Perempuan Berkaca Diri

April 30, 2010 at 7:45 pm 2 komentar

Kita bisa mengambil pelajaran dari mana saja. Bisa melalui sekeliling atau sekitar kita, melalui pengalaman hidup orang lain, melalui bacaan, melalui tontonan, dan lain sebagainya, yang penting kita bisa menyaring hal-hal positif dari apa yang akan kita ambil dan tentu saja tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup kita sebagai seorang muslim. Mengambil pelajaran dari kisah hidup para tokoh muslim dan muslimah sebagai teladan atau idola tentu saja lebih utama.

Kita tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa masih ada sebagian umat muslim yang pemahaman dan pengamalannya tentang Islam tidak tepat. Sehingga menimbulkan anggapan bahwa Islam adalah agama yang membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, lebih mengistimewakan atau berpihak kepada kaum adam. Sebaliknya menempatkan kaum perempuan pada posisi yang hanya tunduk pada keistimewaan kodrat penciptaan kaum laki-laki.

Sikap perempuan sholehah dalam Islam adalah sikap ketaatan yang berbalut dengan cinta dan kasih sayang. Bukan seolah-olah lelaki itu berada diposisi raja sementara perempuan berada pada posisi pelayan. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan itu sama-sama memiliki keistimewaan dalam Islam. Keistimewaan yang tidak menjadikan laki-laki lebih unggul kedudukannya dari perempuan atau sebaliknya. Tapi keistimewaan yang saling melengkapi.

Tidak ada yang salah dengan aktivitas ataupun rutinitas mengurus dan mengatur rumah tangga. Juga tidak ada yang salah ketika seorang isteri berbakti kepada suaminya. Kesalahannya terletak pada dimunculkannya persepsi adanya perbedaan perlakuan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan. Seakan-akan dalam Islam kaum lelaki lebih mendapatkan kesempatan dan ruang gerak yang luas, lebih memperoleh keistimewaan dibandingkan perempuan. Ini bisa dikatakan sebagai perang pemikiran (ghazwul fikri).

Kalau kita pernah membaca sejarah hidup para muslimah yang hidup di zaman Rasulullah saw tentu kita akan kagum dengan keistimewaan peran mereka. Seperti putri Rasulullah Siti Fatimah atau istri-istri Rasulullah Aisyah dan Khadijah. Mereka bukan perempuan terbelakang, justru mereka perempuan-perempuan hebat. Selain menjalankan peran sebagai seorang ibu dan isteri, mereka juga mendapatkan kesempatan menimba ilmu mengasah kecerdasan. Mereka juga mandiri dengan menekuni keterampilan tertentu. Di antara mereka ada yang memiliki keahlian sebagai entrepreneur (pengusaha/pedagang), ada yang memiliki keahlian di bidang kesehatan, ada yang memilki keahlian mengajar berprofesi sebagai guru.

Jadi perempuan muslimah justru identik dengan kecerdasan, kemandirian, dan memiliki keahlian. Mengenai menjamurnya muslimah yang terjun berkiprah dalam berbagai profesi, saya kira positif saja selama niatnya benar. Niat untuk mengamalkan ilmu dan bermanfaat bagi manusia lain atau agar lebih banyak kebaikan yang bisa dilakukan oleh seorang muslimah ketika ia bekerja diluar rumah. Kebaikan dalam hal bersedekah dengan penghasilannya sendiri, mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, membantu penghasilan bagi keluarganya, menambah ketaatan dan rasa syukurnya kepada Allah Swt.

Bagi ibu muslimah yang bekerja tentu saja ia mesti memilki kemampuan untuk memilih mana yang menjadi prioritas, keluarga atau pekerjaannya. Kemudian kecerdasan dalam mengelola kepentingan keluarga dan pekerjaannya. Bagaimana keduanya bisa berjalan dengan baik tanpa mengabaikan salah satunya, karena keduanya sama-sama menuntut tanggung jawab dan profesionalisme perannya. Maka jangan sampai perempuan muslimah termakan ide tentang emansipasi, menuntut persamaan hak dengan laki-laki padahal Islam sudah sedemikian adilnya dalam mengatur hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan.

Jangan juga termakan ide bahwa perempuan dalam Islam itu terbelakang dan ketinggalan zaman. Padahal karena Islam derajat kaum perempuan menjadi istimewa. Ia memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam hal memperoleh pendidikan, menuntut ilmu, mengasah kecerdasannya. Ia memperoleh kesempatan yang sama dalam beramal melakukan berbagai kebaikan, kemandirian, dan menekuni bidang keahliannya. Ia memiliki keistimewaan sebagai pendidik generasi, surga berada dibawah telapak kakinya, mendapatkan keutamaan penghormatan dan kemuliaan dari anak-anaknya. Penampilannya sebagai perempuan muslimah sungguh mencakup seluruh simbol keistimewaan yang dianugerahkan sang pemilik langit dan bumi, keistimewaan yang dihadiahkan Allah Swt hanya kepada para wanita muslimah.
Semoga ini menambah rasa syukur dan ketaatan kita kepada-Nya, amin Allahuma amin.

Entry filed under: Muslimah. Tags: .

Sebenar-benarnya Cinta Perempuan Dan Menulis

2 Komentar Add your own

  • 1. jenny  |  Mei 4, 2010 pukul 8:34 am

    Alhamdulillah…ada tulisan ini, semoga menjadi tulisan yg bermanfaat. izin sharing di MP jenny boleh ga mba?

    Balas
  • 2. rahmadona  |  Mei 4, 2010 pukul 6:17 pm

    Amin ya Robb, insya Allah. silahkan mba jenny senang bisa berbagi.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2010
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: