Tuliskan Ajaa…

Mei 18, 2010 at 8:41 pm 2 komentar


Ada bedanya ga sih, mengikuti pelatihan kepenulisan dengan bergabung bersama komunitas penulis ? Kalau pelatihan kepenulisan saya kira lebih menyoroti aturan-aturan dalam kepenulisan, sedangkan komunitas penulis (khususnya tempat saya bergabung di komunitas penulis EwaMco) lebih mengarah kepada saling berbagi dan saling memberikan motivasi dalam menekuni dunia tulis menulis. Saya pribadi memilih bergabung dengan komunitas penulis karena sebagai pemula rasanya menulis jadi terasa lebih ringan dan nikmat kalau kita bisa saling berbagi juga saling memotivasi.

Mengenai aturan kepenulisan nanti saja lah, kalaupun akan mencetaknya menjadi sebuah buku kan sudah ada bagian yang mengkoreksi. Tidak usah dulu membebani pikiran dengan aturan ini dan itu. Mengalir saja…menulis itu kan sarana untuk mengurangi tumpukan pemikiran ( begitu kata bapak motivator menulis yang populer dengan konsep EWT nya, ‘menulis tanpa berguru’) Tuangkan saja apa yang ada dipikiran kita pada tulisan, seperti kita berbicara menuangkan kata-kata yang ada dipikiran kita. Belajar menulis dari aktivitas menulis itu sendiri dengan sering berlatih kualitas tulisan tentu akan semakin baik.

Bagi kebanyakan anak muda yang biasanya masih berpikir idealis, mungkin menganggap menekuni dunia tulis menulis itu harus serba mengikuti persyaratan-persyaratan tertentu agar tulisannya layak dianggap berkualitas atau bermutu. Padahal kita bisa belajar dari penulis-penulis cilik yang karya tulisnya begitu ringan mengalir tanpa ada batasan-batasan pemikiran apakah penulisannya sudah tepat atau layak diterbitkan. Coba saja baca kiriman tulisan anak-anak di majalah UMMI misalnya. Subhanalloh, mereka menghasilkan karya dengan kesederhanaan pemikirannya.

Saya terkesan dengan apa yang ditulis oleh KH. Husin Naparin, Lc, MA (seorang ulama Kal-Sel juga seorang penulis, yang kita semua tentu mengenal beliau), dalam bukunya ‘Fikrah Refleksi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan’ pada bagian yang berjudul Mengasah Pena Menajamkan Hati. Beliau menceritakan tentang seorang penulis terkenal dari Mesir bernama Mustafa Lutfi Al-Manfaluti yang begitu mudahnya menuangkan apa saja yang disenangi dan yang terlintas dibenaknya diatas kertas.

Bagi seorang Al-Manfaluti menulis bukanlah untuk mencari kesenangan dari manusia berupa pujian. Karena apapun yang kita lakukan tentu akan ada orang yang suka dan ada orang yang benci. Menulis bukan untuk mencari kesukaan dari orang banyak. Pun tidak ada ketakutan kalau-kalau ada orang yang benci. Menulis saja tanpa beban, menulis sesuatu yang mendatangkan manfaat bukan untuk menebar keburukan.

Bayangkan, disadari atau tanpa disadari setiap harinya tidak ada waktu yang kita lewati tanpa berpikir. Nah pemikiran-pemikiran yang ada di otak kita butuh untuk “didaur ulang”. Otak juga perlu penyegaran, caranya ya dengan mentransfer full-nya beragam pemikiran melalui media tulisan, agar ide-ide baru mendapatkan tempatnya. Kalau memori penuh kan otak jadi terus-terusan hanya menampung pesan-pesan lama. Sementara pesan-pesan baru sudah antri untuk ditampung kembali. Kita juga butuh men-charger (mengisi ulang) pemikiran kita dengan pesan-pesan up to date.

Apalagi bagi mereka yang ‘doyan’ baca, biasanya akan selau saja ada ide-ide yang bermunculan. Pemikiran-pemikiran baru tadi juga butuh untuk dituangkan. Itu nantinya akan menghasilkan sebuah karya baru, kreativitas dan inovasi ! Subhanalloh, inilah rahasia mata rantai pemikiran manusia. Mestinya menjadikan manusia makhluk berpikir yang produktif, menghasilkan sesuatu yang selalu baru dan bermanfaat tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang banyak. Kalau konsep psikologinya disebut dengan aktualisasi diri, sementara dalam konsep Islam disebut dengan nafi’un li ghairihi (sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain).

Menekuni bidang menulis semestinya memang menjadikan kita juga menyukai aktivitas membaca. Jika tidak, apa yang akan kita tuangkan kedalam tulisan jika kita tidak atau jarang menstimulasinya dengan bacaan?. Dari kedua aktivitas inilah (membaca dan menulis) mata rantai munculnya pemikiran dan terciptanya ide-ide baru serta lahirnya inovasi akan terus berjalan.

Mari cintai aktivitas menulis, bukan semata-mata untuk mengejar ketenaran atau dengan motivasi ingin populer. Tapi karena Allah Swt memberikan penghargaan dan sangat memperhatikan dunia tulis menulis, jika dimanfaatkan bagi kebaikan dan motivasi saling berpesan dalam kebenaran, ketakwaan, ketaatan, dan kesabaran, QS. AL-Qalam ayat 1 (Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis). Sebagaimana aktivitas-aktivitas amal lainnya yang juga akan diminta pertanggung-jawabannya dan akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Happy write, Love write ‘n keep writing.
Seorang muslim harus lah sama baiknya dalam hal membaca & menulis (Imam Hasan Al-Banna).

Entry filed under: Menulis. Tags: .

Perempuan Dan Menulis Model Muslimah Ideal

2 Komentar Add your own

  • 1. ahya  |  Juni 15, 2010 pukul 7:32 pm

    ass.wr.wb
    umi sayangku, ahya juga terus menulis dan menulis cuman banyak yg belum diketik dan dipublish. masih di diary.
    doain biar ahya bisa jadi penulis yg menghasilkan buku seperti umi.
    amiin

    Balas
  • 2. rahmadona  |  Juni 26, 2010 pukul 6:02 pm

    alaikumsalam.
    ya sayang, umi baca tulisan ahya juga bagus, teruslah menulis yaa…insyaAllah harapan ahya akan tercapai jika ahya terus berusaha, amiin.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2010
S S R K J S M
« Apr   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: