Tak Lagi Horor

Mei 17, 2011 at 2:27 pm Tinggalkan komentar

Oleh: Rahmadona Fitria

Membaca sebuah buku mengingatkanku pada pengalaman mengarungi kehidupan rumah tangga kami. Bagaimana kami mempertemukan cita-cita dan persepsi yang berbeda dengan proses yang cukup berliku, dan sekarang 10 tahun sudah usia pernikahan kami. Seingatku kami juga pernah mengalami yang namanya perjuangan mempertemukan antara idealisme masing-masing, bergelut dengan idealisme pribadi, berusaha mencari titik temu antara yang ‘profan’ (duniawi) dan ‘transenden’ (melangit), (mencontoh istilah yang digunakan dalam buku Rumah Penuh Cinta).

Pengalaman berumah tangga yang kuawali diusia 22 tahun dan suami usia 23 tahun. Tidak ada keinginan lain ketika itu selain mendambakan sebuah hubungan yang halal di hadapan Allah Swt. Diluar motivasi itu siapakah yang bisa menolak apa yang sudah ditakdirkan Allah Swt untuknya, bukankah umur,rezeki, dan jodoh Allah lah yang mengaturnya? Allah Swt menghendaki aku bertemu dengan jodohku justru ketika aku bertekad untuk serius konsentrasi menuntut ilmu sebagai salah satu baktiku kepada kedua orangtua.

Tidak ada yang salah dengan konsep pernikahan dini dalam Islam. Kesalahan seringkali justru berasal dari pelakunya. Niat harus benar karena Allah Swt, tentu dengan memenuhi kriteria kebenaran niat itu menurut nilai-nilai Islam bukan sekedar beralasan niat menikah muda karena Allah. Kebenaran niat ini tentu terlihat dari bagaimana kita menjalaninya. Kalau terjadi konflik itu wajar, tapi kalau sudah sampai pada penyimpangan seperti KDRT kemudian terjadi perceraian yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, ‘there’s something wrong’ dengan pelakunya. Jangan mengkambing-hitamkan pernikahan dini-nya. Pernikahan dini yang didasari dengan kebenaran dan kejujuran niat karena Allah Swt, insyaAllah Dia yang akan menjaga dan membimbing pelakunya dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Sebagaimana pengalaman pribadi, konsekuensi dari pernikahan dini adalah bermunculannya beragam pernak pernik permasalahan yang mesti dihadapi dan diselesaikan. Aku pun terjun menghadapi kenyataan hidup di usia yang mestinya masih asyik dengan idealitas pribadi. Maka terjadilah yang namanya membenturkan idealitas dengan realitas.

Aku yang tadinya bisa mencapai nilai-nilai akademis yang membanggakan, mulai terganggu kosentrasi dengan berbagai problematika yang kuhadapi. Puncaknya saat aku mendapatkan nilai D pada salah satu mata kuliah, aku yang perfeksionis langsung ‘down’. Konsentrasiku mulai beralih hanya pada permasalahan yang kuhadapi, jasadku ada di ruang kuliah tapi pikiranku terus disibukkan dengan memikirkan masalah yang kuhadapi.

Problem terus bermunculan, konflik yang terjadi topiknya selalu sama. Kami terus berproses untuk saling mengerti saling memahami dan itu berlangsung hingga 7 tahun usia pernikahan kami. Pencarian formula pengertian, mencari titik temu persepsi yang berbeda akhirnya kami peroleh dalam 3 tahun terakhir.

Begitulah, sebuah hubungan yang harmonis bukan berarti sepi dari perbedaan pendapat. Suamiku pernah berkata suatu ketika, katanya “dek, ingat ya…ketika kita berbeda pendapat, atau berselisih, atau bertengkar karena sesuatu…bukan berarti aku tidak sayang, aku tetap mencintaimu”. Suamiku sudah menemukan formula yang tepat untuk menterjemahkan tatap matanya, senyumnya, penerimaannya, penolakannya, dan kasih sayangnya. Berkonflik tidak lagi jadi hal yang horor buat kami, itu adalah salah satu cara kita mendialogkan sesuatu. Aku mendialogkan karakterku dan ia mendialogkan karakternya. Cinta itu tetap ada di ruang hati kami, dan semoga tetap terjaga selamanya,amin ya Robb.

Entry filed under: Menulis. Tags: .

Menyanyi, Terapi Murah & Menyenangkan Ukuran sebuah Nyali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: