Sang Kolektor

April 25, 2011 at 9:12 pm 1 komentar

Ditulis oleh: Rahmadona Fitria

Apakah kamu sangat ahli dalam menandai setiap peristiwa dalam hidupmu? atau seorang kolektor penanda setiap peistiwa. Peristiwa manakah yang kamu tandai, menyakitkan atau yang memberdayakan? Hmmm, kisah berikut bisa menjadi sebuah pertimbangan dalam menandai suatu peristiwa. Kisah tentang batu, saya temukan di HIPNOTIS.NET (judulnya: batu penanda).
Begini kisahnya;

Seorang pengelana terdampar di sebuah sabana yang gersang. Kakinya terus melangkah, berharap menemukan pemukiman penduduk yang kiranya dapat memberinya seteguk air untuk pengobat rasa hausnya setelah berjalan seharian di bawah terik matahari.

Akhirnya iapun tiba di suatu perkampungan kumuh, dan ia mendatangi salah sebuah rumah, berharap dapat diberikan air minum untuk sekedar pelepas dahaga.

Tetapi apa yang terjadi ? Ia justru disambut dengan hardikan yang sangat menyakitkan hati : “Sana, sana pergi, kami tidak berurusan dengan pengemis gembel macam kamu !”.

Sang pengelana terhenyak dan benar-benar tersakiti hatinya, ia segera bergegas meninggalkan perkampungan itu, bahkan sesaat melupakan rasa haus yang ada. Dengan hati yang sakit, ia berkata dalam hati : “Aku benar-benar sakit hati terhadap penduduk kampung ini, aku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini !”, setelah itu Sang Pengelana-pun memungut sebuah batu berukuran 2 kepalan orang dewasa, dan iapun berkata : “Batu ini adalah pengingat terhadap peristiwa yang menyakitkan ini !”

Sang pengelana melanjutkan perjalanan dengan rasa haus yang semakin menjadi, dan iapun membawa batu yang telah dibuatnya sebagai pengingat peristiwa yang menyakitkan ini. Sesekali ia beristirahat, dan ia kerap memandangi batu pengingat ini.

***

Tidak beberapa lama tibalah dia di perkampungan berikutnya. Kali ini sebuah perkampungan yang asri, menandakan para penduduknya berkecukupan. Sang Pengelana memberanikan diri untuk meminta air minum ke salah satu penduduk, dan apa yang terjadi ? Ia tidak saja diberikan air minum, tetapi bahkan diberikan makanan yang sangat lezat.

Ketika ia tengah menyantap makanan yang diberikan, tiba-tiba matanya tertuju kepada beberapa orang yang tengah berbisik-bisik dengan pandangan mencurigakan yang ditujukan ke dirinya. Ia berusaha keras untuk menangkap pembicaraan itu, dan akhirnya lamat-lamat ia mendengar mereka berkata : “Dasar orang miskin, diberi makanan sisa saja sudah senang sekali !”.

Dan iapun kembali terhenyak, lalu seketika itu juga ia menghentikan makannya, lalu bergegegas minta diri, sambil berbasa-basi mengucapkan terima kasih.

Sang pengelana kembali melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sangat pedih. Iapun mencari batu untuk penanda kesedihannya kali ini. Bahkan karena ia menganggap bahwa peristiwa yang baru saja terjadi ini jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya, ia memutuskan untuk menandainya dengan 2 buah batu dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari batu sebelumnya. Sambil memandang batu-batu tersebut ia mengatakan : “Aku akan selalu mengingat penghinaan yang aku terima pada hari ini !”.

***

Sang Pengelana kembali melanjutkan perjalanannya, tentu saja dengan beban yang lebih berat, karena selain memanggul bekal perjalanannya iapun mengangkut beban tambahan yaitu 3 buah batu “penanda dendam” yang kini dianggapnya sebagai barangnya yang sangat berharga. Dan ketika kelelahan kembali menyapa, iapun memutuskan untuk sejenak beristirahat tidur di bawah sebuah pohon yang rindang.

Selang beberapa jam kemudian Sang Pengelana terbangun dari tidurnya. Akan tetapi betapa terkejutnya ketika ia melihat perbekalannya ternyata telah hilang lenyap, dan yang tersisa hanyalah 3 buah batu penanda dan tas perbekalan yang telah kosong.

Kali ini Sang Pengelana benar-benar marah dan mengutuki peristiwa sial ini. Iapun berteriak : “Tidak adil ! Sangat tidak adil ! Kenapa aku demikian menderitanya !”. Lalu iapun mencari batu baru sebagai pengingat peristiwa yang sangat menyakitkan ini. Bahkan kali ini ia memutuskan untuk menandai peristiwa ini dengan 5 buah batu dengan ukuran sedikit lebih besar dari batu-batu penanda sebelumnya.

***

Waktu terus berlalu, Sang Pengelana mulai berjalan tertatih-tatih, karena kemanapun ia pergi ia selalu membawa beban tambahan yaitu batu-batu penanda dendam yang semakin lama semakin banyak, sejalan dengan berbagai peristiwa buruk yang ditemuinya.

Setiap pagi, sebelum Sang Pengelana melanjutkan perjalanannya, ia selalu menyempatkan diri untuk membersihkan dan menggosok batu-batu koleksinya dan memandangi batu-batu tersebut, yang saat ini sepertinya telah menjadi hartanya yang sangat berharga, yang perlu dijaga agar ia tetap dapat mengingat seluruh peristiwa-peristiwa menyakitkan yang telah dilaluinya.

***

Hari berganti hari. Sang Pengelana semakin lelah, semakin renta, semakin perlahan berjalan bahkan mulai sering terjatuh. Dan di suatu senja yang seharusnya indah bagi orang-orang yang mensyukuri kehidupan, tampak sosok tua yang tergeletak di tanah, yang kini tidak lagi dapat melanjutkan perjalanannya karena ia telah menghadap Sang Khalik. Sang Pengelana tua telah mati, dengan memeluk erat batu-batu berharganya !

***

Apakah kitapun memiliki koleksi batu-batu penanda ?

Merasa seperti kisah diatas? well, sebaiknya kita mulai merubah diri. Memilih memiliki koleksi batu-batu penanda yang memberatkan kehidupan atau memilih untuk mulai berlapang dada, mensyukuri kehidupan yang dijalani, dan fokus pada hal-hal yang memberdayakan? Daripada menggosok koleksi batu-batu penanda dan mengingat berbagai peristiwa yang menyakitkan, lebih baik ganti koleksi penandamu sekarang juga!!

Entry filed under: Menulis. Tags: .

Kantong Plastik Kebencian Terapi Musik pada peradaban Islam

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: