Archive for Mei, 2010

Tuliskan Ajaa…


Ada bedanya ga sih, mengikuti pelatihan kepenulisan dengan bergabung bersama komunitas penulis ? Kalau pelatihan kepenulisan saya kira lebih menyoroti aturan-aturan dalam kepenulisan, sedangkan komunitas penulis (khususnya tempat saya bergabung di komunitas penulis EwaMco) lebih mengarah kepada saling berbagi dan saling memberikan motivasi dalam menekuni dunia tulis menulis. Saya pribadi memilih bergabung dengan komunitas penulis karena sebagai pemula rasanya menulis jadi terasa lebih ringan dan nikmat kalau kita bisa saling berbagi juga saling memotivasi.

Mengenai aturan kepenulisan nanti saja lah, kalaupun akan mencetaknya menjadi sebuah buku kan sudah ada bagian yang mengkoreksi. Tidak usah dulu membebani pikiran dengan aturan ini dan itu. Mengalir saja…menulis itu kan sarana untuk mengurangi tumpukan pemikiran ( begitu kata bapak motivator menulis yang populer dengan konsep EWT nya, ‘menulis tanpa berguru’) Tuangkan saja apa yang ada dipikiran kita pada tulisan, seperti kita berbicara menuangkan kata-kata yang ada dipikiran kita. Belajar menulis dari aktivitas menulis itu sendiri dengan sering berlatih kualitas tulisan tentu akan semakin baik.

Bagi kebanyakan anak muda yang biasanya masih berpikir idealis, mungkin menganggap menekuni dunia tulis menulis itu harus serba mengikuti persyaratan-persyaratan tertentu agar tulisannya layak dianggap berkualitas atau bermutu. Padahal kita bisa belajar dari penulis-penulis cilik yang karya tulisnya begitu ringan mengalir tanpa ada batasan-batasan pemikiran apakah penulisannya sudah tepat atau layak diterbitkan. Coba saja baca kiriman tulisan anak-anak di majalah UMMI misalnya. Subhanalloh, mereka menghasilkan karya dengan kesederhanaan pemikirannya.

Saya terkesan dengan apa yang ditulis oleh KH. Husin Naparin, Lc, MA (seorang ulama Kal-Sel juga seorang penulis, yang kita semua tentu mengenal beliau), dalam bukunya ‘Fikrah Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan’ pada bagian yang berjudul Mengasah Pena Menajamkan Hati. Beliau menceritakan tentang seorang penulis terkenal dari Mesir bernama Mustafa Lutfi Al-Manfaluti yang begitu mudahnya menuangkan apa saja yang disenangi dan yang terlintas dibenaknya diatas kertas.

Bagi seorang Al-Manfaluti menulis bukanlah untuk mencari kesenangan dari manusia berupa pujian. Karena apapun yang kita lakukan tentu akan ada orang yang suka dan ada orang yang benci. Menulis bukan untuk mencari kesukaan dari orang banyak. Pun tidak ada ketakutan kalau-kalau ada orang yang benci. Menulis saja tanpa beban, menulis sesuatu yang mendatangkan manfaat bukan untuk menebar keburukan.

Bayangkan, disadari atau tanpa disadari setiap harinya tidak ada waktu yang kita lewati tanpa berpikir. Nah pemikiran-pemikiran yang ada di otak kita butuh untuk “didaur ulang”. Otak juga perlu penyegaran, caranya ya dengan mentransfer full-nya beragam pemikiran melalui media tulisan, agar ide-ide baru mendapatkan tempatnya. Kalau memori penuh kan otak jadi terus-terusan hanya menampung pesan-pesan lama. Sementara pesan-pesan baru sudah antri untuk ditampung kembali. Kita juga butuh men-charger (mengisi ulang) pemikiran kita dengan pesan-pesan up to date.

Apalagi bagi mereka yang ‘doyan’ baca, biasanya akan selau saja ada ide-ide yang bermunculan. Pemikiran-pemikiran baru tadi juga butuh untuk dituangkan. Itu nantinya akan menghasilkan sebuah karya baru, kreativitas dan inovasi ! Subhanalloh, inilah rahasia mata rantai pemikiran manusia. Mestinya menjadikan manusia makhluk berpikir yang produktif, menghasilkan sesuatu yang selalu baru dan bermanfaat tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang banyak. Kalau konsep psikologinya disebut dengan aktualisasi diri, sementara dalam konsep Islam disebut dengan nafi’un li ghairihi (sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain).

Menekuni bidang menulis semestinya memang menjadikan kita juga menyukai aktivitas membaca. Jika tidak, apa yang akan kita tuangkan kedalam tulisan jika kita tidak atau jarang menstimulasinya dengan bacaan?. Dari kedua aktivitas inilah (membaca dan menulis) mata rantai munculnya pemikiran dan terciptanya ide-ide baru serta lahirnya inovasi akan terus berjalan.

Mari cintai aktivitas menulis, bukan semata-mata untuk mengejar ketenaran atau dengan motivasi ingin populer. Tapi karena Allah Swt memberikan penghargaan dan sangat memperhatikan dunia tulis menulis, jika dimanfaatkan bagi kebaikan dan motivasi saling berpesan dalam kebenaran, ketakwaan, ketaatan, dan kesabaran, QS. AL-Qalam ayat 1 (Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis). Sebagaimana aktivitas-aktivitas amal lainnya yang juga akan diminta pertanggung-jawabannya dan akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Happy write, Love write ‘n keep writing.
Seorang muslim harus lah sama baiknya dalam hal membaca & menulis (Imam Hasan Al-Banna).

Iklan

Mei 18, 2010 at 8:41 pm 2 komentar

Perempuan Dan Menulis

Ketika bergabung dengan komunitas penulis EWAMco pada tahun 2007 saya suka sekali meminjam slogan iklannya star mild, ‘hidup menjadi lebih hidup’ dengan menulis. Begitulah kenyataannya yang saya rasakan ketika itu. Saya benar-benar menikmati aktivitas menulis sebagai selingan diwaktu luang disamping menjalankan rutinitas berbagai aktivitas rumah tangga.

Ada ‘katarsis’ dalam mengalihkan kejenuhan dari rutinitas harian, ada kepuasan batin ketika bisa menuangkan pemikiran dan apa yang dirasakan. Keuntungannya lainnya, pemikiran kita bisa disebarkan kepada orang lain melalui media koran. Juga diarahkan pada proses membukukan hasil tulisan. Subhanallah wal hamdulillah, di bulan November 2009 membuahkan sebuah karya berupa buku yang berjudul “Menjadikan Anak Penyejuk Hati” terbitan Java Publishing Yogyakarta.

Impian yang menjadi kenyataan. Menjadi seorang penulis dan menghasilkan karya berupa buku, diusia 30-an. Segala puja dan puji hanya bagi Allah Swt, pemilik rencana sempurna atas perjalanan hidup setiap hamba-Nya.

Menulis sebenarnya merupakan aktivitas yang tidak asing bagi semua orang. Sejak mengenyam pendidikan di bangku sekolah, kita semua sudah sangat akrab dengan aktivitas menulis. Mulai mengerjakan tugas mengarang, menulis surat, atau menumpahkan perasaan pada buku diary. Tapi mungkin sebagian orang berhenti pada tahapan itu saja, hanya menjadikan aktivitas menulis sebatas itu. Tidak mengembangkannya menjadi sebuah keahlian (profesi) dalam bidang menulis.

Dulu mungkin tanggapan masyarakat terhadap profesi penulis tidak ‘semeriah’ sekarang. Perubahan cara pandang terhadap dunia tulis menulis menjadikan profesi penulis mulai diminati banyak orang. Media seperti perfilman juga turut ambil bagian dalam menyebarkan kecenderungan terhadap bidang menulis. Misalnya saja film ‘ketika cinta bertasbih’, disini profesi sebagai penulis dimainkan oleh tokoh yang bernama Husna. Demikian juga di film ‘perempuan berkalung sorban’, bagaimana tokoh Annisa mengembangkan dirinya dengan menggeluti dunia tulis menulis. Pun film-film lainnya yang diangkat dari dunia tulis menulis, seperti film ‘laskar pelangi’, dan film ‘ayat-ayat cinta’.

Dunia tulis menulis memang cenderung cocok untuk kaum perempuan (tapi bukan berarti hanya cocok ditekuni oleh para perempuan). Perempuan memiliki kekuatan khusus yang dapat memadukan bermacam emosi dan pikirannya, dibalut dengan kelembutan yang khas untuk dituangkan ke dalam tulisannya. Sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang memikat. Sebut saja Asma Nadia, karya-karya tulisannya benar-benar mencerminkan kekuatan khusus dan menampakkan kelembutan khas seorang perempuan. Tulisannya memikat untuk dinikmati !

Dengan menulis kaum perempuan juga bisa berbuat sesuatu, menyumbangkan sesuatu melalui tulisan-tulisannya. Peran penulis perempuan bisa membantu memberikan pencerahan, mencerdaskan masyarakat dengan pengetahuan dan menajamkan pemahaman tentang berbagai nilai-nilai (baik nilai sosial, budaya, agama, dsb), terutama bagi sesama kaum perempuan. Karena masih kita dapati nilai sosial budaya yang menjadi penyebab keterbelakangan dan ketertinggalan.

Tidak perlu sesuatu yang idealis atau perfeksionis untuk memulai dalam dunia tulis menulis, realistis saja. Tuliskan saja apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan. Nah yang ini terkenal dengan sebutan virus EWT (Ersis Writing Theory), anak-anak komunitas penulis EwaMco sudah membuktikan kemanjuran teori ini (diantaranya saya dan suami). Menurut pak Ersis yang dikenal sebagai bapak motivator menulis, untuk terjun ke dunia tulis menulis, kita tidak perlu di bebani dengan belenggu-belenggu yang memandulkan dorongan keinginan untuk menulis.

Tidak perlu kita takut salah dalam penulisan atau susunannya. Tidak perlu lah kita ikut trainning menulis, kalau setelah itu kita malah malas menulis atau malah jadi takut menulis. Menulis itu mudah dan menyenangkan, hanya membutuhkan motivasi yang kuat dan keberanian untuk mendobrak segala keengganan yang menjadi hambatan dalam menulis.

Menulis juga membutuhkan kemauan untuk terus menerus belajar dari aktivitas dan pengalaman menulis itu sendiri, ‘menulis tanpa berguru’ (meminjam istilah pak Ewa). Maksudnya dengan banyak berlatih menulis, kualitas tulisan insya Allah tentu akan semakin baik. Seorang penulis juga perlu menentukan sikap, memilki kepribadian yang mantap tidak mudah terpengaruh oleh sanjungan maupun kritikan.

Mari nikmati menulis, menulis mudah menulis menyenangkan. Lepaskan segala belenggu yang menghambat potensi menulis. Dunia tulis menulis masih sangat luas, seluas alam semesta. Menurut informasi yang saya baca dari sebuah buku ada ratusan media massa yang bisa menampung hasil tulisan perempuan. Yuk mulai menulis, tuliskan saja…sebebas kita menuliskan kata-kata pada berlembar-lembar surat atau sepuas kita menuangkan isi hati dan pikiran pada lembar buku harian.

Salam Menulis.
Love write ‘n keep writing.
Seorang muslim harus sama baiknya dalam hal membaca dan menulis (Imam Hasan Al-Banna)

Mei 11, 2010 at 8:44 am 4 komentar


Kalender

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Posts by Month

Posts by Category