Posts filed under ‘Menulis’

Profesi Impian

Oleh: Rahmadona Fitria

dream big oriflame

Sebagian dari kita mungkin meanggap bahwa profesi penulis itu yaa penulis buku, atau penulis novel, atau penulis artikel, hanya itu. Ternyata ada jenis bidang profesi lainnya yang bisa ditekuni oleh seorang penulis, seperti penulis skenario dan copywriter. Nah tergantung masing-masing orang yaa mau menekuni bidang mana yang sesuai dengan pilihan dan kepribadiannya. Sebagai salah satu anggota komunitas penulis, aku sendiri sudah pernah menghasilkan satu karya buku “Menjadikan Anak Penyejuk Hati” penerbitnya Java Publishing Jogja.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku sudah menyelesaikan calon buku keduaku, mengerjakan calon buku ketiga…kemudian tiba-tiba aku ingin punya karya yang tidak hanya berupa buku namun juga majalah. Jadi aku pengen mendisain tulisan keduaku dalam wujud majalah, tapi terhenti karena dalam pengerjaannya butuh waktu, konsentrasi yang maksimal, dan aku belum punya tim.

O iya sebelumnya aku sempat terobsesi untuk menekuni profesi copywriter, aku ingin mengembangkan kreativitas kemampuan menulisku dan mencicipi profesi lain dibidang menulis. Profesi copywriter itu adalah penulis naskah dengan tujuan untuk meningkatkan penjualan ataupun pemasaran yang bergerak dibidang periklanan. Bisa dikatakan profesi ini adalah urat nadi dari suatu produk atau jasa. Ketika mengenal profesi ini, aku seperti menemukan sebuah profesi yang klik untuk menampung potensi menulisku, serasa menemukan sesuatu yang kucari, sesuatu yang tepat untukku. Dan impian itu hampir terwujud, menjadi copywriter di sebuah perusahaan penerbitan harian umum, namun karena tidak mengantongi izin untuk bekerja kantoran, akhirnya aku berdamai dengan egoku.

Impian itu tetap saja membayangi, dibumbui dengan keinginan untuk mandiri finansial karena terpola dalam keluarga yang ibuku juga bekerja. Sampai pada titik dimana aku mencari sebuah profesi aktualisasi yang sejalan dengan kebutuhan untuk tetap bisa berprestasi, berkarya, berkarir, sesuai dengan potensi dan minatku tentunya, tapi tidak perlu ngantor diluar rumah. Aku butuh satu profesi yang mencakup semua kebutuhan tersebut, daaan Allah swt menghadiahi aku sebuah profesi itu. Alhamdulillah, sekarang aku siap untuk konsisten disini insyaAllah…apakah profesi itu? profesi tersebut adalah independent consultant oriflame 😀

Iklan

Maret 14, 2014 at 5:33 pm Tinggalkan komentar

Curhatku

Studi oh studi…2 tahun ini umur tergadai untuk menyelesaikan sesuatu yang tertunda. sesuatu banget lah pokoknya^_^ haaahh, kangen keluarga; suami dan anak-anak,kangen suasana rumah, kangen bisnis yang sementara off. Ya robbi, hanya dengan kekuatan dariMu saja yang mampu membuatku bertahan sampai saat ini…

Kalau ditanya adek-adek tingkat angkatan tahun berapa dan kujawab, mereka semua senyum-senyum gak percaya…hahaha tobat lah rasanya, cukup sudah merasakan status sebagai anak kuliahan dengan kondisi sudah berumah tangga. Bukan apa-apa sih, aku tuh gak bisa jauh dan pencinta keluarga, hehe..kompensasi yaa,,

Setelah menikah bertubi-tubi tersadarkan tentang beginilah kenyataan hidup yang sebenarnya, bahwa hidup gak selalu mulus, gak selalu sesuai dengan harapan, banyak masalah yang mesti dihadapi dan diselesaikan..huuuff terlalu lama menghindari tantangan dan berada di zona aman bikin hidupku saat ini benar-benar terasa habis-habisan berjuang dari satu masalah ke masalah lainnya.

Gak ada selesai selesainya, selesai satu urusan belum juga bisa bernafas lega sudah dihadapkan dengan urusan dan masalah yang lainnya. ya Allah, berikan hamba kekuatan. Tapi keadaan seperti ini membuatku belajar bahwa dengan menghadapinya akan mengantarkan kita pada penyelesaian.

Dan sekarang aku sedang berjuang melewati tahap demi tahap penyelesaian studiku, ada harapan untuk berkumpul lagi dengan keluarga menunggu di depanku, menjalankan lagi bisnisku…semua bayangan itu membuatku bersemangat lagi, mengisi kembali energi untuk jiwaku…Bismillah, mampukan dan mudahkan mengakhiri urusan ini ya Robb, amiiin….

Oktober 15, 2011 at 7:17 am 2 komentar

Ukuran sebuah Nyali

Oleh: Rahmadona Fitria


Sebuah ungkapan mengatakan, di balik sukses besar selalu ada resiko besar yang menuntut keberanian besar untuk menghadapinya. Ketika aku membaca buku : Meng-install Nyali, anakku bertanya nyali itu apa sih mi ?. Kalau dari buku meng-install nyali yang ditulis oleh Bambang Trim, aku memahami nyali itu sebagai sebuah gambaran ukuran keberanian. Seringkali dalam menjalani kehidupan, kita dihadapkan pada situasi yang menguji nyali, berani atau tidak ?.

Menurut Masrukhul Amri (penulis buku best seller: Hidup untuk Hidup dan 99 Seni Hidup Produktif), keberanian adalah ketakutan yang terukur sedangkan ketakutan adalah keberanian yang tidak terukur. Dengan kata lain ketakutan yang terukur adalah suatu kondisi dimana ketika seseorang takut, ia tetap bertindak sehingga dengan tindakannya itu ia memperoleh dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Apapun hasil yang diperolehnya ketakutannya tadi sudah berubah menjadi keberanian (ketakutan yang terukur), yaitu keberanian untuk bertindak.

Memang tidak mudah mengubah ketakutan menjadi sebuah keberanian (ketakutan yang terukur). Perasaan takut pada diri manusia itu manusiawi, karena setiap manusia dibekali oleh Allah Swt dengan rasa takut untuk membuat seseorang menahan diri dari melakukan kesalahan dan mempertahankan diri dari hal yang membahayakan. Semuanya tergantung pada bagaimana kita mensikapinya. Hidup ini penuh dengan kepastian dan selalu ada hasil dari suatu tindakan, maka “just do it”. Tentu pada hal-hal yang positif yaa…keberanian untuk meraih sesuatu yang bermanfaat, keberanian untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik , suatu tindakan yang akan memperbaiki kualitas hidup kita.

Seseorang yang ingin menikah, sebenarnya takut juga. Takut karena masih muda, masih kuliah, belum punya pekerjaan, takut ditolak, takut bagaimana tanggapan orangtua, dan ketakutan-ketakutan lainnya. Tapi dalam kondisi demikian ketika keinginan untuk menikah tetap diwujudkan, keberanian yang tidak terukur alias ketakutan tadi berubah ujud menjadi ketakutan yang terukur alias keberanian. Menikah akan membuat kita menjadi kaya…paling tidak kaya akan pengalaman hidup. Minimal kaya dengan masalah, he..he..he..tapi bukan persoalan besar kan ketika kekayaan masalah tadi berbanding lurus dengan pertambahan pengetahuan tentang “problem solving”.

Bagaimana dengan keberanian yang tidak terukur ?. Kita tentu pernah kan dihadapkan pada sebuah problematika kehidupan yang menguji kita untuk tetap takut atau memilih memenangkannya. Seseorang yang bisa mengendarai motor tapi takut mengendarai motor di jalan besar atau jalan raya. Suatu ketika ia berada pada situasi yang menuntutnya untuk memenuhi keperluannya dengan berkendara melalui jalan raya. Kemudian dengan menguatkan hati dan melawan ketakutannya…akhirnya dengan penuh takjub tidak percaya ia menyadari dirinya sudah berada diantara banyak motor, mobil, dan bis di jalan raya. Kegagalan atau keberhasilan itu pasti, memenangkannya adalah pilihan !…Subhanallah.

Ketakutan untuk berada pada situasi dan tempat yang pernah menorehkan kenangan tidak menyenangkan di masa lalu, adalah rasa takut yang terbentuk dari pengalaman hidup kita, pengalaman masa silam, dari respon orang-orang terdekat kita terhadap perilaku kita. Tetapi kita bisa melawannya dengan menciptakan cinta, indah bukan ?

Ada juga sebagian orang yang sulit untuk keluar dari kondisi ketakutannya sehingga tetap berada pada sisi ketakutan tidak terukur. Misalnya seseorang ingin belajar mengendarai motor tapi ia mengalami rasa takut (takut jatuh, takut terluka, takut menabrak, takut kecelakaan, dan lain sebagainya). Ketika ia membiarkan dirinya dikuasai rasa takut, keinginannya untuk bisa mengendarai motor sekedar menjadi impian dan ia tidak akan pernah bisa mengendarai motor.

Prinsip “just do it” atau tindakan, kebergantungan hanya kepada Allah Swt, keyakinan akan pertolongan-Nya, dan mengharapkan penilaian terbaik dari-Nya sehingga membuahkan balasan kesuksesan dunia akhirat, insyaAllah adalah potensi positif yang akan membantu kita mengatasi ketakutan yang tidak terukur menjadi sebuah keberanian. Berani menilai kelebihan dan kekurangan diri, berani hidup mandiri, berani berkarya atau berkreasi dan berinovasi, berani mencoba, berani bangkit, berani mengubah keadaan, berani istiqomah, berani berikhtiar dan berdoa memohon kepada Allah, berani bersabar, berani bersyukur…dan keberanian-keberanian positif lainnya. Amin ya Robb.

Mei 17, 2011 at 2:34 pm Tinggalkan komentar

Tak Lagi Horor

Oleh: Rahmadona Fitria

Membaca sebuah buku mengingatkanku pada pengalaman mengarungi kehidupan rumah tangga kami. Bagaimana kami mempertemukan cita-cita dan persepsi yang berbeda dengan proses yang cukup berliku, dan sekarang 10 tahun sudah usia pernikahan kami. Seingatku kami juga pernah mengalami yang namanya perjuangan mempertemukan antara idealisme masing-masing, bergelut dengan idealisme pribadi, berusaha mencari titik temu antara yang ‘profan’ (duniawi) dan ‘transenden’ (melangit), (mencontoh istilah yang digunakan dalam buku Rumah Penuh Cinta).

Pengalaman berumah tangga yang kuawali diusia 22 tahun dan suami usia 23 tahun. Tidak ada keinginan lain ketika itu selain mendambakan sebuah hubungan yang halal di hadapan Allah Swt. Diluar motivasi itu siapakah yang bisa menolak apa yang sudah ditakdirkan Allah Swt untuknya, bukankah umur,rezeki, dan jodoh Allah lah yang mengaturnya? Allah Swt menghendaki aku bertemu dengan jodohku justru ketika aku bertekad untuk serius konsentrasi menuntut ilmu sebagai salah satu baktiku kepada kedua orangtua.

Tidak ada yang salah dengan konsep pernikahan dini dalam Islam. Kesalahan seringkali justru berasal dari pelakunya. Niat harus benar karena Allah Swt, tentu dengan memenuhi kriteria kebenaran niat itu menurut nilai-nilai Islam bukan sekedar beralasan niat menikah muda karena Allah. Kebenaran niat ini tentu terlihat dari bagaimana kita menjalaninya. Kalau terjadi konflik itu wajar, tapi kalau sudah sampai pada penyimpangan seperti KDRT kemudian terjadi perceraian yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, ‘there’s something wrong’ dengan pelakunya. Jangan mengkambing-hitamkan pernikahan dini-nya. Pernikahan dini yang didasari dengan kebenaran dan kejujuran niat karena Allah Swt, insyaAllah Dia yang akan menjaga dan membimbing pelakunya dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Sebagaimana pengalaman pribadi, konsekuensi dari pernikahan dini adalah bermunculannya beragam pernak pernik permasalahan yang mesti dihadapi dan diselesaikan. Aku pun terjun menghadapi kenyataan hidup di usia yang mestinya masih asyik dengan idealitas pribadi. Maka terjadilah yang namanya membenturkan idealitas dengan realitas.

Aku yang tadinya bisa mencapai nilai-nilai akademis yang membanggakan, mulai terganggu kosentrasi dengan berbagai problematika yang kuhadapi. Puncaknya saat aku mendapatkan nilai D pada salah satu mata kuliah, aku yang perfeksionis langsung ‘down’. Konsentrasiku mulai beralih hanya pada permasalahan yang kuhadapi, jasadku ada di ruang kuliah tapi pikiranku terus disibukkan dengan memikirkan masalah yang kuhadapi.

Problem terus bermunculan, konflik yang terjadi topiknya selalu sama. Kami terus berproses untuk saling mengerti saling memahami dan itu berlangsung hingga 7 tahun usia pernikahan kami. Pencarian formula pengertian, mencari titik temu persepsi yang berbeda akhirnya kami peroleh dalam 3 tahun terakhir.

Begitulah, sebuah hubungan yang harmonis bukan berarti sepi dari perbedaan pendapat. Suamiku pernah berkata suatu ketika, katanya “dek, ingat ya…ketika kita berbeda pendapat, atau berselisih, atau bertengkar karena sesuatu…bukan berarti aku tidak sayang, aku tetap mencintaimu”. Suamiku sudah menemukan formula yang tepat untuk menterjemahkan tatap matanya, senyumnya, penerimaannya, penolakannya, dan kasih sayangnya. Berkonflik tidak lagi jadi hal yang horor buat kami, itu adalah salah satu cara kita mendialogkan sesuatu. Aku mendialogkan karakterku dan ia mendialogkan karakternya. Cinta itu tetap ada di ruang hati kami, dan semoga tetap terjaga selamanya,amin ya Robb.

Mei 17, 2011 at 2:27 pm Tinggalkan komentar

Sang Kolektor

Ditulis oleh: Rahmadona Fitria

Apakah kamu sangat ahli dalam menandai setiap peristiwa dalam hidupmu? atau seorang kolektor penanda setiap peistiwa. Peristiwa manakah yang kamu tandai, menyakitkan atau yang memberdayakan? Hmmm, kisah berikut bisa menjadi sebuah pertimbangan dalam menandai suatu peristiwa. Kisah tentang batu, saya temukan di HIPNOTIS.NET (judulnya: batu penanda).
Begini kisahnya;

Seorang pengelana terdampar di sebuah sabana yang gersang. Kakinya terus melangkah, berharap menemukan pemukiman penduduk yang kiranya dapat memberinya seteguk air untuk pengobat rasa hausnya setelah berjalan seharian di bawah terik matahari.

Akhirnya iapun tiba di suatu perkampungan kumuh, dan ia mendatangi salah sebuah rumah, berharap dapat diberikan air minum untuk sekedar pelepas dahaga.

Tetapi apa yang terjadi ? Ia justru disambut dengan hardikan yang sangat menyakitkan hati : “Sana, sana pergi, kami tidak berurusan dengan pengemis gembel macam kamu !”.

Sang pengelana terhenyak dan benar-benar tersakiti hatinya, ia segera bergegas meninggalkan perkampungan itu, bahkan sesaat melupakan rasa haus yang ada. Dengan hati yang sakit, ia berkata dalam hati : “Aku benar-benar sakit hati terhadap penduduk kampung ini, aku tidak akan pernah melupakan penghinaan ini !”, setelah itu Sang Pengelana-pun memungut sebuah batu berukuran 2 kepalan orang dewasa, dan iapun berkata : “Batu ini adalah pengingat terhadap peristiwa yang menyakitkan ini !”

Sang pengelana melanjutkan perjalanan dengan rasa haus yang semakin menjadi, dan iapun membawa batu yang telah dibuatnya sebagai pengingat peristiwa yang menyakitkan ini. Sesekali ia beristirahat, dan ia kerap memandangi batu pengingat ini.

***

Tidak beberapa lama tibalah dia di perkampungan berikutnya. Kali ini sebuah perkampungan yang asri, menandakan para penduduknya berkecukupan. Sang Pengelana memberanikan diri untuk meminta air minum ke salah satu penduduk, dan apa yang terjadi ? Ia tidak saja diberikan air minum, tetapi bahkan diberikan makanan yang sangat lezat.

Ketika ia tengah menyantap makanan yang diberikan, tiba-tiba matanya tertuju kepada beberapa orang yang tengah berbisik-bisik dengan pandangan mencurigakan yang ditujukan ke dirinya. Ia berusaha keras untuk menangkap pembicaraan itu, dan akhirnya lamat-lamat ia mendengar mereka berkata : “Dasar orang miskin, diberi makanan sisa saja sudah senang sekali !”.

Dan iapun kembali terhenyak, lalu seketika itu juga ia menghentikan makannya, lalu bergegegas minta diri, sambil berbasa-basi mengucapkan terima kasih.

Sang pengelana kembali melanjutkan perjalanannya dengan hati yang sangat pedih. Iapun mencari batu untuk penanda kesedihannya kali ini. Bahkan karena ia menganggap bahwa peristiwa yang baru saja terjadi ini jauh lebih menyakitkan daripada sebelumnya, ia memutuskan untuk menandainya dengan 2 buah batu dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari batu sebelumnya. Sambil memandang batu-batu tersebut ia mengatakan : “Aku akan selalu mengingat penghinaan yang aku terima pada hari ini !”.

***

Sang Pengelana kembali melanjutkan perjalanannya, tentu saja dengan beban yang lebih berat, karena selain memanggul bekal perjalanannya iapun mengangkut beban tambahan yaitu 3 buah batu “penanda dendam” yang kini dianggapnya sebagai barangnya yang sangat berharga. Dan ketika kelelahan kembali menyapa, iapun memutuskan untuk sejenak beristirahat tidur di bawah sebuah pohon yang rindang.

Selang beberapa jam kemudian Sang Pengelana terbangun dari tidurnya. Akan tetapi betapa terkejutnya ketika ia melihat perbekalannya ternyata telah hilang lenyap, dan yang tersisa hanyalah 3 buah batu penanda dan tas perbekalan yang telah kosong.

Kali ini Sang Pengelana benar-benar marah dan mengutuki peristiwa sial ini. Iapun berteriak : “Tidak adil ! Sangat tidak adil ! Kenapa aku demikian menderitanya !”. Lalu iapun mencari batu baru sebagai pengingat peristiwa yang sangat menyakitkan ini. Bahkan kali ini ia memutuskan untuk menandai peristiwa ini dengan 5 buah batu dengan ukuran sedikit lebih besar dari batu-batu penanda sebelumnya.

***

Waktu terus berlalu, Sang Pengelana mulai berjalan tertatih-tatih, karena kemanapun ia pergi ia selalu membawa beban tambahan yaitu batu-batu penanda dendam yang semakin lama semakin banyak, sejalan dengan berbagai peristiwa buruk yang ditemuinya.

Setiap pagi, sebelum Sang Pengelana melanjutkan perjalanannya, ia selalu menyempatkan diri untuk membersihkan dan menggosok batu-batu koleksinya dan memandangi batu-batu tersebut, yang saat ini sepertinya telah menjadi hartanya yang sangat berharga, yang perlu dijaga agar ia tetap dapat mengingat seluruh peristiwa-peristiwa menyakitkan yang telah dilaluinya.

***

Hari berganti hari. Sang Pengelana semakin lelah, semakin renta, semakin perlahan berjalan bahkan mulai sering terjatuh. Dan di suatu senja yang seharusnya indah bagi orang-orang yang mensyukuri kehidupan, tampak sosok tua yang tergeletak di tanah, yang kini tidak lagi dapat melanjutkan perjalanannya karena ia telah menghadap Sang Khalik. Sang Pengelana tua telah mati, dengan memeluk erat batu-batu berharganya !

***

Apakah kitapun memiliki koleksi batu-batu penanda ?

Merasa seperti kisah diatas? well, sebaiknya kita mulai merubah diri. Memilih memiliki koleksi batu-batu penanda yang memberatkan kehidupan atau memilih untuk mulai berlapang dada, mensyukuri kehidupan yang dijalani, dan fokus pada hal-hal yang memberdayakan? Daripada menggosok koleksi batu-batu penanda dan mengingat berbagai peristiwa yang menyakitkan, lebih baik ganti koleksi penandamu sekarang juga!!

April 25, 2011 at 9:12 pm 1 komentar

Kantong Plastik Kebencian

Ditulis oleh: Rahmadona Fitria

Ada suatu kisah menarik yang inspiratif tentang kentang, saya dapat dari rive.blog.uns.ac.id (judulnya: untuk sebuah ingatan saja…).
Saya ingin berbagi maknanya dengan para pembaca di blog ini. Begini kisahnya:

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) mengadakan “permainan”. Ibu Guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa…tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut kemanapun mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya….!!!”

Tanpa kita sadari, begitu mudahnya kita dikuasai oleh emosi negatif yaitu kebencian. Kebencian yang terus menerus menggerogoti hidup kita. Dampaknya sungguh merugikan diri sendiri, ibarat membawa kentang busuk sepanjang hidup kita. Bagaimana kita bisa tahan membawa kebusukan di dalam diri kita? padahal membiarkan barang busuk menempel dalam diri kita, berbahaya bagi kesehatan jiwa dan mental kita.

ahhh, mari berhenti merugikan diri sendiri!!!…belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Semoga kehidupan kita menjadi lebih ringan, lapang, dan menyenangkan.

April 25, 2011 at 8:44 pm 2 komentar

Tiket Kebahagiaan

Ditulis oleh: Rahmadona Fitria

Pernah denger atau baca kisah tentang istri John Maxwell (pembicara dan motivator top), Margaret?.
Begini kisahnya;

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara dan motivator top), Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan.

Seperti biasa, Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan.

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.

Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan yang ditanyakan ibu itu adalah, “Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?“

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus.

Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak.”

Seluruh ruangan langsung terkejut.

“Tidak,” katanya sekali lagi. “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.”

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya, ia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu (mungkin karena malu).

Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia..”

Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”

“Karena,” jawabnya, “tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”

Wow, kisah ini seolah membuka mata hati kita, bahwa kebahagiaan hidup tidak bisa kita dapatkan dari pasangan hidup, kesuksesan dalam karier, uang atau penghasilan, hobi, sahabat, dsb. Kebahagiaan tidak kita dapatkan dari faktor apapun diluar diri kita. Untuk mendapatkan tiket kebahagiaan hanya perlu membiarkan pikiran dan perasaan positif leluasa tumbuh berkembang membentuk diri kita. So, kendalikan lintasan-lintasan pikiran yang muncul dibenak kita.Kelola emosi agar menjadi emosi positif dan memberdayakan.

Semoga Allah Swt senantiasa membimbing kita dalam belajar dan berlatih; mengendalikan maupun mengelola emosi untuk kehidupan yang lebih bermakna dan berkualitas, amin ya Robbal alamin..

April 25, 2011 at 8:04 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kalender

Desember 2018
S S R K J S M
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Posts by Month

Posts by Category