya. Sebuah bangunan keberhasilan hidup tidak akan pernah bisa diraih jika tidak ada rekaman sebelumnya dalam pikiran kita.
Ini pula aspek pertama yang diajarkan oleh Islam: Iqra bismirrobikalladzi kholaq (bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan). Sebuah catatan sejarah yang mengagumkan & membuat kita semua terpesona, ketika satu persatu manusia yang ada disekitar Rasulullah saw berubah. Perubahan besar yang terjadi dalam kepribadian mereka setelah tersentuh oleh Islam.
Perubahan dalam cara berpikir mereka tentang Tuhan, tentang diri mereka sebagai manusia, & tentang misi kehidupan mereka di dunia. Mereka adalah manusia-manusia yang memilki rancangan atau perencanaan dalam hidupnya. Sehingga kemudian mengejutkan dunia ketika mereka memenuhi jazirah Arab dan telah menjadi manusia-manusia yang siap memimpin dunia. Subhanallah!
Jadi kunci keberhasilan kita terletak pada perencanaan yang berawal dari pikiran kita. Selamat mendesain keberhasilan, innallaha ma ‘ana.

Sumber : Buku “Model Manusia Muslim” (kumpulan ceramah pengembangan diri) Penulis : Anis matta, Lc.

April 21, 2010 at 10:10 am Tinggalkan komentar


Kalender

April 2010
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Posts by Month

Posts by Category