Ukuran sebuah Nyali

Mei 17, 2011 at 2:34 pm Tinggalkan komentar

Oleh: Rahmadona Fitria


Sebuah ungkapan mengatakan, di balik sukses besar selalu ada resiko besar yang menuntut keberanian besar untuk menghadapinya. Ketika aku membaca buku : Meng-install Nyali, anakku bertanya nyali itu apa sih mi ?. Kalau dari buku meng-install nyali yang ditulis oleh Bambang Trim, aku memahami nyali itu sebagai sebuah gambaran ukuran keberanian. Seringkali dalam menjalani kehidupan, kita dihadapkan pada situasi yang menguji nyali, berani atau tidak ?.

Menurut Masrukhul Amri (penulis buku best seller: Hidup untuk Hidup dan 99 Seni Hidup Produktif), keberanian adalah ketakutan yang terukur sedangkan ketakutan adalah keberanian yang tidak terukur. Dengan kata lain ketakutan yang terukur adalah suatu kondisi dimana ketika seseorang takut, ia tetap bertindak sehingga dengan tindakannya itu ia memperoleh dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Apapun hasil yang diperolehnya ketakutannya tadi sudah berubah menjadi keberanian (ketakutan yang terukur), yaitu keberanian untuk bertindak.

Memang tidak mudah mengubah ketakutan menjadi sebuah keberanian (ketakutan yang terukur). Perasaan takut pada diri manusia itu manusiawi, karena setiap manusia dibekali oleh Allah Swt dengan rasa takut untuk membuat seseorang menahan diri dari melakukan kesalahan dan mempertahankan diri dari hal yang membahayakan. Semuanya tergantung pada bagaimana kita mensikapinya. Hidup ini penuh dengan kepastian dan selalu ada hasil dari suatu tindakan, maka “just do it”. Tentu pada hal-hal yang positif yaa…keberanian untuk meraih sesuatu yang bermanfaat, keberanian untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik , suatu tindakan yang akan memperbaiki kualitas hidup kita.

Seseorang yang ingin menikah, sebenarnya takut juga. Takut karena masih muda, masih kuliah, belum punya pekerjaan, takut ditolak, takut bagaimana tanggapan orangtua, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Tapi dalam kondisi demikian ketika keinginan untuk menikah tetap diwujudkan, keberanian yang tidak terukur alias ketakutan tadi berubah ujud menjadi ketakutan yang terukur alias keberanian. Menikah akan membuat kita menjadi kaya…paling tidak kaya akan pengalaman hidup. Minimal kaya dengan masalah, he..he..he..tapi bukan persoalan besar kan ketika kekayaan masalah tadi berbanding lurus dengan pertambahan pengetahuan tentang “problem solving”.

Bagaimana dengan keberanian yang tidak terukur ?. Kita tentu pernah kan dihadapkan pada sebuah problematika kehidupan yang menguji kita untuk tetap takut atau memilih memenangkannya. Seseorang yang bisa mengendarai motor tapi takut mengendarai motor di jalan besar atau jalan raya. Suatu ketika ia berada pada situasi yang menuntutnya untuk memenuhi keperluannya dengan berkendara melalui jalan raya. Kemudian dengan menguatkan hati dan melawan ketakutannya…akhirnya dengan penuh takjub tidak percaya ia menyadari dirinya sudah berada diantara banyak motor, mobil, dan bis di jalan raya. Kegagalan atau keberhasilan itu pasti, memenangkannya adalah pilihan !…Subhanallah.

Ketakutan untuk berada pada situasi dan tempat yang pernah menorehkan kenangan tidak menyenangkan di masa lalu, adalah rasa takut yang terbentuk dari pengalaman hidup kita, pengalaman masa silam, dari respon orang-orang terdekat kita terhadap perilaku kita. Tetapi kita bisa melawannya dengan menciptakan cinta, indah bukan ?

Ada juga sebagian orang yang sulit untuk keluar dari kondisi ketakutannya sehingga tetap berada pada sisi ketakutan tidak terukur. Misalnya seseorang ingin belajar mengendarai motor tapi ia mengalami rasa takut (takut jatuh, takut terluka, takut menabrak, takut kecelakaan, dan lain sebagainya). Ketika ia membiarkan dirinya dikuasai rasa takut, keinginannya untuk bisa mengendarai motor sekedar menjadi impian dan ia tidak akan pernah bisa mengendarai motor.

Prinsip “just do it” atau tindakan, kebergantungan hanya kepada Allah Swt, keyakinan akan pertolongan-Nya, dan mengharapkan penilaian terbaik dari-Nya sehingga membuahkan balasan kesuksesan dunia akhirat, insyaAllah adalah potensi positif yang akan membantu kita mengatasi ketakutan yang tidak terukur menjadi sebuah keberanian. Berani menilai kelebihan dan kekurangan diri, berani hidup mandiri, berani berkarya atau berkreasi dan berinovasi, berani mencoba, berani bangkit, berani mengubah keadaan, berani istiqomah, berani berikhtiar dan berdoa memohon kepada Allah, berani bersabar, berani bersyukur…dan keberanian-keberanian positif lainnya. Amin ya Robb.

Entry filed under: Menulis. Tags: .

Tak Lagi Horor Beautiful Mind

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

Mei 2011
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: